teguh-wododo-boyolali2

 

JIKA bukan karena alasan melestarikan warisan leluhurnya, Teguh Widodo bisa jadi tidak melakukan ritual bersih desa. Jika tidak karena ingin melestarikan warisan kebudayaan nenek moyangnya. Teguh pasti enggan melaksanakan metri desa yang diselenggarakan di kampung halamanya RW 12 Karanggeneng, Desa Rejosari Kecamatan Boyolali.
Sosok satu ini mengetahui bahwa, generasinya dan generasi-generasi yang akan datanglah yang bisa menjaga seni tradisi metri desa yang sudah turun temurun ini. Seperti pelaksanaan ritual ini pada Jumat pekan lalu. Dia dan warga desa lainnya wajib melaksanakan tugas ini. Karena sosok yang ramah ini paham, bahwa bersih desa sebagai bagian dari pengingat cikal bakal kampung halamannya ini wajib digelar biar generasi muda tidak lupa dengan cikal bakalnya.
Kembali staf PMI Cabang Boyolali ini membeberkan cikal bakal tentang Desa Rejosari. Berdasarkan babad yang pernah dibacanya, asal usul Dukuh Rejosari adalah awalnya merupakan perkebunan serat karena Belanda kalah dengan Jepang dalam agresi militer. Maka oleh warga menguasai tanah perkebunan milik Belanda tersebut dengan membuat batas wilayah antara Tegalsari, Doyo dan Baros.
Kemudian warga dari ketiga dukuh tersebut mendirikan Dukuh Rejosari. Dalam pringatan sewindu pada tahun 1954 oleh para leluhur mendirikan tanda dengan membuat gapura dan menanam pohon beringin.

teguh-wododo-boyolali1
“Nah dalam kegiatan bersih desa itu, kisahnya kembali diangkat ke dalam sajian ketoprak. Seluruh warga Rejosari tua muda, anak-anak melihat hiburan ketoprak ini,” paparnya.
Pria berkacamata yang sekaligus ketua RW setempat ini menuturkan, pendiri kampungnya sudah wafat. Jumlahnya ada lima orang yang benar-benar merintis padukuhan. Kakek buyutnya yang ikut merintis desa ini dan bisa rejo sampai sekarang.
“Kami bersyukur para sesepuh membangun tempat bagi anak cucunya ini. Sehingga kami sebagai generasi muda terus mengenangnya,” katanya.
Dikatakan, kegiatan bersih desa yang digelar rutin sekali setahun ini memang tidak bisa dilepaskan dari penduduk lokal. Meski serbuan kebudayaan asing menerjang desa ini, namun warganya tetap patuh dan setia nasehat para leluhur untuk menjaga cikal bakal leluhurnya. (Budi Santoso)

Tinggalkan Pesan