ponpes-jamsaren
BANGUNAN MASJID: Bangunan masjid yang ada di kompleks Ponpes Jamsaren yang menggunakan kayu lama dan menjadi salah satu pusat kegiatan para santri di Ponpes Jamsaren. (newsreal.id/Basuni Hariwoto)

BERDIRI pada 1750, Pesantren (Ponpes) Jamsaren adalah salah satu ponpes tertua yang ada di Kota Solo dan telah melahirkan banyak santri yang kemudian menjadi tokoh tingkat nasional.

Ponpes Jamsaren berada di tengah Kota Solo di Jakan Veteran 263 Serengan, Solo ini didirikan di masa pemerintahan Pakubuwono (PB) IV. Pada awalnya, bangunannya hanya berupa surau kecil.

Kala itu, PB IV mendatangkan para ulama, di antaranya Kyai Jamsari (Banyumas), Kyai Hasan Gabudan dan lain sebagainya.

Salah satu maksud didirikannya masjid dan pondok adalah untuk mengajarkan agama Islam kepada pejabat, bangsawan kraton dan juga masyarakat umum.

Muh Muqorobin selaku ketua pengurus harian Ponpes Jamsaren mengatakan, nama Jamsaren yang diambil dari nama kediaman Kiai Jamsari kemudian juga menjadi nama kampung dimana ponpes berada.

“Setelah Kyai Jamsari wafat kedudukannya digantikan putranya yang bernama Kyai Jamsari II,” kata Muqorobin saat ditemui Kamis (14/5).

Pondok Jamsaren juga pernah mengalami masa vakum, yakni seusai Pangeran Diponegoro dijebak dan ditangkap lewat tipu muslihat Belanda, Karena itu pada 1830, para kiai dan pembantu Pangeran Diponegoro dan PB VI di Surakarta bersembunyi keluar dari wilayah Surakarta ke daerah lain.

Termasuk Kiai Jamsari II dan santrinya yang mendukung perlawanan Pangeran Diponegoro dan PB VI. Kondisi ini membuat pondok Jamsaren menjadi kosong selama sekitar 50 tahun lamanya.

Pada 1878, seorang kyai alim dari Klaten bernama Kyai Idris yang merupakan keturunan pembantu Pangeran Diponegoro, membangun kembali surau yang kemudian menjadi pesanren tersebut.

“Kyai Idris itu masih keturunan Kyai Imam Rozi yang merupakan sahabat Kyai Jamsari II dan Kyai Mojo yang sama-sama melawan Belanda. Beliau juga murid dari Kyai Sholeh Darat dari Semarang. Dia juga diminta pihak Keraton Solo diminta membangun kembali Pondok Jamsaren, ” kata Muqorobin.

Bangunan pondok dibuat lebih lengkap dan diperluas dari kondisi semula.
Materi yang diajarkan adalah kitab-kitab klasik (kitab kuning) berbahasa Arab dan diterjemahkan dengan bahasa Jawa Pegon (bahasa yang disesuaikan dengan susunan bahasa Arab).

Seperti Nahwu Shorof, Tajwid, Qiroah, Tafsir, Fiqh, Hadits, Mantiq, Tarikh dan Tasawwuf. Metode pengajaran pun dengan cara sorogan (maju satu per satu), sebagian yang lain dengan cara wekton atau blandongan (cara berkelompok), masing-masing membawa kitab sendiri.

Para santri tidak hanya datang dari Solo sekitar, tetapi juga datang dari daerah lain di Pulau Jawa, di antaranya Tegal, Semarang, Banten, Jombang, dan Mojokerto.

Pada 1908, mushala pondok pesantren diganti dengan bangunan masjid tembok. Pada 1913, sistem pengajian sorogan diganti dengan sistem kelas.

Dalam perkembangannya, pada 1923 Kyai Idris wafat. Pimpinan Ponpes Jamsaren kemudian diganti KH Abu Amar. Pada 1965 KH.’Abu Umar wafat dan digantikan oleh putranya, yang salah satunya di ganti oleh KH. Ali Darokah sebagai ketua.

ponpes-jamsaren-solo2
BANGUNAN SEKOLAH: Salah satu kompleks gedung sekolah yang ada di lingkungan Ponpes Jamsaren dengan bangunan yang cukup megah. Ada TK, SD, MI, MTs dan MA yang berada di beberapa lokasi. (newsreal.id/Basuni Hariwoto)

Pondok Jamsaren mulai 1965-1997, secara langsung dipimpin oleh KH. Ali Darokah yang dibantu pengurus pondok. Struktur pondok terdiri dari lurah pondok, sekretaris. bendahara, wali santri pondok, staf pengajar, staf keamanan, dan staf dakwah.

Sepeninggal KH Ali Darokah, pengelolaan pondok diserahkan kepada pengurus harian pondok dan pengurus pelaksana harian pondok. Pada periode ini, selain pengajian sistem kelas dengan materi pelajaran agama, juga diberi materi pelajaran umum untuk menunjang prestasi santri.

Sebagai salah satu institusi pendidikan yang telah ditempa perubahan zaman selama berpuluh-puluh tahun, maka dalam mensikapi dunia pendidikan pada dekade ini.

Pondok Pesantren Jamsaren menawarkan suatu alternatif sistem pendidikan dimana santri digembleng dengan pengetahuan pendidikan agama Islam di pesantren.

Di sisi lain santri menuntut ilmu pengetahuan umum di sekolah formal dengan harapan agar kelak menjadi profesional muda yang berjiwa ulama dan pemimpin yang berguna bagi bangsa, agama dan negara.

Muqorobin mengungkapkan, Ponpes Jamsaren saat ini tidak semata-mata hanya pondok saja, sebab bila berbicara Jamsaren berbicaranya yayasan. Dimana saat ini ada TK, SD, MI, MTs, MA dan ponpes itu sendiri.

“Sekarang yang mukim di pondok adalah anak-anak yang juga mengambil sekolah formal dan sisa waktunya diberi materi diniyah. Ada tahfidz, fiqih, bahasa Arab dan lainnya.”

Karena memiliki riwayat yang panjang, maka sekolah formal yang ada di Yayasan Pesantren Jamsaren sangat diminati. Semua sekolah memiliki murid ratusan orang.

Salah satu keunggulan yang tidak pernah luntur yang mereka miliki adalah keunggulan akademis dan keagamaan.

Bahkan di MTs yang berlokasi di daerah Kenteng Silir, Jebres sudah menolak-nolak murid.

“Untuk MTs areanya besar tapi karena lokal gedungnya belum banyak. MTs baru dirintis sekitar enam tahun,” katanya.

Muqorobin menegaskan, yang tidak pernah berubah dari Jamsaren dan selalu ditekankan para kyai adalah Jamsaren itu berdiri di atas semua golongan dan mewadahi semua unsur atau kelembagaan Islam yang ada.

Ternyata dari pengalamannya sejak ngaji mulai 1986, semuanya bisa berproses dengan baik. (Basuni Hariwoto)

Tinggalkan Pesan