simulasi-pemilu-kra
*Simulasi Pemungutan dan Penghitungan Suara di Karanganyar 
 
KARANGANYAR, newsreal.id. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Karanganyar menggelar simulasi pemungutan dan penghitungan suara, untuk mengetahui sejauh mana kesiapan masyarakat dan penyelenggara pemilu menjelang pemilu 17 April, Selasa (26/5). 
Hasilnya, beberapa warga yang ikut simulasi menyampaikan, bahwa surat suara yang digunakan terlalu lebar, khususnya untuk memilih DPR RI, DPRD provinsi dan kabupaten. Sehingga agak menyulitkan ketika membuka, karena tidak sepadan dengan bilik suara yang kecil. 
Selain itu, lebarnya surat suara juga menyulitkan untuk mencari nama caleg yang akan dipilih, terutama bagi pemilih lanjut usia dan penglihatannya kurang cermat.  Simulasi digelar di TPS 4 Dukuh Jetis, Dusun Cerbonan, Kelurahan/Kecamatan Karanganyar, Selasa (26/5). KPU mengundang 50 pemilih riil dari total 300 orang yang masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT), untuk mengikuti simulasi. 
Seluruh tahapan yang akan dilaksanakan pada 17 April mendatang, disimulasikan. Mulai dari pengambilan sumpah KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara), pengambilan surat suara yang masih tersegel di dalam kotak suara, pengecekan logistik, hingga proses pemungutan suara dan penhitungan suara. 
Pantauan di lokasi, dalam proses pemungutan suara, tiap pemilih rata-rata membutuhkan waktu 5 hingga 8 menit untuk untuk nyoblos lima surat suara. Rata-rata, mereka agak kesulitan saat membuka surat suara yang lebar, di bilik suara yang relatif sempit. 
Saat melipat kembali, beberapa juga menemui kesulitan. Sebab ada surat suara yang lipatannya kurang mlipit, sehingga tidak segera kembali dalam lipatannya semula, untuk kemudian dimasukkan ke dalam kotak suara. 
Bambang Samiarso, salah satu warga yang ikut simulasi mengaku, lebarnya surat suara dan tulisan yang kecil-kecil akan jadi kendala bagi yang sudah berusia paruh baya. “Kalau masih muda, penglihatannya masih jelas, gak masalah. Tapi yang sudah sepuh, surat suaranya lebar,  tulisannya kecil, calonnya banyak, ya agak repot. Harus cermat. Butuh waktu untuk mencari nama caleg yang akan dipilih,” katanya. 
 
Grusa-grusu
 
Sedangkan Sulistiani mengaku tidak ada kesulitan untuk nyoblos, meski surat suaranya lebar. “Tapi saya membayangkan, untuk orang tua di atas 50 tahun, dengan surat suara yang lebar, banyak partai, harus mencari nama caleg yang akan dipilih, akan membingungkan,” ujarnya. 
Bupati Karanganyar Juliyatmono yang mengikuti simulasi menilai, warga tidak boleh grusa-grusu saat menggunakan hak pilihnya di bilik suara. Perlu ketelitian dan kecermatan dalam memilih, serta kehati-hatian dalam membuka dan melipat kembali surat suara agar tidak sampai robek. 
“Sebab antara lebar surat suara dan ukuran bilik suara tidak sepadan. Kalau tidak hati-hati, bisa-bisa malah sobek. Untuk nyoblos, memang perlu waktu. Lima menitan. Tapi kalau mengikuti alur pencoblosan, akan lebih mudah. Misal diurutkan, dari pilpres dulu, lalu DPR RI, DPD RI, DPRD provinsi, baru DPRD kabupaten,” tuturnya. 
Komisioner KPU Karanganyar Divisi Teknis Muhammad Maksum mengatakan, hasil simulasi akan memberi gambaran pada KPU, mana hal-hal yang perlu diperbaiki, mana yang perlu disosialisasikan lebih intensif kepada masyarakat, dan sebagainya. 
“Dari simulasi ini KPU akan mendapat gambaran, misalnya berapa waktu rata-rata untuk nyoblos. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk penghitungan suara. Ini jadi masukan bagi kami, agar semua lini sudah siap dalam pemilu 17 April mendatang,” katanya.
Mengenai surat suara yang dinilai terlalu lebar dan menyulitkan bagi sebagian pemilih, Maksum mengatakan, hal itu akan diinformasikan lebih intensif ke masyarakat. Sehingga nantinya tidak ada kendala ketika masyarakat menggunakan hak suaranya di bilik suara. (Irfan Salafudin) 

Tinggalkan Pesan