*Janji Gubernur Bangun Galeri Wayang Beber

SOLO, newsreal.id – Kini sudah berjalan sekitar dua bulan upaya Mbah Ning (Hermin Istiariningsih) mendapatkan legalitas kepemilikan atas rumah yang dihuni bersama suaminya, Mbah Tris (Soetrisna), berhasil diperoleh dari Kantor BPN Solo. Upaya yang ditempuh untuk mendapatkan legaliatas tanah warisan dari RNgt Hoerip Kanoyosudarso (almh), ibunda Soetrisno itu, terpaksa dilakukan suami-istri lansia tersebut, untuk memenuhi tawaran Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang menjanjikan akan memberi bantuan renovasi rumah untuk keperluan galeri karya wayang beber sekaligus rumah tinggal di Kampung Wonosaren, Jagalan, Jebres, Solo.

La, sakniki sertifikat sampun dados. Terus pripun niki? Janjine pak Gubernur pundi? Pak Ganjar sios ajeng mbantu napa mboten? Niki entene kula mung nunggu kalih nunggu thok. Ajeng pripun-pripun kula mboten mudheng,” ujar wanita pelukis wayang beber yang kini berusia 68 itu, saat ditemui newsreal.id, pagi tadi.

Merasakan gelagat yang sulit ia mengerti, Mbah Ning selalu berusaha
menyibukkan diri menorehkan kuas-kuas kecil di kanvas yang selalu disiapkan di dekat bantal tempat tidurnya di atas bangku risban berukuran 200cmx70cm, di kamar tidur yang juga menjadi ruang tamu. Ketika dikunjungi newsreal.id, ada beberapa lembar kanvas yang secara bergantian diisi warna dasar, hanya dengan disanggga lembaran tripleks berukuran 50x50cm.

Semangatnya melukis tetap berkobar, walau tidak jelas siapa yang akan datang membeli dan kapan akan datang calon pembelinya. Terlebih,  aktivitas seorang pelukis profesional itu, selalu dilakukan walau  kondisi badannya sangat sulit dijamin bisa sehat dan segar tiap hari. Mengingat, setiap saat Mbah Ning bisa jatuh sakit akibat gangguan kadar gula tinggi dan tensi tinggi, seperti pernah membuatnya stroke ringan, sampai beberapa kali keluar-masuk rumah sakit sejak 2015.

mbah-ning-wayang-beber

Namun itulah yang dilakukan, untuk mengisi waktu sekaligus mengibur diri karena bantuan yang pernah dijanjikan kepadanya tak kunjung datang. Padahal, untuk mendapatkan sertifikat hak milik (HM) atas nama suami dan dan kedua adik suami, uang yang dikeluarkan sudah banyak, hingga terpaksa menjual lukisan sedapatnya.

”Karena rumah ini milik kami bertiga, yang prosesnya harus jauh-jauh menemui dua adik saya untuk mendapatkan kesepakatan untuk mewujudkan sertifikat HM ini. Sekarang, mana janji pak Gubernur? Itu benar-benar kepedulian pemerintah (Jateng) untuk menghargai ketokohan Mbah Ning? Apa sekedar janji-jani kosong?,” timpal Mbah Tris.

Beberapa minggu selepas kedatangan Gubernur Ganjar di rumah Mbah Ning,
Oktober 2018, tak pernah ada penjelasan sebelumnya, tiba-tiba berdatangan sejumlah kelompok orang yang mengaku peserta lomba desain rumah. Karena yang datang mengaku hendak menyusun desain rumah tinggal dan geleri lukis, Mbah Tris memaknai aktivitas itu sebagai lanjutan dari rencana Gubernur Ganjar yang akan memberi bantuan proyek pembangunan rumah tinggal dan galeri dimaksud.

Penantian Mbah Ning berawal dari peristiwa penganugerahan penghargaan dari Kemendikbud kepada dirinya sebagai maestro pelestari wayang beber, di Jakarta, akhir September 2018, tetapi tidak bisa dihadiri karena sedang sakit.Tetapi, hingga kini tidak pernah ada penjelasan lebih lanjut dari pihak manapun, begitu pula sama sekali tidak ada tanda-tanda proses untuk mewujudkan janji-janji itu.(won)

Baca : Tenun Kain Goyor Jadi Ikon Baru Sragen

Tinggalkan Pesan