Screenshot_rapid_test
FOTO/DOK

SOLO,suaramerdekasolo.com – Jumlah pasien terkonfirmasi positif Covid-19 asal Solo meroket, Rabu (15/7). Sebagian besar lonjakan itu diperoleh dari penelusuran Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Surakarta atas kasus-kasus sebelumnya.

Berdasarkan data gugus tugas, Rabu terjadi penambahan pasien sebanyak 29 orang sehingga total kasus positif Covid-19 berjumlah 100 kasus. Per hari yang sama, sebanyak 32 pasien menjalani rawat inap, 22 menjalani isolasi mandiri, 41 pasien dinyatakan sembuh dan lima pasien meninggal dunia.

Sekretaris gugus tugas Siti Wahyuningsih merinci, pasien-pasien baru tersebut adalah tenaga kesehatan (nakes) RSUD dr Moewardi (13 orang), keluarga pedagang tahu kupat di daerah Purwosari (enam orang), pedagang Pasar Harjadaksina (satu orang), serta kontak erat dan kontak dekat almarhum anggota DPRD Jateng Syamsul Bahri (dua orang).

“Sisanya adalah satu kasus mandiri, di mana pasien tersebut mendatangi Puskesmas Pajang dengan membawa hasil swab yang menyatakan ia positif terinfeksi korona. Ada juga warga Semarang yang mengunjungi keluarganya di Purwosari dan Karangasem, dan mengakibatkan enam anggota keluarganya terinfeksi,” ungkap Siti.

Berdasarkan hasil penelusuran gugus tugas, imbuh dia, sebagian kontak erat dan kontak dekat lain dari pasien Covid-19 sebelumnya saat ini berdomisili di luar kota.

“Dari penelusuran pedagang tahu kupat misalnya, ada kontak yang dinyatakan positif yang tinggal di Sukoharjo dan Sragen. Mereka ditangani dinas kesehatan setempat dan tidak dimasukkan ke dalam data kami,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Surakarta ini.
Atas penambahan pasien ini, gugus tugas bakal memasifkan penelusuran terhadap seluruh kontak pasien.

“Kami masih akan tracing lagi dan mematangkannya. Siapa tahu ada tambahan.”

Terpisah Kasubbag Hukum dan Humas RSUD dr Moewardi Eko Haryati menjamin pelayanan kepada pasien tidak terganggu, kendati sebagian nakes di rumah sakit tersebut terinfeksi korona.

“Jumlah nakes banyak, tidak ada masalah dengan pelayanan. Jumlah pasien kami juga masih biasa,” tegasnya.

Ia beralasan, sebagian nakes tersebut merupakan dokter yang tengah menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). “Jadi bukan penanggungjawab pasien. Tapi kami masih terus melakukan tracing internal, karena dokter PPDS juga berkontak dengan yang lain,” jelas Eko. (Agustinus A)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan