Solichul-Hadi-Ahmad-Bakri,
JADIKAN hal yang kamu sukai menjadi ladang rezeki. Prinsip itulah yang diajarkan oleh Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Batik (Yapertib) Surakarta Solichul Hadi Ahmad Bakri kepada para mahasiswanya yang ingin memulai berwirausaha. 
Ilmu yng diajarkannya tentu bukan isaan jempol. Sebab pria yang juga dosen Fakultas Ekonomi tersebut telah menggeluti usaha dari hal yang amat disukainya yakni kopi. “Menggeluti hal yang kita sukai sekaligus mendapat uang dari situ,  pasti kita serasa hanya menjalani hobi namun memperoleh penghasilan. Dan yang lebih menyenangkan lagi,  bisa membantu orang lain dengan membuka lapangan pekerjaan, ”  kata pria yang juga memiliki bisnis batubara selain kedai kopi yang bertahun tahun sukses dikelolanya. 
 
Ya,  Solichul sejak muda memang menggemari kopi. Ia hapal luar kepala jenis kopi dari bau atau citarasanya. 
“Sejak kuliah di ITB saya mulai benar benar belajar kenal kopi. Kalau suka kopi sejak kecil karena saya lahir di Triwindu di mana kopi jadi minumn sehari hari, ” paparnya.  
Seiring berjalannya waktu Solichul muda kemudian mendalami ilmu tentang kopi mulai daei jenisnya, cara roasting maupun metode penyeduhannya. Semakin ia mengenal kopi,  semakin ia jatuh cinta dengan minuman yang rasanya pahit itu. 
Hingga beberapa tahun silam, jauh sebelum kopi mulai ngetren di kalangan anak mida,  ia memulai usaha kedai kopi modern. 
 
Dari hal yang semula hanya hobi jika kita optimalkan bisa jadi ladang rezeki. Namun memang ada beberapa kunci supaya start up bisa eksis selalu dengan usaha yang dirintisnya. Yang pertama menurutnya adalah jeli melihat peluang . Yang kedua adalah tahan banting dan kreatif. 
Ia mengemukakan,  sudah saatnya majasiswa berpikir menjadi educated enterpreneur ketimbang berorientasi menjadi pekerja. 
“Kampus harus mendorong lulusannya menjadi seorang enterpreneur. Ini mengenai perubajan pola pikir supaya jangan hanya berorientasi mencari kerja tapi menciptakan lapangan kerja ,” paparnya. 
 
Ia mengemukakan, fakta bahwa Indonesia merupakan salah saatu negara dengan penduduk terbesar didunia tidak dapat dielakkan lagi. Akan tetapi hal tersebut tidak diiringi dengan jumlah pelaku wirausaha. Jika dihitung rasio antara jumlah pelaku usaha dengan total penduduk Indonesia hanya berada pada kisaran angka 3%. 
“Hal tersebut sangat disayangkan, mengingat potensi untuk pertumbuhan ekonomi tidak dapat dicapai. Oleh sebab itu untuk mewujudkan potensi menjadi realitas, perlu adanya aksi nyata untuk mendorong jumlah para pelaku usaha.” (Evie Kusnindya) 
 

Tinggalkan Pesan