sisi-lain-lord-kempot1
KELUARGA BAHAGIA : Didi Kempot (alm) bersama istri Yan Vellia dan kedua anak hasil perkawinannya, merupakan keluarga bahagia. Dua anak hasil perkawinannya diharapkan bisa meneruskan sebagai pelestari karya-karya almarhum ayahnya. (newsreal.id/dok)

“Kerajaan Campursari” Itu Sudah Selesai ? (4-bersambung)

APAKAH ”kerajaan campursari” sudah selesai dengan meninggalnya Sang Maestro Didi Prasetyo ”Kempot”?. “Tidak!. Jangan sampai!,” tegas Wawan Listiawan (50) yang punya nama panggung ”Mbolo”, menjawab pertanyaan newsreal.id yang menghubungi via hpnya, tadi siang.

Mengapa jawaban master of ceremony (MC) Mbolo yang sangat kondang di panggung-panggung pertunjukan campursari, juga hajadan perkawinan di gedung-gedung pertemuan di Solo Raya itu seakan ”melarang” atau memperingatkan agar ”kerajaan campursari” yang pernah dibangun Didi Kempot dibiarkan berhenti atau mati begitu saja?.

Mengapa seakan-akan MC Mbolo tidak rela kalau kerajaan campursari yang menempatkan Didi Kempot sebagai rajanya, berhenti atau selesai begitu saja karena tidak ada yang peduli atau tidak ada yang meneruskan?

”Tanpa perlu saya atau orang lain menyarankan, seharusnya semua yang ditinggal segera sadar untuk meneruskan perjalanan almarhum. Beliau sudah membangun kerajaan campursari. Keluarga besar yang ditinggal almarhum punya tanggung jawab besar menjaga kelestarian ‘kerajaan campursari’ itu”.

”Tanpa perlu diminta, orang-orang seperti saya juga wajib meneruskan perjuangan almarhum. Setidaknya merawat kerajaan campursari, yaitu melestarikan budaya Jawa. Dengan berbagai cara sesuai kemampuan saya”.

”Misalnya, saat bertindak sebagai MC, sedikit menyela, mengajak tamu/penonton untuk menyanyikan salah satu karya almarhum. Itu sudah merupakan bentuk penghormatan terhadap Sang Maestro,” papar Mbolo yang selalu tampil dengan rambut disemir merah, kadang putih dan kuning itu.

Kejayaan Budaya Jawa

Dalam pandangan Mbolo, kerajaan campursari yang berhasil dibangun Didi Kempot dan sejumlah nama besar lain seperti Waldjinah, Gesang Martohartono, Andjar Any, Manthous, Sony Joss, Cak Diqin dan sebagainya, telah memperoleh beberapa pencapaian.

sisi-lain-lord-kempot2
DIKARUNIAI DUA ANAK : Foto kenangan Didi Kempot (alm) dengan istri yang asal dan tinggal di Ngawi (Jatim), bersama seorang dari dua anak hasil perkawinannya. Remaja itu sangat diharapkan menjadi penerus pelestari karya-karya almarhum ayahnya. (newsreal.id/dok)

Selain menjadi genre tersendiri, musik campursari yang belakangan sangat diwarnai karya-karya Didi Kempot, telah membuktikan kemenangan bahasa Jawa dalam karya musik dangdut/campursari atau kemenangan budaya Jawa. Bahkan Mbolo mengakui, sebagai kejayaan budaya Jawa.

Perihal pilihan antara nama/tema genre dangdut Jawa atau campursari yang disebut lebih nyaman bagi Didi Kempot, menurut Mbolo memang setuju dengan pilihan yang jatuh pada nama/tema dangdut Jawa.

Sebab, MC yang sering juga berperan sebagai pelawak ini memandang nama Jawa lebih jelas dan tegas menyebut dan menunjuk, sehingga mudah dimengerti publik atau penggemar musik campursari.

Didi Kempot Orang Pertama

Tetapi, nama/sebutan/tema campursari dipandang juga sangat mewakili musik etnik (budaya) Jawa, karena istilah berasal dari khasanah bahasa Jawa dan sangat dikenal untuk membedakan ragam dalam musik Jawa, baik seni karawitan/klenengan maupun keroncong/langgam Jawa.

”Ketika capaian almarhum sudah sampai pada kejayaan campursari itu, sudah berarti pula kejayaan dangdut yang berbahasa Jawa. Tentu saja itu kejayaan budaya Jawa. Dalam kerangka itulah saya menilai, mas Didi Kempot adalah orang pertama yang mampu membawa musik berbahasa Jawa mampu menembus dunia”.

”Bu Waldjinah, pak Gesang dan pak Andjar Any (alm) serta yang lain-lain, sudah sama-sama membesarkan campursari. Tetapi belum sampai seperti yang dicapai mas Didi Kempot. Campursari/dangdut Jawa dikenal luas di Tanah Air sampai jauh dia luar negeri”.

”Dalam cuplikan komentar tentang meninggalnya almarhum yang saya lihat di beberapa TV, banyak musisi bule yang sangat fasih menyanyikan karya-karya almarhum. Ini adalah kejayaan bahasa Jawa, sastra Jawa dan kejayaan budaya Jawa. Sebelumnya tidak ada yang sampai seperti ini,” sebut MC berpengalaman yang selalu berpasangan dengan Eko Gudel, adik bungsu Didi Kempot yang juga seorang MC.

sisi-lain-lord-kempot3
DIKARUNIAI TIGA ANAK : Perkawinan Didi Kempot (alm) dengan seorang istri di daerah Kabupaten Klaten, dikaruniai tiga orang anak yang menginjak remaja. Mereka diharapkan menjadi calon penerus pelestari karya-karya almarhum ayahnya.(newsreal.id/dok)

Mbolo dan Eko Gudel, adalah pasangan MC andal terutama bagi grup orkes keroncong campursari (OKC) Lare Jawi yang pernah dibentuk dan dipimpin Didi Kempot. Meski ditinggal tokoh yang pernah mendirikannya, grup dangdut Jawa atau campursari itu tetap eksis.

Masih 31 Show

OKC Lare Jawi dan duet MC berpengalaman Mbolo-Eko Gudel, adalah menjadi satu paket yang tergabung dalaqm Didi Kempot Management, di mana sang istri Yan Vellia yang memimpin selaku manajer. Namun kelihatannya, bukan Eko Gudel atau anak-anak almarhum yang bisa menggantikan peran sebagai ”Raja kecil atau besar” untuk meneruskan Kerajaan Campursari.

Sebab, ketika diminta tanggapan newsreal.id di tempat terpisah, sang istri, Yan Vellia menyatakan keinginannya untuk melanjutkan karya-karya almarhum dan akan terus melestarikan budaya Jawa melalui ajang pertunjukan musik campursari/dangdut Jawa, meski tanpa kehadiran almarhum.

Dalam pernyataan itu, ibu dari dua anak hasil perkawinannya dengan Didi Kempot itu juga tidak menyebut nama Eko Gudel atau anak-anak Didi Kempot yang lahir dari istri lain. Ataupun menyebut duet MC Eko Gudel dan Mbolo untuk mewujudkan 31 kali show atau titik pentas off air di berbagai daerah yang kontraknya sudah ditandatangani menejmen sampai November nanti.

”Rencana saya akan mengajak Deny Caknan (penyanyi asal Ngawi/Jatim) untuk tampil menggantikan papi (sebutan akrab sang istri terhadap Didi Kempot). Tapi pasti akan kami bicarakan dulu dengan masing-masing pihak pengundang,” ujar Yan Vellia, pelantun single ”Pokoke Melu” itu.

Entuk Donyane Wong Jawa

Siapapun yang akan dipasang sebagai pengganti almarhum, terutama untuk pentas-pentas off air, jelas bukan sosok almarhum, dan jelas sangat beda dalam banyak hal meski ada kemiripan suaranya. Artinya, mungkin hanya sekadar menggantikan menyanyikan lagu-lagunya.

sisi-lain-lord-kempot4
DI PUSARAN KERAJAAN : MC yang juga pelawak, Wawan Listiyanto ”Mbolo” dan Eko Gudel mengapit Didi Kempot dalam sebuah acara beberapa waktu lalu. Keduanya adalah orang-orang dekat almarhum yang berada di pusaran kerajaan campursari. (newsreal.id/dok)

Persoalan-persoalan seperti itulah yang mungkin akan dihadapi DKM, ketika kembali diundang pemerintah Suriname dan warga keturunan Jawa yang jumlahnya sekitar 500 ribu orang itu. Atau ketika memenuhi perjanjian kontrak show yang sudah ditandatangani.

Sebab, warga Suriname di luar keturunan Jawa dan pemerintah yang sudah banyak melibatkan orang-orang keturunan Jawa, sudah terlanjur punya ”jembatan penghubung” secara kultural Jawa dengan orang Indonesia yang bernama Didi Kempot.

Boleh dikatakan, dengan mengundang Didi Kempot bersama grupnya, warga Suriname itu seakan merasa kembali ke alam dan masa di mana hidup di antara sesama ”bangsa” Jawa ratusan tahun lalu.

”Aku ngundang mas Didi Kempot karo kanca-kanca, rasana kaya entuk donyane wong Jawa meneh, kaya sing dialami lan sing dicritakne simbah-simbahku,” ujar Ricardo Kromosentono (35), seorang pengusaha muda asal Suriname yang dijamu Didi Kempot di sebuah restoran, saat berkunjung ke Solo awal 2018 silam.

Mewakili Citra Wong Jawa

Ungkapan generasi kelima keturunan Jawa dari ratusan orang Jawa yang pernah dibawa Belanda ke Suriname untuk menjalani kerja paksa (culture stelsel) itu, memang sangat beralasan.

Karena, sosok Didi Kempot memang sangat reresentatif dan lengkap mewakili bagaimana citra wong Jawa, yang masih melestarikan budaya sisa-sisa yang dialami dan dilakukan nenek-moyangnya ratusan tahun lalu.

sisi-lain-lord-kempot5
DI TANAH LELUHUR : Didi Kempot bersama sahabat karibnya, Wawan Listiyanto ”Mbolo”, saat berpartisipasi mengibur warga di tanah leluhurnya, di Desa Majasem, Kecamatan Kendal, Ngawi (Jatim) yang sedang merayakan HUT Kemerdekaan RI, beberapa waktu lalu. (newsreal.id/Won Poerwono)

Karena, selain medium bahasa yang digunakan, banyak istilah-istilah Jawa yang dipakai sekitar tahun 1800-an masih digunakan Didi Kempot, misalnya dalam lirik-lirik lagu karyanya. Misalnya kata ”Cidra”, yang justru dipakai sebagai judul lagu. Juga kata ”mblenjani” (mbalenjani-Red), ”ketaman asmara” dan sebagainya.

Selain itu, postur dan ciri-ciri Didi Kempot, juga tidak jauh berbeda dengan para leluhur bahkan generasi keturunan Jawa yang hidup di Suriname masa kini. Terlebih, Didi Kempot selalu tampil di panggung dengan busana ”Jawi jangkep”, atau beskap landung lurik, sebagai ciri atribut adat wong Jawa, yang juga sebagai bentuk konsistensinya dalam melestarikan budaya Jawa. (Won Poerwono-bersambung)

Tinggalkan Pesan