raja-kecil-solo6
MEMBERI DUKUNGAN KEMPOTERS : Didi kempot saat ikut mempersiapkan pentas kelompok musiknya di THR Sriwedari tahun 2017 yang diprakarsasi komunitas ''Kempoters''. Dukungan itu secara tidak langsung memperkokoh bangunan ''Kerajaan'' campursari yang kemudian mendudukkannya sebagai ''Raja Besar''. (newsreal.id/Won Poerwono)

“Kerajaan Campursari” Itu Sudah Selesai ? (2-bersambung)

SUATU siang di tahun 2016, Didi ”Kempot” sempat mengajak Suara Merdeka/SMS.Com untuk sekadar jagongan di THR Sriwedari. Ajakan jagongan itu tentu spontan saja, dan jelas nyaris tanpa suguhan.

Kebetulan siang itu, dirinya sedang menunggui para awak grup ”Lare Jawi” dan awak sound system yang sedang menata panggung dan check sound di taman hiburan tersebut, mengingat malamnya kelompok Didi Kempot Management (DKM) hendak tampil atas nama komunitas Kempoters selagu penyelenggaranya.

Penampilan Didi Kempot bersama kelompok DKM, oleh pengelola THR Sriwedari ditempatkan pada jadwal sajian musik orkes keroncong campursari (OKC), yang jatuh tiap Minggu malam.

Karena pengaturan waktu tampil dan kategori musik yang tampil ditentukan pihak pengelola, maka grup musik ”Lare Jawi” milik sekaligus dipimpin Didi Kempot dikategorikan musik OKC.

THR Punya Andil

THR Sriwedari memang punya cara untuk mengelompokkan jenis musik sesuai katagorinya, sebagaian dari sistem manajemen jasa pertunjukan musik yang dikelolanya sejak tahun 1985. Karena selain OKC, ada musik rock, jazz/reggae/blues/Iwan Fals, tembang kenangan (pop lama) dan dangdut
yang diberi porsi tampil sesuai jadwal urut dalam seminggu.

Satu hal yang bisa dipetik dari peran THR Sriwedari yang ”dipaksa” mengakhiri operasionalnya di Taman Sriwedari akhir 2017, adalah perannya dalam ikut ”memperjuangkan” genre campursari.

raja-kecil-solo7
DIBINTANGI SENDIRI : Proses pengambilan gambar duet Didi Kempot dan penyanyi senior (angkatan 80-90an) Rita Dinah Kandi di Hotel Novotel Solo,sebelum 2017. Klip albumnya dibintangi sendiri oleh mereka berdua. (newsreal.id/Won Poerwono)

Itu berarti, misi dan visi Didi Kempot yang berjuang untuk mempopulerkan genre campursari versinya juga ikut tertampung dan secara tidak langsung ikut dilakukan THR Sriwedari.

Pilih Jadi Musisi Jawa

Perihal genre campursari yang benar-benar bisa menjadi genre musik mandiri karena andil dan sikap konsisten Didi Kempot, sebenarnya belum sepenuhnya diterima si pemilik 700 lebih single lagu (sebagian besar) berbahasa Jawa itu.

Karena dalam diskusi saat jagongan berdua dengan SMS.Com itu, Didi Kempot lebih suka dan mengaku pas apabila karya-karyanya disebut ”Dangdut Jawa”.

Yaitu lagu-lagu berbahasa Jawa yang berirama dangdut, dan dangdutnya adalah versinya yang tidak jauh beda dengan campursari yang sudah beredar luas selama itu.

”Aku luwih seneng yen karya-karyaku disebut dangdut Jawa. Merga iramane akeh nuansa dangdute. Yen campursari, uwis dinggo mas Manthous (alm). Bu Wal (Waldjinah) ya wis nganggo kuwi”.

”Durung suwe iki malah ya wis eneng penyanyi liyane sing pengin eksis nganggo campursari (Sony Joss, Cak Diqin, dst-Red). Yen mas Soleh Akbar nganggo congdut (SMS.Com, 31/5).”.

”Aku pilih dangdut Jawa wae. Iya ta..? (Aku) Pas yen ngono ta mas…? Karo nglestarekne budaya Jawa lo,” jelas suami penyanyi Yan Vellia yang ditinggali dua anak hasil perkawinannya yaitu Saka Praja Adil Prasetya (10) dan Seika Zanithaqisya Prasetya (4) itu, dengan nada bertanya untuk meyakinkan penulis.

BANYAK YANG INGIN DUET : Beberapa penyanyi senior angkatan 80-90an seperti Rita Dinah Kandi (kiri Didi Kempot), getol sekali kepengin diciptakan lagu oleh Didi Kempot kemudian menyanyikannya duet. (newsreal.id/Won Poerwono)

Ngijeni, Tiada Tanding

Mengapa Didi Kempot lebih suka dirinya disebut penyanyi Dangdut Jawa dari pada penyanyi campursari? Ini jelas menyangkut strategi untuk meraih dan menjaga eksistensi diri seorang seniman, dalam kancah industri musik nasional, bahkan dunia.

Dengan menjadi penyanyi Dangdut Jawa, Didi Kempot seakan tidak ada tandingan alias ”ngijeni”, sekaligus bisa memberi efek menciptakan opini dan keyakinan publik tentang label/slogan yang kelak bisa muncul kemudian, yaitu ”Didi Kempot” adalah ”Dangdut Jawa, dan sebaliknya ”Dangdut Jawa adalah ”Didi Kempot”.

Strategi itu akan sangat menguntungkan bagi Didi Kempot, sekaligus untuk menghindarkan agar publik tidak rancu dalam memandang. Karena musik campursari sudah menjadi milik banyak nama musisi.

Tetapi, itu adalah sebuah keinginan dan harapan seorang Didi Kempot yang mungkin saja tidak banyak orang tau, karena memang tidak terang-terangan ada deklarasi tentang pemilihan jalur musik itu.

Malah Hilang dari Peredaran

Yang jelas, tanpa mendeklarasikan itu, sekitar tiga tahun sesudahnya telah terbukti bahwa musik campursari benar-benar menjadi genre musik mandiri, bahkan menjadi sebuah ”kerajaan” dan ”dunia” mencatat Didi Kempot sebagai ”rajanya”.

Perihal ”kerajaan campursari” dan ”raja” (kecil) itu, sebenarnya merupakan sebuah keinginan atau harapan yang pernah terlontar dari mulut Didi Kempot pada jagongan dengan SMS.Com sebelum tahun 2017 itu.

BERBURU BUDAYA JAWA : Kenangan Didi Kempot bisa berfoto bersama suami-istri warga Suriname Ricardo, di Restoran Diamond Solo, awal 2018. Banyak warga Suriname keturunan Jawa, memburu Didi Kempot, karena sama halnya berburu budaya Jawa. (newsreal.id/Won Poerwono)

Dia mengaku sebagai ”seniman daerah”, analoginya seperti para pejabat wali kota dan bupati yang seolah-olah menjadi ”raja kecil” di daerah.

Pernyataan Didi sekitar soal ”Raja Kecil” itu, berlandaskan pada nasib dirinya dan para seniman daerah lain yang konsisten dan punya komitmen tetap eksis sebagai musisi etnik di daerah, yaitu musisi Jawa.

Karena dia berpandangan, banyak sekali musisi derah yang tidak bisa membawa nama besarnya sebagai musisi nasional sebesar musisi pop, rock, dangdut dan sebagainya, lalu ”nglokro”, tidak berkarya dan akhirnya malah hilang dari peredaran.

Dianggap Musisi Udik

Pelantun tembang ”Dalan Anyar” itu berasumsi seperti itu, karena yang disebut musisi nasional adalah musisi yang sangat sering tampil secara nasional di media kaliber nasional terutama TV-TV swasta dengan berbagai acara tayangannya.

Sedangkan, menjadi musisi daerah (dangdut Jawa/campursari) seperti dirinya, juga musisi dari wilayah etnik lain, terkesan sulit mendapat tempat di TV-TV nasional itu, karena ”konon” dianggap seniman udik.

Kebanggaan dan kehormatan menjadi raja kecil itu, bahkan juga disarankan kepada penyanyi Nella Kharisma dan juga Via Vallen, waktu itu, yang mulai bersinar dan sepak terjangnya eksis di wilayah Jatim dan derah di sekitarnya, bahkan diakui publik secara luas sebagai artis hebat, digemari banyak orang serta sangat dipandang.

BAGIAN DARI KERAJAAN : Almarhum Sentot, adalah kakak kandung Didi Kempot yang sempat ikut bergabung memperkuat barisan penyanyi kelompok Didi Kempot Management (DKM). Penampilannya di THR Sriwedari bersama ”Kempoters”, menjadi bagian bangunan kerajaan campursari itu.
(newsreal.id/Won Poerwono)

Yang hebat lagi, beberapa penyanyi itu juga merasa bisa sejajar dan sama besarnya ketika diajak duet dengan Didi Kempot sepanggung, atau pentas terpisah tetapi banyak membawakan lagu-lagunya Didi Kempot.

Kebesaran nama dan eksis di daerah sendiri, walau tanpa melalui tampil di media nasional seperti itulah yang disebut Didi Kempot sebagai ”Raja Kecil”.

”Betul pak. Waktu itu (sampai TV7 berakhir-Red), kesannya mas Didi (Kempot) dan kami-kami ini dianggap penyanyi (musisi) daerah (campursari). Mungkin saja dianggap tidak level masuk TV-TV nasional itu.

Kesannya, kalau dangdut ya harus melalui manajemen-manajemen tertentu (bukan campursari) yang boleh masuk,” ujar Yan Vellia istri sekaligus pasangan Didi Kempot di album duet ”Pokoke Melu” itu, menjawab pertanyaan newsreal.id, kemarin. (Won Poerwono-bersambung)

Tinggalkan Pesan