maklumat-keraton-surakarta2
TAK ADA KIRAB : Spanduk yang dibentak di ujung timur halaman Kamandungan kompleks Keraton Surakarta, mengumumkan Sinuhun PB XIII tidak mengadakan kirab pusaka menyambut 1 Sura karena pandemi Covid 19. Tetapi Gusti Moeng bersama warga LDA, menggelar doa wilujengan di Masjid Agung mulai pukul 20.00 WIB malam ini. (newsreal.id/Won Poerwono)

 *Sekaligus Peringati 75 Tahun Makloemat Sinuhun PB XII

SOLO,newsreal.id – Malam ini, untuk kali kedua masyarakat adat yang terwadahi dalam Lembaga Dewan Adat (LDA) Mataram Surakarta, kembali menyambut Tahun Baru Jawa 1 Sura 1954 cukup dengan doa wilujengan di kagungandalem Masjid Agung Keraton Mataram Surakarta. Doa dan pengantarnya dirancang singkat, hanya sekitar sekitar 60 menit, dan pesertanya juga dibatasi 600-an orang.

”Semua yang hadir harus mengenakan masker. Duduknya lesehan di ruang dan teras masjid yang cukup luas itu. Pokoknya, semua aturan protokol kesehatan Covid 19, harus terpenuhi ketat,” tegas KPH Edy Wirabhumi selaku penyelenggara kegiatan doa untuk uda hal itu, menjawab pertanyaan para awak media dalam konferensi pers yang diadakan di Solo.

Baca : Takjil Laporkan Dugaan Pelanggaran Kode Etik Bawaslu Kota Surakarta ke DKPP

Khusus untuk peserta, karena dibatasi hanya sekitar 600 orang, setiap cabang Pakasa yang tersebar di Solo Raya, wilayah Jateng lainnya dan DIY serta Jatim, hanya diminta hadir perwakilan yang jumlahnya 5-10 orang. Dan jumlah 600 itu, disesuaikan dengan ketersediaan ruang di Masjid Agung dengan protokol Covid 19, sehingga duduknya harus berjarak.

Untuk memaksimalkan aturan jaga jarak, teras masjid yang lumayan luas juga disediakan untuk memenuhi kebutuhan itu. Karena aturan protokol ketat seperti ini, maka bagi kalangan kerabat yang tidak termasuk perwakilan yang ditunjuk, diminta LDA selaku penyelenggara untuk tetap berdoa dari rumah.

Menurut Pimpinan Lembaga HUkum Keraton Surakarta (LHKS) itu, meskipun tahun ini upacara adat kirab pusaka menyambut 1 Sura ditiadakan karena pandemi Corona, bukan berarti masyarakat (Jawa) tidak bisa berdoa atau kurang memenuhi syarat bila tidak datang  ke Solo untuk melihat kirab.

maklumat-keraton-surakarta3
TAK ADA PERSIAPAN : Karena Sinuhun PB XIII tidak mengadakan apa-apa untuk menyambut 1 Sura, termasuk kirab pusaka, Koordinator Pengelola Alkid juga tidak mengadakan kegiatan persiapan di kandang kagungandalem mahesa bule di Alkid. Suasananya biasa-biasa saja, bahkan ada spanduk pengumuman kirab ditiadakan dipasang di situ. (newsreal.id/Won Poerwono)

Justru sebaliknya, berdoa bisa dilakukan di mana saja, dalam hal ini lebih aman dan nyaman dilakukan di rumah saja. Selain prosesi kirab ditiadakan, seandainya ada dan mengundang ribuan orang berdatangan di Solo, justru membahayakan kesehatan diri, keluarga dan orang lain, karena kerumunan yang terjadi bisa menjadi sumber penularan baru Covid 19.

Baca : Gibran-Teguh Pasti Menang, Yen Nyambut Gawe

”Maka saya minta, bagi yang tidak termasuk perwakilan yang ditunjuk, kami mohon untuk berdoa dari rumah saja. Nyenyuwun dan tirakhat kepada Tuhan di rumah saja. Ini demia keamanan semuanya. Tahun depan masih ada peringatan 1 Sura. Dan upacara adat ini, sudah beberapa kali ditiadakan untuk kepentingan yang lebih besar,” jelas Ketua Harian Majlis Adat Keraton se-Nusantara (MAKN), menjawab pertanyaan newsreal.id seusai konferensi pers.

Sering Ditiadakan

Perihal kirab pusaka yang absen, tradisi yang dilakukan Keraton Mataram Surakarta meneruskan yang pernah dilakukan para leluhur di Keraton Demak (1478-1546), sudah beberapa kali terjadi. Di saat-saat genting seperti terjadinya peperangan sebelum sampai di saat puncak revolusi 1945, dan saat tragedi G30S/PKI, juga ditiadakan sampai bertahun-tahun.

maklumat-keraton-surakarta4
JUGA PASANG SPANDUK : Pura Mangkunegaran juga pasang spanduk di gapura pintu masuk Pamedan Pura, yang menyebut kirab pusaka menyambut 1 Sura yang biasanya digelar malam menjelang yaitu nanti malam pukul 19.00, ditiadakan.(newsreal.id/Won Poerwono)

Dalam catatan newsreal.id, sejak era Orede Baru hingga berjalan 50-an tahun ini, ritual kirab pusaka 1 Sura sebelumnya juga pernah absen. Yaitu ketika Sinuhun PB XIII tidak mengizinkan pusaka dikeluarkan karena alasan subjektivitas yang sulit diterima akal sehat, sebelum tahun 2017.

Baca : Janji Makin Transparan Perjuangkan Aspirasi

”Waktu itu yang kirab hanya para kerabat dan para petugasnya saja. Berdoa sambil berkeliling rute kirab. Intinya, saat kirab, ada tiga tempat sekaligus yang bareng menjalankan doa. Di kedhaton (di dalam), di Masjid Pudyasana dan di Masjid Agung”.

”Dan yang sedang kirab itupun sebenarnya adalah doa. Maka, yang kirab sebenarnya tidak boleh bersikap selain terkonsentrasi untuk doa,” timpal GKR Wandansari Koes Moertiyah selaku Ketua LDA dan penanggungjawab acara, yang dihubungi di tempat terpisah, tadi pagi.

Doa wilujengan menyambut 1 Sura yang akan digelar untuk kali kedua setelah tahun 2019, akan dimulai pukul 20.00 WIb dan diharapkan selesai pukul 21.30 WIB. Meskipun, di dalamnya ada penyuwunan kepada Tuhan YME atas ”Makloemat” Sinuhun PB XIII yang sudah berusia 75 tahun, tepat 19 Agustus ini.

”Karena isinya sangat penting. Baik bagi Keraton Mataram maupun negara/pemerintah, serta seluruh rakyat Indonesia. Selain untuk dipahami, juga terkandung maksud untuk mengingatkan banyak pihak. Tentang kaitan keraton dengan lahirnya NKRI”.

Baca : Syarat Belum Lengkap, Miliaran Dana Bantuan Untuk Peternak Tertunda

” Tentang apa yang sudah dikorbankan keraton. Juga tentang kewajiban pihak-pihak seharunsya  memberikan hak-hak keraton,” tandas Ketua LDA yang akrab disapa Gusti Moeng itu. (won)  

Tinggalkan Pesan