perahu-penyeberangan-wonogi
WONOGIRI,newsreal.id- Pemerintah Desa Glesungrejo, Kecamatan Baturetno, Kabupaten Wonogiri telah mengalokasikan sebesar Rp 100 juta dari APBDes tersebut untuk menghidupkan kembali perahu penyeberangan Baturetno-Eromoko di perairan Waduk Gajahmungkur. Dengan dana tersebut, mereka membeli perahu agar bisa melayani masyarakat yang ingin menyeberangi waduk.
 
Kepala Glesungrejo Andi Wirawan mengatakan, dana tersebut dialokasikan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Glesungrejo. “Kami membeli kapal penyeberangan yang lama kemudian diperbaiki agar bisa beroperasi lagi,” katanya.
 
Pihaknya juga membeli satu perahu lagi untuk digunakan sebagai perahu wisata. Dana tersebut selain digunakan membeli perahu juga untuk membeli berbagai peralatan pendukung, seperti mesin, pelampung, serta mengurus perizinan ke Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Wonogiri. “Perahu sudah beroperasi ketika permukaan air waduk mulai meninggi sekitar tiga minggu yang lalu,” ujarnya.
 
Adapun harga tiket ditetapkan sebesar Rp 5.000 untuk seorang pengendara beserta satu unit sepeda motor yang dikendarainya. “Kalau boncengan, tarifnya ditambahi Rp 2.000 per orang,” imbuhnya.
Adapun tiket perahu wisata ditetapkan sebesar Rp 5.000 per orang. Pengunjung dapat berkeliling perairan Waduk Gajahmungkur di sekitar Glesungrejo dengan durasi sekitar 15-20 menit. Dalam sehari, perahu tersebut rata-rata mampu memberikan penghasilan sekitar Rp 200.000. “Kalau akhir pekan Sabtu dan Minggu, kadang bisa memberi pemasukan Rp 700.000 per hari,” terangnya.
Perlu diketahui, perahu penyeberangan Baturetno-Eromoko beroperasi setiap musim hujan tiba, atau ketika permukaan Waduk Gajahmungkur meninggi. Pengunjung cukup menempuh perjalanan selama 15 menit berperahu. Hal itu mampu mempersingkat waktu tempuh bila dibandingkan harus melalui perjalanan darat, memutar lewat Kecamatan Baturetno, Giriwoyo, Pracimantoro dan Eromoko.
 
Adapun ketika kemarau tiba, perahu tidak bisa beroperasi karena dasar waduk di sepanjang jalur Baturetno-Eromoko itu mengering. Perahu sempat berhenti beroperasi selama dua tahun belakangan ini karena rusak dan pendangkalan sedimentasi. (Khalid Yogi)

Tinggalkan Pesan