edukasi-budaya

Ubah Kebijakan Pendidikan

DISKUSI kecil yang pernah berlangsung antara beberapa pengurus baru Pepadi Komisariat Daerah (Komda) Surakarta (2018-2023) dengan Kepala Dinas Kebudayaan Surakarta Kinkin Sultanul H dan stafnya di kantor dinas setempat, beberapa waktu lalu, memunculkan beberapa pernyataan yang menarik dari tuan rumah di depan para tamunya yang beraudiensi.

Salah satunya adalah sebuah penegasan tentang fakta bahwa Kota Solo memiliki aset dan potensi seni budaya yang luar biasa, yang bisa diandalkan dan diunggulkan apabila bersaing di tingkat apapun terutama secara internasional.
Kinkin Sultanul tentu memberi bandingan dalam skala lebuh luas, bahwa yang dimiliki Kota Solo itu adalah bagian dari kekayaan bangsa secara nasional, dan tetap diyakini akan unggul apabila bertanding antar bangsa-bangsa, karena terbukti adanya pengakuan Unesco terhadap keris, wayang dan batik sebagai heritage yang asli Indonesia. Dan sepanjang sejarah membuktikan, bangsa Indonesia sudah tertinggal jauh dan kalah bersaing dengan bangsa-bangsa lain dalam bidang ilmu pengetahuan dan tekonolgi (iptek), tetapi unggul di bidang budaya.
Poin-poin penting yang bisa disusun sebagai program kegiatan yang bisa dikerjasamakan antara dua lembaga itu, sangat menonjol ketika menyentuh pada kebijakan di bidang pendidikan, terutama di tingkat dasar, yang perlu diubah. Kalau selama ini ada upaya habis-habisan untuk menang dalam persaingan dan penguasaan iptek, seharusnya diubah dengan memberi porsi lebih banyak pada proses penguasaan seni budaya, sedangkan bidang iptek dikembangkan sesuai kebutuhan untuk menunjang supremasi seni budaya dalam bersaing di tingkat internasional.
”Pemkot ingin mendapatkan sumbangan saran dan kerjasama untuk penguatan konseptualnya. Karena arahnya ke sana (pengusaan seni budaya-Red). Karena kekayaan dan keuataan bangsa Indonesia di situ. Bangsa-bangsa lain sudah mengakui keunggulan kita. Seharusnya kita memperkuat seni budaya dan memenangkan persaingan dengan modal itu,” ujarnya ketika mengevaluasi program tahunan edukasi kesenian wayang kulit untuk kalangan siswa pendidikan dasar di kota.
Dinas Kebudayaan berupaya mengejar ketinggalan, karena lembaga itu baru setahunan berdiri dan bidang yang berkait dengan seni budaya sebelumnya menjadi bagian dari tugas kantor Dinas Pariwisata dan Budaya. Sebab itu, catatan kegiatan edukasi yang dimilikinya baru sebatas kegiatan siswa sekolah menonton pentas WO Sriwedari, lomba macapat antara SD, lomba dalang bocah, festival karawitan dan sebagainya.
Sampai di situ, Sekretaris Pepadi Joko Setiyobudi ganti mengemukakan pengalamannya, dari safari workshop yang pernah diadakannya di beberapa sekolah, bahkan sampai tingkat SMP, hampir semuanya tidak mengenal ikhwal seni pedalangan, walau hanya tokoh-tokoh sentral macam Bima, Arjuna, Kresna atau tokoh Panakawan. Berbagai perlengkapan pentas wayang merupakan pengetahuan dasar yang seharusnya sudah dikenal di usia anak-anak, karena merekalah calon penonton dan calon seniman yang akan melegitimasi dan jadi benteng pertahanan budaya bangsa di masa depan.
Ketua Pepadi Prof Dr Sarwanto menyambut baik ajakan Dinas Pariwisata untuk menyusun rencana program kegiatan sangat mendasar yang bisa dibiayai dengan APBD. Yaitu dimulai dengan sosialisasi yang bisa berupa workshop, dari format pengenalan dasar seni pedalangan di kalangan siswa SD, SMP dan bila memungkinkan untuk kalangan prasekolah.
”Saya berterimakasih karena TBS (Taman Budaya Surakarta) sudah mendahului dengan memberlakukan regulasi untuk tiap dalang yang pentas pakeliran di sana. Aturannya ketat. Sajian harus klasik konvensional. Tidak boleh ada bintang tamu. Tetapi inovasi sebatas sanggit lakon dan gending, diberi kelonggaran,” ujarnya.
Ketika seni budaya akan dijadikan unggulan kualitas daya saing bangsa, tentu ada kebijakan yang bisa bergerak dua arah, tetapi antara keduanya bersinergi. Posisi ilmu pengetahuan dan teknologi, cukup dimanfaatkan untuk membantu mendorong budaya menjadi potensi unggulan agar kuat dan menguntungkan bangsa dan negara.
Yang mengarah ke luar tentu harus diperkuat dengan kebijakan-kebijakan yang memberi peluang dan kemudahan untuk memperkenalkan, promo dan memasarkan dengan baik potensi seni budaya itu. Sedangkan yang ke dalam, tentu mendorong dan memfasilitasi penguatan potensi seni budaya, mulai dari tingkat pelaksaan maupun di sektor kebijakan di dunia pendidikan dan potensi-potensi heritage seperti kekayaan budaya yang dipancarkan keraton-keraton se Nusantara yang kini terpelihara dengan baik di bawah Forum Komunikasi dan Informasi Keraton Nusantara (FKIKN) dan Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN).
Dorongan dan penguatan ke dalam, tak hanya secara sistematis mempersiapkan generasi yang menguasai kekayaan seni budayanya, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan budaya bangsa yang dibutuhkan untuk memelihara kebhinekaan, ideologi Pancasila, UUD 24 dan menjaga utuhnya NKRI. Di sinilah, peran penting FKIKN dan FSKN yang memiliki kekayaan objek wisata, perlu diakomodasi dan dikelola dengan sinergi yang baik.
Keunggulan budaya yang bisa bersinergi dengan kebijakan di sektor pariwisata, akan memiliki dampak positif bagi potensi penguatan perekonomian nasional. Karena di dalamnya, pasti akan tumbuh subsektor-subsektor terkait semisal UKM dan ekonomi kreatif yang selama ini menjadi benteng perekonomian nasional yang handal dan kokoh. (Won Poerwono)

Tinggalkan Pesan