rapid-test
FOTO ILUSTRASI

KLATEN,newsreal.id – Pandemi Covid-19 sangat berpengaruh pada kehidupan mqsyarakat, termasuk kalangan santri yang harus pulang kampung. Bila program new normal diterapkan, masyarakat harus siap, termasuk kalangan pondok pesantren untuk antisipasi kedatangan santri dengan rapid test. Bila tidak, maka dikhawatirkan akan muncul klaster baru dari pesantren karena santri berasal dari berbagai daerah di luar Klaten.

”Saya telah melakukan serap aspirasi dari para kiai atau pengasuh pondok pesantren di Klaten, diharapkan Pemkab Klaten memihaki anggaran untuk melakukan rapid test di pesantren guna mencegah munculnya klaster baru,” kata Ketua DPC PKB Klaten H Ahmad Mutohar SAg, Kamis (4/6).

Baca : PKB Klaten Salurkan 1.500 Paket Sembako Untuk Kiai dan Guru Ngaji

Hal itu diungkapkan usai menggelar reses bersama warga dan kader PKB, serta menyerahkan bantuan APD dari Drs Muhamad Toha MSi, anggota DPR RI Fraksi PKB untuk Puskesmas Cawas 1. Penyerahan dilakukan di gedung pertemuan Desa Plosowangi, Kecamatan Cawas, Klaten, Kamis (4/6),

Acara dihadir Camat Cawas Drs Muh Prihadi MSi, Kepala Puskesmas Cawas 1 dr Ambar Retnoningsih, Waka Polsek Cawas Iptu Sugino dan tamu lainnya. Kepala Puskesmas sempat memberikan pengarahan tentang penxegahan dan penanganan Covid-19.

Anggota DPRD Klaten itu prihatin dengan naik kembalinya jumlah warga Klaten yang dinyatakan positif covid19. Sebelumnya, jumlah warga positif sempat turun menjadi 6 orang, namun kembali naik menjadi 9 orang. Kewaspadaan dan semangat gotong royong masyarakat sangat diperlukan untuk mengikuti protokol kesehatan.

Baca : PKB Klaten Mantap Koalisi Usung Calon Bupati Arif Budiyono

”Para kiai atau pengasuh pondok pesantren prhatin dan resah, bila new normal diterapkan dan pesantren aktif lagi, maka pesantren harus siap isolasi mandiri 14 hari dan rapid test. Pengasuh pesantren minta Pemkab dan Gugus Tugas Covid-19 Klaten untuk menganggarkan rapid test,” tegas Mutohar didampingi Sekretaris DPC PKB Klaten Sri Hermoyo.

Saat ini, di Klaten ada 59 pondok pesantren di 26 Kecamatan, ada yang mempunyai santri banyak, ada yang sedikit. Sebaiknya semua pesantren dibantu rapid test dan fasilitas surat kesehatan. Santri yang akan kembali ke pondok diikutkan rapid test dan isolasi 14 hari di luar pondok. Selama itu, diberikan bantuan kebutuhan santri.

”Ada permintaan orang tua santri agar pesantren dibuka kembali. Mereka khawatir putra-putrinya terpengaruh hal negatif dari lingkungan. Kalau anak-anak belajar di pesantren, diyakini lebih aman dan orang tua merasa tenang,” ujar dia.

Baca : Temu Kader KB dan Jambore Penyuluh Kesehatan Klaten

Pemkab Klaten mempunyai anggaran sekitar Rp 80 miliar untuk pencegahan dan penanganan Covid-1/9, jaminan sosial dan kebutuhan lainnya. Dia menilai, langkah Pemkab Klaten sudah baik dan kini semua sedang mempersiapkan diri mnghadapi masa new normal. (Merawati Sunantri)

(red)

Tinggalkan Pesan