wisata-wonogiri
MENIKMATI PEMANDANGAN : Wisatawan menikmati pemandangan alam Waduk Gajahmungkur Wonogiri dari puncak Bukit Joglo, Desa Sendang, Kecamatan/Kabupaten Wonogiri, beberapa waktu lalu. (newsreal.id/khalid Yogi)

Oleh : Damar Tri Afrianto*

MENANGANI pariwisata bukan hanya berurusan dengan roda ekonomi dan perihal sumbangn devisa negara, tentu lebih kompleks dari yang terlihat secara materilis tersebut. Di tambah pula keterpurukan pariwisata karena Covid-19, seolah mengingatkan bahwa pariwisata adalah ekosistem yang tumbuh dan berkembang secara kultural bukan hanya keuntungan kapital. Di bawah komando menteri yang baru saja di lantik, Sandiaga Uno, banyak pekerjaan rumah baik yang jangan pendek maupun berkelanjutan. Terutama pertanyaan mendesak ‘bagaimana pariwisata bisa bangkit dari pandemi’?

Organisasi Pariwisata Dunia (UNWHTO) yang menetapkan bulan Jultahun 2021 menetapkan sebagai masa pemulihan pariwisata sejak pandemi Covid-19 menyerang segenap tatanan peradaban. Kini masa tenggang waktu pemulihan sudah di depan mata, apakah kita akan menyosong hasil dari masa pemulihan itu dengan gemilang ataukah kebalikannnya, ataukah masih perlu penambahan waktu pemulihan.

Sebagai respon atas rentang masa pemulihan tersebut pemerintah melalui Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menghasilkan rumusan konsep berupa “Indonesia Care”. “Indonesia Care” bukan hanya sebatas logo, karena dalamnya memuat prinsip Clean, Healty, Safety, Environment yang kemudian disingkat CHSE yang artinya kebersihan, kesehatan, keamanan, dan lingkungan hidup di tempat-tempat wisata untuk memastikan keamanan berwisata.

Masih tingginya penyebaran Covid-19 hingga hari ini, penerapan CHSE harus ekstra ketat untuk menghindari munculnya kluster penularan baru di sektor pariwisata. Konsep “Indonesia Care” dengan prinsip CHSE dalam realitasnya ternyata tidak lepas dari berbagai permasalahan. Pada tingkat implementasi, konsep tersebut menuai polemik. Infrastruktur untuk mendukung progam “Indonesia Care” dalam realitasnya tidak merata sehingga muncul berbagai kesenjangan.

Beberapa pengelola destinasi wisata besar bisa menerapkan protokol yang tertuang dalam jargon “Indonesia Care” dengan ketat karena secara finansial sanggup menyediakan fasilitas dan infrastrukturnya, akan tetapi mayoritas pelaku sektor pariwisata khususnya skala mikro dan kecil, terlalu berat untuk menerapkan protokol tersebut karena defisit finansial, mengingat kondisi ekonomi mereka tergerus sejak bulan Maret. Bantuan finansial juga perlu dipertimbangkan, khsusus pada industri pariwisata mikro, bantuan dari pemerintah harus bersifat berkelanjutan sekaligus mendorong kemandirian. Artinya, setelah dapat menerapkan CHSE dengan baik, maka pihak industri mikro tersebut harus mengembangkan secara mandiri dan memiliki tanggung jawab seperti halnya industri pariwisata makro atau besar untuk menjadi percontohan.

Indonesia Care

Pada tataran sosialisasi konsep “Indonesia Care” yang masih terpusat belum menyeluruh menjadi hambatan tersendiri. Hal ini berdampak pada tingkat keyakinan masyarakat untuk beriwisata. pemerintah dalam hal ini penting untuk menjalin interelasi dan konektivitas dengan dunia digital dan teknologi. Milenial adalah pasar terbesar di bidang pariwisata, sehingga kekuatan teknologi dapat menjadi tonggak keberhasilan pemulihan pariwisata. Jargon “Indonesia Care” harus terejawantahkan dalam bentuk informasi yang jelas dan menarik, terutama untuk menumbuhkan keyakinan pada wisatawan.

Pemerintah dalam hal ini penting mendorong industri wisata untuk memiliki kesadaran digital literer. Digital literer adalah pemahaman kepada masyarakat melalui perangkat digital audio-visual yang memberi gambaran calon wisatawan tentang sebuah destinasi wisata. Konkretnya, pihak industri wisata mendokumentasikan aktivitas berwisata yang telah menerapkan CHSE, lalu dikemas dalam bentuk konten video kreatif, kemudian dipublikasikan melalui jejaring informasi digital. Dalam hal ini, masyarakat diyakinkan dengan konten digital tersebut, sehingga calon wisatawan memiliki pertimbangan yang matang untuk berwisata secara aman.

Menarik kembali wisatawan datang, terutama di tengah penanganan Covid-19 yang belum optimal memerlukan kerja-kerja kreatif, tidak cukup hanya bermodal logo atau Jargon. Konten digital literer merupakan salah satu strategi kreatif sebagai metode implementasi konsep “Indonesia Care”. Milenial yang kompeten dibidang teknologi informasi penting untuk dilibatkan dalam hal ini, mereka adalah garda depan pemulihan sektor pariwisata yang berbasis digital. Konten-konten digital hasil karyanya mampu mempersuasif calon wisatawan terutama untuk menumbuhkan keyakinan, karena modal utama industri pariwisata pulih tak lain yaitu “keyakinan”.

*

*Dosen Jurusan Seni Rupa, Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Sulawesi Selatan

opini-damar

Tinggalkan Pesan