warga-solo-jangan-golput1

SOLO,newsreal.id-Menjelang Pilpres dan Pileg 2019, Rabu (17/4), tak menutup kemungkinan sebagian orang memilih golput karena berbagai alasan. Menanggapi hal tersebut, sejumlah warga solo menggelar aksi simpatik kepada masyarakat lain agar menggunakan hak suaranya saat hari pemilihan berlangsung.
“Aksi itu kami gelar guna mengingatkan masyarakat khususnya di Solo, untuk datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) menggunakan hak suara masing-masing. Pemilu bukan sekedar mencoblos pasangan pemimpin dan calon legislatif, namun juga berkaitan dengan masa depan Indonesia lima tahun kedepan,” ujar Koordinator Aksi, Kopral Kepala (Purn) Partika Subagyo Lelono saat ditemui di Plaza Manahan, Banjarsari, Solo, Senin (15/4).
Menurutnya, sebagai Warga Negara Indonesia (WNI), harus taat dan berperan dalam memajukan Indonesia. Maka dari itu, hak suara yang mereka miliki menentukan arah perkembangan Indonesia di masa depan.
“WNI harus menggunakan hak suaranya, jangan sampai golput karena calon pemimpin yang diharapkan tidak sesuai dengan keinginannya. Oleh sebab itu, orang-orang yang nantinya akan golput harus merenung dan segera mengambil keputusan untuk memilih pada 17 April mendatang. Hal itu juga dapat disebut berkhianat karena tak berkontribusi untuk negaranya,” kata Bagyo.
Pihaknya mengajak masyarakat memilih dengan hati nuraninya. Jangan memilih karena ada unsur paksaan dan hal tertentu sebelum pemilihan digelar. Sehingga siapapun presiden yang terpilih harus terus didukung.

warga-solo-jangan-golput2
“Golput bukan keputusan yang baik untuk dipilih, maka dari itu siapapun calon presiden yang terpilih harus didukung. Menang atau kalah merupakan hal yang wajar terjadi dalam sebuah pemilihan, namun yang terpenting, sebagai masyarakat harus ikut berkontribusi pada Pemilu ini,” ungkap dia.
Aksi arak-arakan yang dilakukan di depan patung Ir Soekarano kompleks Stadion Manahan itu dilakukan dengan mengitari kawasan setempat. Sembari mengibarkan bendera merah putih dan membawa poster ajakan untuk tak golput, beberapa orang juga mengenakan pakaian keagamaan sebagai simbol persatuan dan kerukunan umat beragama. (Ilham Baktora)

Tinggalkan Pesan