lda-keraton-surakarta1
IKUT BERSEDIH : Meski sudah bertahun-tahun mengalami peristiwa akibat friksi di Keraton Surakarta dengan segala ketidaknyamanan yang ada, tetapi Ketua LDA Gusti Moeng tampak ikut sedih juga ketika GKR Timoer berbicara sambil terisak-isak menangis saat berlangsung pisowanan di ndalem Kayonan, Baluwarti, Rabu malam (28/8).(newsreal.id/Won Poerwono)

*”Terteror” Ancaman Penutupan Kantor BP

SAMBIL terisak-isak menangis, dengan suara parau GKR Timoer Rumbai Kusumodewayani meluapkan kejengkelan dan kemarahannya di depan pisowanan sekitar 100 orang yang terdiri sederekdalem pengageng Bebadan, sentana darahdalem dan abdidalem garap, Rabu malam (28/8).

Di depan yang hadir pada pisowanan yang digelar Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta di ndalem Kayonan, Baluwarti, malam itu, anak tertua Sinuhun Paku Buwono XIII yang akrab disapa Gusti Timoer itu, menumpahkan segala kesedihan bercampur geram yang semakin memuncak akhir-akhir ini.


”Panjenengan semua sudah pirsa ‘kan? Saya ini anak tertua Sinuhun yang jumeneng sekarang ini, Paku Buwono XIII. Tetapi saya memilih bergabung dengan Gusti Moeng, dengan LDA. Sekarang ini saya sangat marah……, sangat sedih…… Inginnya berontak….., menghadapi siapa saja yang menginjak-injak keraton…… Saya tidak terima….., keraton diinjak-injak….. Keraton dipecah-belah…… Kami yang tadinya satu keluarga besar, jadi tercerai-berai, saling bermusuhan. Saya minta diberi kesempatan, biar gantian saya atau anak-anak muda ini yang maju.

Jangan sampai, semua ini dikira disetting Kanjeng Wira. Dan hanya untuk kepentingan Kanjeng Wira. Padahal, kitra ini hanya diadu-domba. Kita tahu semua ini adalah akibat campur tangan pihak luar…,” ucap GKR Timoer terputus-putus disela isak-tangis malam itu.

lda-keraton-surakarta2
MEREKAM PERISTIWA : Saat GKR Timoer berbicara sambil terisa-isak menangis, Ketua LDA Gusti Moeng tidak ,menyia-nyiakan kesempatan, langsung merekam peristiwa di acara pisowanan di ndalem Kayonan, Baluwarti malam (28/8) itu secara keseluruhan dengan HPnya. (newsreal.id/Won Poerwono)

Tumpahan kekesalan putridalem itu, tentu juga diarahkan kepada ayahandanya sendiri yaitu Sinuhun Paku Buwono XIII. Karena, sejak insiden 2017, dirinya sama sekali tidak bisa bertemu dengan ayahandanya. Sekaku saja ada yang menghalang-halangi apabila hendak masuk ke Sasana Putra untuk bertemu dengan ayahnya sendiri.

Malam itu, kekesalan itu tentu juga didengar semua yang hadir, terutama GKR Wandansari Koes Moertijah atau Gusti Moeng sebagai ketu LDA, pihak pengundang. Juga GKR Galuh Kencana selaku Pengageng Keputren, GKR Ayu Koes Indriyah (Humas), GKR Retno Dumilah (Pengageng Pasiten) dan KPH Edy Wirabhumi (Pangarsa Pusat Pakasa) yang duduk sederet di depan. Sementara KPH Broto Adiningrat (Wakil Pengageng Kusuma Wandawa), KPH Sangkoyo Mangun Kusumo (Pengageng Karti Pura), GKR Sekar Kencana (Pengageng Mandra Budaya) duduk berbaur dengan para sentana, pengageng bebadan dan jajarannya serta abdidalem lain.

Sambutan sekitar 5 menit berisi curah emosi yang sudah lama tertahan itu, tentu didengar adiknya atau calon putra mahkota, KGPH Mangkubumi (Pengageng Karti Praja) yang memilih duduk di luar pendapa ndalem Kayonan. Putra tertua Sinuhun Paku Buwono XIII ini, sejak friksi di keraton memuncak (2010), memilih bergabung dengan bibinya, Gusti Moeng, apalagi sejak 2017 ketika bibi dan semua yang terwadahi dalam LDA tidak diizinkan ”menginjak” dalam keraton oleh sekelompok orang yang sampai sekarang ini ”bersembunyi” di belakang ayahadanya sendiri.

Ratapan Gusti Timoer itu langsung disambut baik KPH Edy Wirabhumi, yang sebelumnya diberi kesempatan bicara setelah pisowanan dibuka dengan pidato Gusti Moeng. KPH Edy langsung menawarkan kepada forum, siapa yang akan memimpin tim untuk menyusun pernyataan sikap dan menyaksikan rencana penutupan kantor Badan Pengelola (BP) Keraton Surakarta.

lda-keraton-surakarta3

MENYERAHKAN SURAT : Selaku Ketua LDA Gusti Moeng menyerahkan surat kepada KRPP Nanang di kantor klinik kesehatan Keraton Surakarta, untuk diantar dan diserahkan ke Kapolresta Surakarta, tadi siang.(newsreal.id/Won Poerwono)

Dalam dialog yang dibuka malam itu, KPH Broto Adiningrat selaku salah seorang sesepuh LDA sangat mendukung usul KRA Eko yang menyatakan bersedia menjadi koordinator. Menurutnya, dalam situasi seperti ini perlu memberi kesempatan dan tanggungjawab para sentana, agar upaya mencari keadilan dan penyelesaian atas ruwetnya masalah yang dihadapi keraton, tidak dituding sebagai ambisi Gusti Moeng dan atas setting-an KPH Edy Wirabhumi.

”Kula mendukung sanget menapa ingkang dipun ngendikaaken Gusti Timoer lan KPH Broto Adiningrat. Kamangka, menapa ingkang dipun perjuangaken menika, estu-estu panyuwunipun lan pangajab sadaya para kerabat ageng punika. Pramila, kasuwun dipun rembag pembentukan tim, rencana kerja lan tahapan-tahapan iangkang bade dipun ayahi,” pinta KRA Eko saat diberi kesempatan berbicara dan langsung diamini semua yang hadir.

Semua keputusan yang didapat dalam pisowanan malam itu, direncanakan untuk dilaksanakan sepenuhnya dalam sehari sejak pagi hingga sore tadi. Namun, yang sudah dirancang lengkap itu hingga tadi petang baru beberapa yang dilaksanakan, antara lain hadir di tempat kerja masing-masing yaitu kantor BP dan eks kantor layanan kesehatan atau klinik kesehatan keraton di halaman Kamandungan.

lda-keraton-surakarta4

HANYA LESEHAN : Para kerabat, pengageng bebadan dan abdidalem yang hadir dalam pisowanan yang digelar Ketua LDA Gusti Moeng di ndalem Kayonan, Baluwarti, Rabu malam (28/8), semua hanya duduk lesehan di atas tikar yang digelar di pendapa.(newsreal.id/Won Poerwono)

Hadir di dua kompleks kantor sepanjang siang hingga sore Kamis tadi (29/8), sekaligus melaksanakan dua rencana yang disusun dalam pisowanan Rabu malam (28/8). Yaitu ingin menyaksikan rencana penutupan kantor BP, dan serah-terima surat dari Ketua LDA Gusti Moeng kepada KRPP Nanang selaku ketua tim yang diutus menyerahkan surat keberatan LDA ke Kapolresta Surakarta.

”Saya dan empat kerabat tadi sudah menjalankan tugas mengantar surat ke Kapolresta Surakarta. Inginnya bertemu langsung dan menyerahkan surat itu. Tapi, sekretariat Pamapta Polresta bilang bahwa bapak Kapolres sedang tidak di kantor, dan surat bisa ditutupkan. Ya sudah, langsung saya titipkan seorang Polwan di sekretariat itu. Namanya, saya lupa,” ujar KRPP Nanang menjawab pertanyaan newsreal.id.

Selain tugas mengantar surat, siang tadi juga banyak kerabat yang sudah standby untuk menyaksikan peristiwa penutupan kantor BP. Seperti disebutkan KPH Edy Wirabhumi dalam pisowanan Rabu malam, sebelumnya dia bertemu dengan Kapolresta Kombes Andi Rifai yang menyebutkan mendapat perintah atasan secara ”lisan” untuk menutup kantor BP.

lda-keraton-surakarta5

DUDUK MENDENGARKAN : Para kerabat trah darahdalem dan pengageng bebadan serta jajarannya, duduk lesehan mendengarkan penjelasan Gusti Moeng selaku Ketua LDA dalam pisowanan di ndalem Kayonan, Baluwarti, Rabu malam (28/8).
(newsreal.id/Won Poerwono)

Namun ditunggu hingga pukul 21.00 WIB, peristiwa penutupan kantor BP sama sekali tidak terjadi, meski sejak siang terlihat ada beberapa anggota kepolisian di situ. Kantor itu masih ditunggu beberapa petugas keamanan kantor setempat, yang secara rutin ditugasi di situ. Kantor BP ”tertetor” ancaman akan ditutup oleh Polresta Surakarta, hanya atas dasar perintah ”Sinuhun” (Paku Buwono XIII), seperti disebutkan dua petugas yang diterima KPH Edy, Selasa malam (27/8).

”Teror” rencana penutupan kantor BP, diyakini Gusti Moeng dan para kerabat merupakan bagian dan lanjutan dari insiden 2017. Padahal dua kantor itu, merupakan tempat pertahanan Gusti Moeng dengan LDA dan para bebadan serta jajarannya untuk menjalankan tugas pelestarian budaya untuk kepentingan Keraton Surakarta, meski dalam kadar yang sangat terbatas.

”Mungkin saja, kegiatan kami dianggap masih mengganggu. Padahal ‘kan tidak. Selama ini kami yang selalu diganggu ta?. Tetapi, tadi siang ‘kan ada sidang gugatan perdata KBRAy Salindri gugatan perdata di Pengadilan Negri Surakarta. Sidang gugatan GKR Timoer dan KRMH Harbanu juga masih berjalan. Mosok proses hukum seperti ini mau diabaikan aparat kepolisian?,” ujar Gusti Moeng bertanya-tanya di tempat terpisah. (Won Poerwono)

lda-keraton-surakarta6
TAMPAK BIASA : Pintu kantor BP tampak masih terbuka, pertanda di dalam masih ada yang berkegiatan atau menjaganya. Sementara suasana di depan kantor atau halaman Kamandungan Keraton Surakarta, tampak biasa, meskipun ada sebuah mobil polisi parkir di situ.(newsreal.id/Won Poerwono)

 

 

Tinggalkan Pesan