uns-pelatihan-desa-gledeg-uns
PELATIHAN: Tim Riset Grup Sumber Daya Alam dan Lingkungan Berkelanjutan Universitas Sebelas Maret (UNS) yang diketuai Dr Margono menggelar pelatihan untuk petani Desa Gledeg, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten untuk menghasilkan beras rendah glikemik indeks. (newsreal.id/Evie K)

SOLO,newsreal.id – Beras dengan glikemik indeks (GI) yang rendah tengah menjadi tren di kalangan masyarakat. Beras tersebut selain lebih sehat juga aman dikonsumsi oleh penderita diabetes agar kadar gula darahnya terkontrol. Harga beras rendah GI tersebut cukup tinggi di pasaran namun tidak banyak petani yang bisa menghasilkannya.

Dilatar belakangi kondisi tersebut, Tim Riset Grup Sumber Daya Alam dan Lingkungan Berkelanjutan Universitas Sebelas Maret (UNS) yang diketuai Dr Margono menggelar pelatihan untuk petani di Desa Gledeg, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten untuk menghasilkan beras rendah GI tersebut.

“Harga beras rendah GI lebih tinggi dibanding beras biasa sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan petani. Prosesnya pun tidak sulit untuk dilakukan petani sehingga kami berniat memberikan pelatihan akan hal itu, ” kata Ketua Tim Dr Margono.

Beras tersebut, lanjut Margono, juga cocok untuk orang-orang yang ingin melakukan diet rendah kalori. Sebab indeks glikemik yang rendah artinya adalah nasi yang dikonsumsi akan diurai menjadi glukosa dalam darah dalam kecepatan yang lambat (perlu waktu yang lebih lama).

Dipaparkan, desa Gledeg merupakan daerah dengan irigasi yang terjamin kebutuhan airnya sepanjang tahun. Oleh karena itu sawahnya merupakan penghasil padi, dengan panen rata-rata 3 kali setahun. Hanya saja, harga panen tidak selalu stabil. Seringkali setiap panen hanya laku dijual sekitar Rp 2 juta hingga tak lebih dari Rp 5 juta jika harga baik. Belum lagi kalau ada hama wereng atau tikus yang melanda sawah, maka petani bisa juga tidak panen.

Dalam rangka meningkatkan nilai panen padi maka Tim mengadakan pelatihan pengolahan padi pascapanen. Pelatihan tersebut berupa pelatihan produksi beras berindeks glikemik rendah dengan metode pratanak.

Adapun prosesnya lanjut Margono meliputi beras dicuci bersih terlebih dulu kemudian direndam selama 6 – 12 jam. Setelah itu, tiriskan sampai tuntas dan dikukus dengan panci bertekanan hingga masak. Selanjutnya beras dinginkan kemudian dikeringkan lalu jadilah beras IG rendah

“Tujuan pelatihan tersebut agar petani bisa mengolah padi hasil panennya menjadi beras berindeks glikemik rendah dan harga jual beras mengalami peningkatan.”

Dipaparkan Margono, harga jual beras pratanak dengan indeks glikemik rendah ini berkisar antara Rp 57.000 hingga Rp 75.000 per 2 kg di tingkat konsumen (hasil survey di market place online). Artinya, harga beras IG rendah metode pratanak meningkat 2 kali atau lebih dibandingkan beras reguler yang dihasilkan petani.

“Harapan kami, hal ini menjadi peluang bagi para petani, khususnya ibu-ibu PKK RT 02 RW 04 Desa Gledeg Kecamatan Karanganom untuk meningkatkan pendapatan dari hasil pertaniannya,” katanya.(*)

Tinggalkan Pesan