figur-Muzammil-Santoso

WALAU terlahir sebagai penyandang disabilitas, bukan berarti harus menggantungkan dan beraharap banyak terhadap orang lain. Muzammil Santoso, alumni 2013 Panti Pelayanan Sosial Wanita Wanodyatama Surakarta, beranggapan, sebagai difabel harus tetap mandiri dalam menjalankan hidup.

“Tahun 2011 saya ikut saudara untuk tinggal bersama. Cukup lama bersama kakak saya, timbul keinginan untuk bisa mandiri dalam berbuat segala hal. Apalagi saya akan menjadi kepala rumah tangga kedepan, sehingga saya memutuskan hidup mandiri dan mengikuti program yang ditawarkan Dinas Sosial Pemprov Jawa Tengah melalui Pemkab Madiun untuk berlatih keterampilan tuna netra di Panti Pelayanan Sosial Wanita Wanodyatama Surakarta, Pajang, Laweyan,” kata Jamil sapaan akrabnya.

Menurutnya, menggantungkan hidup kepada orang lain memang menjadi kelemahan penyandang disabilitas. Namun, stigma tersebut harus dihilangkan lantaran manusia memiliki kelebihan lain yang bisa dilakukan selama orang tersebut mampu dan mau melakukan.
“Saya mengalami kebutaan saat menjadi pekerja bangunan di salah satu proyek di Madiun. Saat itu ada dinding yang lapuk dan menimpa saya. Namun, dari kecelakaan tersebut saya menganggap sebuah ujian dari yang kuasa. Sehingga saya harus terus menjalankan hidup dengan kekurangan yang ada, karena saya yakin ada kelebihan lain yang diberikan tuhan,” ungkap Jamil.

Pihaknya yang menimba ilmu di panti setempat sejak 2012 mendapatkan pelatihan pijat dan keterampilan tuna netra agar dapat hidup mandiri. Lulus 2013 akhir, pihaknya langsung membuka usaha panti pijat di rumah.
“Pelatihan di Panti Pelayanan ini sangat bermanfaat bagi penyandang disabilitas terutama tuna netra. Saya yakin rasa minder itu dimiliki tiap tuna netra. Tapi, jika orang tersebut yakin dan mau belajar, segala aktivitas apapun dapat dikerjakan karena sudah menguasai caranya. Sehingga rasa minder dapat dihilangkan dan tak perlu menggantungkan hidup kepada orang lain. Keahlian dalam memijat, saya jadikan peluang untuk menghidupi keluarga. Selain itu istri saya juga membuka usaha warung kelontong,” kata ayah dua anak itu.

Pihaknya mengajak teman-teman disabilitas untuk terus berusaha dan tak perlu takut untuk berkembang lebih baik. Adanya wadah yang disediakan pemerintah harus bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan keterampilan diri dan melatih skill dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. (Muhammad Ilham Baktora)

Tinggalkan Pesan