tes-swab-karanganyar
TES SWAB : Para anggota tim pemulasaraan jenazah BPBD Karanganyar dites swab untuk memastikan kesehatan mereka. (newsreal.id/Joko DH)

KARANGANYAR,newsreal.id – Sebanyak 25 dari 28 anggota tim pemulasaraan jenazah Covid-19 Karanganyar menjalani tes swab untuk memastikan mereka tidak tertulari virus wabah ini yang menakutkan masyarakat saat ini.

‘’Mereka memang kita prioritaskan untuk diperiksa karena mereka setiap hari bersinggungan dengan virus tersebut meski sudah sering dipesan bahwa yang mereka hadapi adalah orang yang sudah meninggal namun kekhawatiran itu tetap ada,’’ kata dokter Chatarina, Kabid Penunjang Medis RSUD Karanganyar, Kamis.

Para anggota tim diperiksa seksama mulai dari sampel darahnya serta sampel ingus dan ludah yang ada di tenggorokan. Semua dilakukan petugas medis dengan pakaian lengkap alat Pelindung Diri dan siapapun dilarang berlalu lalang di tempat pemeriksaan untuk menjaga agar steril.

Dia memang menyatakan tim-tim tertentu memang diprioritaskan untuk diswab. Meski tidak semua orang harus diswab apalagi ditanggung negara sebab untuk tes swab memang mahal. Jika periksa mandiri bisa sampai Rp 2 juta perorang.

Itupun sampel darah dan ingus dibawa ke RS UNS di Kleco atau dibawa ke RS Moewardi yang memang memiliki alat pemeriksaan swab tersebut. Dan antreannya sangat banyak, sehingga hasilnya baru tiga minggu keluar. Karena itu harus dimaklumi jka lama.

Chatarina mengatakan, termasuk wartawan sebetulnya disarankan untuk mengikuti tes swab untuk mengetahui kesehatannya sebab mobilitas yang tinggi sehingga memungkinkan bersinggungan dengan siapa saja.

Rauf Musthofa salah seorang koordinator tim relawan yang ada di BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) yang diperiksa mengakui selama tim terbentuk dirinya baru tiga kali menangani mayat penderita covid positif. Lainnya bukan penderita covid.

‘’Memang tim pemulasaraan tidak hanya merawat jenazah penderita Covid-19 saja, sebab masyarakat atau rumah sakit meminta bantuan tenaga kami untuk merawat mayat yang bukan karena tertular corona juga. Namun karena meninggal saat pamdemi ini prosedur tetap dilakukan terhadap mayat yang meninggal,’’ kata dia.

Warga sering meminta bantuan jasa mereka semata-mata karena kekhawatiran saja. Sehingga dengan prosedur yang ada maka tim turun tangan dari membungkus mayat sampai memakamkan di kuburan. Mereka turun dengan APD lengkap.

Rata-rata anggota tim sudah terlatih setelah sebelumnya menerima pelatihan dari RSUD dan kemudian mereka stang by. Jika ada kabar mayat yang perlu dirawat sampai selesai, maka mereka yang ada langsung bergerak. Tidak ada yang sungkan-sungkan. (Joko DH)

Tinggalkan Pesan