raja-kecil-solo1
BESAR DI GENRENYA : Si ''Ratu Kembang Kacang'' Waldjinah, saat berulang tahun di awal tahun 2.000-an. Pelantun Walang Kekek yang terkenal itu, menjadi besar di genrenya langgam Jawa atau langgam campursari sebelum menjadi kerajaan tersendiri belakangan ini.(newsreal.id/Won Poerwono)

*”Kerajaan Campursari” Itu Sudah Selesai ? (1-bersambung)

ADALAH seni tradisional pakeliran wayang kulit mulai zamannya dalang kondang Ki Nartosabdo di tahun 1960-an, kemudian mulai berkibarnya seni musik orkes keroncong yang memiliki cabang irama ”langgam” di sekitar tahun itu yang memunculkan nama besar Waldjinah, merupakan dua unsur seni (musik) yang berjasa besar melahirkan genre musik ”campursari”.

Dua unsur musik itu mulanya berdiri sendiri di genre masing-masing ketika Ki Nartosabdo kali pertama melahirkan genre campursari di tengah musik karawitan, baik sebagai iringan pentas pedalangan maupun ”klenengan nyamleng”.

Sementara di tempat lain yaitu genre keroncong, nama besar Gesang Martohartono dan Anjar Any secara berurutan muncul hampir bersamaan dengan Waldjinah, memulai menawarkan genre campursari di habitatnya sendiri, yaitu keroncong Langgam Jawa.

Genre musik campursari yang dikembangkan Ki Nartosabdo dari modal dasar musik karawitan memang agak beda, karena gamelan hanya terbagi dalam irama Slendro dan Pelog. Waktu itu, karya-karya dalang kelahiran Klaten yang menetap di Semarang itu, sering disebut langgam nyemeg.

Untuk Joget ”Gecul”

Tetapi, aransemen yang dihasilkan dalang tokoh pembaharu seni pakeliran dalam genre campursari itu, sungguh menakjubkan saat itu. Lihat saja bagaimana gending berjudul ”Megal-megol” dan judul ”Suara Suling”ketika diperdengarkan di tengah pentas wayang gaya klasik konvensional di tahun 1960-an?

Publik menjadi terhenyak mendengar gending-gending renyah ciptaan sekaligus garapan (aransemen) Ki Nartosabdo waktu itu, di tengah suasana sosial budaya bangsa yang belum banyak mengenal berbagai genre musik yang dibawa masuk budaya asing.

raja-kecil-solo2
KENDANG DAN KEYBOARD : Kendang dan keyboard yang menjadi satu-kesatuan unit alat musik campursari, adalah gabungan dari jenis musik asli yang berbeda, yaitu musik tradisional karawitan dan musik modern. Kini, perpaduan itu menjadi simbol genre musik campursari yang mandiri. (newsreal.id/Won Poerwono)

Karena mendengar gending-gending garapan/ciptaan Ki Nartosabdo yang berirama langgam nyemeg itu, seketika bisa membuat goyang mengikuti irama kendang/ketipung yang ada dlam gamelan Slendro.

Orang yang mendengar bisa langsung ”megal-megol bokongnya”, karena aransemen gending-gending campursari Ki Narto memang sangat enak untuk berjoget ”gecul” (lucu) yang spontan, seperti para tokoh Panakawan yang diiringi pad adegan ”Gara-gara” Pathet 9.

Genre Terpisah

Di jalur genre keroncong, genre campursari baru benar-benar secara tegas dihembuskan menjadi genre terpisah setelah muncul musisi Manthous asal Wonosari, Gunung Kidul (DIY) di tahun 1980-an misalnya dengan lagu berjudul ”Rondo Kempling”.

Karena dengan munculnya musisi yang mengklaim sebagai pencetus genre campursari itu, sang maestro Langgam Jawa Waldjinah juga benar-benar menjadikan dirinya simbol genre campursari begitu lagu berjudul ”Iki (Du)-Weke Sapa” ciptaan Andjar Any diluncurkan di tahun 1980-an itu.

Ciri masing-masing genre campursari yang berada di habitat genre musik asalnya, memang secara dominan diwarnai musk aslinya. Bila itu campursarinya Ki Nartosabdo, pasti didominasi musik karawitan yang lebih banyak menggunakan perangkat gamelan Slendro.

raja-kecil-solo4
BAND MASUK WAYANG : Pentas wayang kulit di Bale Kampung Serengan beberapa waktu lalu itu, memberikan kesan masuknya musik simbol-simbol band ke dalam unit karawitan iringan wayang. Simbol-simbol itu diadaptasi menjadi musik campursari, bentuk baru yang pernah dikembangkan Ki Nartosabdo.(newsreal.id/Won Poerwono)

Bila itu campursarinya Waldjinah yang punya nama besar Ratu Kembang Kacang itu, pasti didominasi musik keroncong (langgam). Lain lagi ketika Manthous menawarkan campursari versinya, selain keroncong langgam ada sentuhan gamelan meskipun hanya terbatas kendang, demung dan saron.

Pola dan Tempo Tabuhan

Mencermati unsur-unsur bunyinya, masing-masing genre campursari yang dikembangkan tokoh-tokoh dari genre musik yang berbeda itu ternyata memiliki kesamaan. Yaitu unsur pola dan tempo tabuhan (pukulan) pada melodi, unsur perkusi (kendang/ketipung) dengan pola tabuhan lebih cepat, kemudian ditambah sentuhan suara suling (seruling) atau fluete.

Sejak genre-genre campursari bermunculan di wilayah genre musik aslinya mulai tahun 1960-an, ternyata di Tanah Air juga berkembang musik irama Melayu yang disebarluaskan oleh RRI maupun TVRI.

Meski sangat terbatas jenis dan jumlah lagu yang ditayangkan, tetapi kehadirannya memberi pengaruh terhadap munculnya genre campursari yang masih berada di wilayah musik asal masing-masing.

Apalagi dalam perkembangannya kemudian, setelah RRI dan TVRI, muncul beberapa TV swasta yang ikut menyebarluaskan jenis-jenis musik India yang dikembangkan kelompok penyanyi Elya Kadam, Ida Laela dan Juga Rhoma Irama yang kemudian mempertegas campuran antara irama Melayu dan India menjadi genre dangdut.

raja-kecil-solo5
MENJADI GENRE MANDIRI : Pemandangan saat grup ”Lare Jawi” milik Didi Kempot (alm) tampil di THR Sriwedari, beberapa tahun silam, mencerminkan ketika campursari sudah menjadi genre mandiri, bahkan menjadi kerajaan tersendiri di tengah kancah permusikan dunia. (newsreal.id/Won Poerwono)

Musik berirama Arab yang muncul belakangan bersamaan dengan makin eksisnya budaya Arab di Indonesia, memang ikut berpengaruh ke dalam kancah musik nasional. Tetapi, adaptasi yang dilakukan musisi-musisi genre campursari di wilayah musik asal masing-masing masih sangat terbatas pada content liriknya saya.

Kerajaan Campursari

Banyaknya pengaruh dari genre musik lain itulah, yang kemudian memunculkan genre musik campursari benar-benar campursari yang sudah agak berbeda dari wilayah musik aslinya, keroncong, karawitan dan perpaduan antara keduanya yang pernah memunculkan Orkes Keroncong Campursari yang dipelopori musisi Sugiyanto (mantan Ketua Hamkri Solo) di tahun 1990-an hingga awal 2000-an.

Salah satu musisi yang paling menonjol menjadikan musik campursari benar-benar genre campursari, adalah Didi Prasetyo yang dikenal dengan Didi ”Kempot”, yang belum genap 40 hari meninggal di usia 53 tahun.

Kalau ada yang menyebut musik campursari menjadi sebuah bangunan kerajaan tersendiri meskipun masih kecil, ketika genre ini berada di puncaknya dalam satu dekade terakhir ini, Didi Kempotlah yang ikut membangun dan dialah ”Raja Kecil” Kerajaan Campursari itu.

Pelestari Budaya Jawa

Memang, di akhir kejayaan Manthous ada beberapa tokoh dari beberapa daerah yang muncul menawarkan campursari dengan warna lain misalnya yang disebut keroncong dangdut (genre keroncong), dangdut campursari (dangdut) ataupun dangdut nyemeg (karawitan).

Tokoh-tokohnya misalnya Cak Diqin (Tragedi Tali Kotang) di Solo, Sony Joss (Sri Muliho) di Jatim, Soleh Akbar bersama kelompok OM Datnyeng yang sempat mempopulerkan beberapa lagu congdut atau campursari versinya di awal 200-an.

raja-kecil-solo3
SEMPAT BERKIBAR : Penyanyi campursari Cak Diqin, sempat berkibar dengan beberapa album karyanya di antaranya ”Tragedi Tali Kotang”, ikut membangun kerajaan campursari, meski hanya sebentar lalu menghilang. (newsreal.id/Won Poerwono)

Tetapi keberadaan mereka ini bisa dibilang ikut membesarkan ”kerajaan” campursari, walau tertinggal dari genre campursari yang ciri-cirinya seperti dikembangkan Didi Kempot, dalam 10 tahun terakhir sampai meluas ke berbagai negara.

”Intinya, mas Didi (Kempot) benar-benar mempopulerkan bahasa Jawa lewat lagu-lagunya. Bahkan bagi saya, beliau adalah tokoh pelestari budaya Jawa yang sukses di seluruh Indonesia. Karena setiap tampil tak pernah meninggalkan ciri-ciri budaya Jawa itu,” ujar artis Soimah yang diwawancarai beberapa TV swasta sekitar meninggalnya Didi Kempot, beberapa waktu lalu. (Won Poerwono-bersambung)

Tinggalkan Pesan