kampung-anggur-tlogo-prambanan1
KAMPUNG ANGGUR : Petani anggur menggelar pertemuan di Kampung Anggur di Perum Pemukti Baru Desa Tlogo, Kecamatan Prambanan, Klaten, Jumat (24/1) pagi.(newsreal.id/Merawati Sunantri)

TIDAK adanya lahan yang luas untuk bercocok tanam, tak membuat warga Desa Tlogo, Kecamatan Prambanan, Klaten mengurungkan niat untuk mengembangkan desanya menjadi Kampung Anggur.

Uniknya, mereka memanfaatkan jalan kampung untuk rambatan anggur tanpa mengurangi fungsi jalan.

Sejak setahun terakhir, mereka memanfaatkan jalan untuk membuahkan tanaman merambat itu.

Mereka membuat rambatan dengan penyangga dari rangka baja ringan dan kawat. Jalan pun terlihat seperti lorong yang rimbun oleh tanaman anggur yang saat ini sudah mulai berbuah.

‘’Kami ingin mengembangkan petanian anggur di atas jalan tanpa mengurangi fungsi jalan. Rencananya, akan dikembangkan untuk agro wisata anggur. Lokasinya yang berdekatan dengan Candi Prambanan dan Candi Plaosan, memungkinan menjadi wisata alternatif bagi pengunjung candi,’’ kata Pembina Petani Anggur Tlogo, Isto Suwarno

kampung-anggur-tlogo-prambanan1

Hal itu diungkapkan dalam pertemuan petani anggur yang dikemas dalam sarapan pagi di bawah tanaman anggur milik warga, Jumat (24/1) pagi.

Suasananya penuh keakraban, warga bersama-sama mengembangkan anggur dengan tujuan meningkatkan ekonomi warga, dan menunjang pariwisata yang sedang digalakkan.

Ada 1000 bibit anggur dari Malang yang ditanam, memang tak semua bibit bisa hidup, ada beberapa yang mati sejak ditanam perdana 9 Desember 2018. Namun berkat kemauan keras, akhirnya banyak bibit yang tumbuh subur.

Saat ini sebagian pohon sudah mulai berbuah, sebagian warga juga sudah memproduksi bibit untuk dijual.

‘’Kampung anggur di Perum Pemukti Baru RT 12/RW 4 Desa Tlogo Prambanan, dijadikan percontohkan karena memanfaatkan jalan dengan tidak mengurangi fungsi jalan. Petani menjadi binaan Telaga Nursery Prambanan milik Isto Suwarno,’’ kata Ketua Kelompok Petani Anggur Tlogo, Sambudi.

Saat ini, lorong anggur sudah mulai banyak dikunjungi pejabat-pejabat pertanian dari Balitjestro Malang dan Bogor serta dari Badan Penelitian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta.

Selain itu, tamu yang datang ke Telaga Nursery yang dikenal dengan bibit kelengkengnya dari berbagai provinsi pun mampir ke Kampung Anggur.

Ada 1000 bibit terdiri 4 varietas bantuan Balitjestro Malang yang dikembangkan yakni Probolinggo Super, Jestro Ag 60, Jestro Ag 45 dan Kediri Kuning. Selain itu, warga secara swadaya juga mengembangkan beberapa jenis angur import yang mempunyai nilai ekonomi tinggi.

‘’Saya juga membuat bibit untuk disambung dengan jenis anggur impor, di depan rumah saya ada jenis Ninel dan Jupiter namun belum berbuah. Kami masih dalam tahap belajar menyambung bibit, kadang masih sering gagal,’’ kata Sugeng.

Acara sarapan bareng itu membahas rencana pengembangan anggur yang kini sudah mulai berbuah. Ada warga yang sudah belajar memproduksi wine dari anggur yang dihasilkan.

Sayangnya produksi anggur belum maksimal, ukuran anggur masih kecil-kecil, karena petani merasa sayang untuk mengurangi jumlah buah.

‘’Seharusnya jumlah buah dikurangi, namun karena baru pertama mereka masih sayang kalau membuang, jadilah buahnya masih kecil-kecil. Ke depan, petani akan terus belajar untuk memproduksi anggur kualitas baik agar bisa menarik wisatawan datang ke Kampung Anggur,’’ ujar Isto Suwarno.

Dia mengaku mengembangkan anggur karena terinspirasi dari kampung anggur di daerah Bantul, sama-sama memanfaatkan jalan. Namun di Bantul, jalan sudah tidak bisa dilewati mobil sedangkan di Tlogo masih bisa. Bahkan bila ada warga punya hajatan, masih bisa mendirikan tenda di bawah rambatan anggur.

Kepala Desa Tlogo, Raksono yang hadir dalam pertemuan itu, mengaku sangat mendukung upaya warga mengembangkan anggur. Kampung Anggur akan melengkapi tujuan wisata di Tlogo yang sebelumnya sudah dikenal dengan kelengkengnya. Selain itu, ada kelompok petani ikan dan petani biasa.

‘’Desa Tlogo berdekatan dengan Candi Prambanan, sehingga sangat berpotensi dikunjungi wisatawan candi sebagai tujuan alternatif. Selain lingkungan menjadi asri, juga bisa menghasilkan. Upaya promosi sangat mendukung pengembangan wisata di Desa Tlogo,’’ ujar Raksono.

Saat ini, petani masih membutuhkan pelatihan untuk meningkatkan kualitas tanaman agar memberikan hasil sesuai harapan. Saat ini, Kelompok Tani Buah Unggul Desa Tlogo mempunyai 4 pengurus dan 20 anggota. Bila berhasil baik, akan dikembangkan di lahan yang lebih luas.(Merawati Sunantri)

Tinggalkan Pesan