raja-kecil-solo7
MENJADI PATRON : Penampilan duet Didi Kempot dengan Inul Daratista di Solo sekitar tahun 2004, sungguh melukiskan bagaimana congdut mulai ditegaskan sebagai campursari yang sangat dekat dengan dangdut, hingga keduanya bersenyawa ngeblend menjadi genre tersendiri. (newsreal.id/Won Poerwono)

”Kerajaan Campursari” Itu Sudah Selesai ? (3-bersambung)

SAMPAI menjelang ajal tiba, Didi Kempot berna-benar sudah sampai di puncak keberhasilannya, baik sebagai seniman yang berjuang dari bawah dan memperoleh hasil berlimpah secara ekonomi, meraih nama besar musisi berkelas internasional, maupun sukses membawa musik campursari menjadi genre tersendiri.

Sukses berikut, adalah dicapainya ”mahkota kehormatan” sebagai ”raja besar” atau ”Ratu gung binathara” di ”kerajaan campursari” yang pernah dibangun bersama-sama para musisi lintas genre sejak tahun 1960-an.

raja-kecil-solo11
TOKOH PELOPOR : Musisi keroncong langgam Jawa Gesang Martohartono dan juga Andjar Any (pencipta lagu) saat menerima penghargaan seni di Solo tahun 1990-an. Keduanya adalah tokoh-tokoh pelopor musik campursari dari wilayah genrenya, yang kini sudah menjadi genre mandiri. (newsreal.id/Won Poerwono)

Ibarat yang diharap hanya ”mahkota Raja Kecil”, tetapi yang datang atau diterima ”mahkota Raja Besar”, yang dalam cerita pewayangan sering disebut ”Ratu Gung Binathara”. Ratu adalah raja, ”gung” adalah agung dan ”binathara” adalah punya sifat-sifat seperti ”bathara” atau dewa, tetapi dalam hal ini adalah dalam proses tercapainya keberhasilan itu.

Gelar itu tentu tidak sama dengan yang ada dalam sejarah kerajaan secara riil, misalnya yang ad di Keraton Surakarta dan 48 kerajaan di Nusantara yang masih eksis sampai sekarang.

Melainkan hanya sebuah kiasan atau memberi sebutan yang identik dengan gelar itu, bila mengingat keberhasilannya di bidang musik campursari atau dangdut Jawa sampai akhir hayat, 5 Mei lalu.

Semula Ibarat ”Mupus”

Sebenarnya anak keempat pelawak kodang Ranto Edy Gudel itu lebih suka mengibaratkan dirinya sebagai ”Raja Kecil”, sebagai sebuah sikap untuk ”mupus” atau realistik terhadap peta kondisi industri musik nasional, tetapi tidak disadari malah menjadi strategi untuk bertahan atau mempertahankan ciri-ciri dan identitas serta karakter musik yang digelutinya yang penuh simbol-simbol budaya Jawa.

Tetapi sikap itu diakui antara 3-5 tahun lalu, karena sangat disadari bahwa musik dan karya-karyanya memiliki perbedaan dengan yang lain, bahkan punya ciri dan karakter yang spesifik menunjuk pada identitas dirinya sebagai orang Jawa tulen.

Di sinilah, konsistensi Didi Kempot benar-benar diperlihatkan dan terkesan sangat bangga dengan gaya dan karakternya dalam bermusik dan berkarya.

Selain menyanyikan karyanya sendiri dangdut berbahasa Jawa, di situ bisa mengekspresikan perasaannya dari suasana kehidupan masyarakat menengah ke bawah yang serba bikin ”nggrantes”.

Dari lirik-lirik lagunya, Didi memperlihatkan kemampuannya merekam dan mengekspresikan suasana kehidupan dan perilaku/sikap ”wong” Jawa dalam kehidupan sosial keseharian secara orisinil.

raja-kecil-solo8
DAYA DUKUNG KUAT : Untuk membangun ”kerajaan campursari”, Didi Kempot memiliki daya dukung banyak sekali, antara lain keluarga besarnya yang berlatarbelakang seniman. Semisal salah seorang kakaknya, Sentot (alm), yang juga menjadi anggota barisan penyanyi Didi Kempot Management (DKM). (newsreal.id/Won Poerwono)

Benar-benar Menguasai

Perjalanan panjang sebagai kelompok pengamen trotoar (Kempot) di Jakarta, telah memberi pelajaran berharga kepadanya, terutama kemampuan merekam suasana kehidupan dan perilaku/sikap kehidupan sosial secara umum dan ”wong” Jawa secara khusus.

Dia bahkan sudah menguasai cara pandang orang Jawa untuk keperluan merekam suasana, yang kemudian diekspresikan dalam lirik-lirik lagunya dengan tepat, baik dan manis. Terkesan, dia benar-benar menguasai maksud dan makna lagu dan pesan yang disampaikan kepada publik.

”Tetapi, semua itu sudah lewat. Dalam 3-4 tahun terakhir sampai mas Didi mendahului kami semua, boleh dikatakan kesan itu sudah sirna. Musik dangdut Jawa atau campursari sudah mendapat tempat di hati sebagian besar bangsa kita.

Bahkan dicintai banyak orang di beberapa negara lain,” tutur Yan Vellia menjawab pertanyaan newsreal.id, kemarin.

Dengan sejumlah sukses yang diraih dalam 2-3 tahun belakangan, terutama konser karya-karyanya nyaris di semua TV nasional, konser off air di berbagai pelosok tanah air dan di luar negeri sampai konser amal di berbagai tempat di tengah pandemi Corona sampai ajal menjemput 5 Mei lalu, Didi tidak hanya menjadi ”Raja Kecil”.

Pandai Mengolah Rasa

Dengan capaiannya itu,adik kandung pelawak Srimulat, Mamik (Prakosa) Podang itu, justru sangat pantas berada di posisi sebagai ”Ratu Gung Binathara”, karena kemampuannya mengolah rasa lagu-lagu yang diciptakan dan diekspresikannya di atas panggung.

raja-kecil-solo9
MENCOBA ”MENGGIRING” : Manthous ketika tampil duet dengan Nyi Anik Sunyahni di Gedung Wanita, Solo sekitar 20 tahun silam. Penampilan itu melukiskan musisi campursari Gunung Kidul itu mulai ”menggiring” pesinden yang berasal dari genre musik tradisional Jawa karawitan. (newsreal.id/Won Poerwono)

Lihat saja bagaimana ketika kita menyaksikan konser-konser on air di sejumlah TV swasta nasional di Jakarta yang seakan berurutan menggilirnya, juga konser off air di berbagai kota besar yang mampu menghipnotis puluhan ribu penonton, dengan aneka ekspresi yang sangat bervariasi, sampai lapangan terlihat hinggar-bingar dan padat.

Bagaimana ketika kita mendengar Didi Kempot mengekspresikan lagu ”Cidra”, ”Banyu Langit”, ”Bojo Anyar”, ”Kalung Emas”, ”Suket Teki” dan ratusan lagu lain yang bertema ”trenyuh” dan ”nggrantes” itu, sungguh pantas membuatnya dijuluki ”The God Fathher of Broken Heart”.

Bagaimana sukses seorang musisi yang tadinya ingin menjadi ”Raja Kecil” dan lebih suka disebut musisi Dangdut Jawa, banyak rekan-rekannya sejawat yang memiliki komentar beragam.

Sebut saja dalang kondang Ki Manteb Soedarsono yang pernah ketemu almarhum ketika sama-sama mengisi acara peringatan HUT Kemerdekaan RI di halaman Istana Merdeka, Jakarta, awal Agustus 2019.

Disiplin Cukup Tinggi

”Didi Kempot pancen wis tekan sing digoleki. Ning ketoke rada lali ngrumat awake. Kuwi yen ditonton saka kewajibane saben wong sing kudu ngrumat awak lan nggatekne nyang kesehatane.

Ning yen rembugan soal pinasti, ya pancen kudu tekan semono. Merga urusan kuwi sing ngerti lan sing murba mung sing gawe urip,” tegas Ki Manteb yang dimintai pendapatnya oleh newsreal.id, belum lama ini.

raja-kecil-solo10
MEMBANGUN DUKUNGAN : Didi Kempot punya cara tersendiri untuk membangun dukungan bagi terwujudnya bangunan ”kerajaan campursari” seperti yang kini sudah terwujud, antara lain melibatkan Bupati Karanganyar, Rina Iriani untuk berduet baik dalam album yang diproduksi maupun pentas off air.(newsreal.id/Won Poerwono)

Bagi Cak Diqin, rekannya sejawat di dunia campursari, Didi Kempot adalah sosok seniman yang tidak pernah lekang karena panas, dan tidak lapuk karena hujan.

Disiplinnya cukup tinggi dalam berkarya, hingga tidak pernah mau ”nyambi” dengan aktivitas dan hobi lain di luar musik campursari.

‘Tentu saja, masyarakat luas merasa kehilangan sosoknya. Tetapi, musik campursari (dangdut Jawa), tidak akan berhenti di situ, walau kini mas Didi sudah meninggalkan kita.

Saya akan berkarya terus, mengikuti dinamika budaya dan sosial masyarakat,” ujar Cak Diqin, musisi yang pernah terjun ke politik praktis sebagai caleg, ketika dihubungi newsreal.id melalui kontak WAnya, belum lama ini.(Won Poerwono – bersambung)

Tinggalkan Pesan