polres-klaten-aktivis-sungai
DUKUNG POLRES : Koordinator relawan dan komunitas peduli sungai Danang Heri Subiyantoro menyerahkan pernyataan sikap kepada Kasat Reskrim AKP Andryansyah di Mapolres, Rabu (6/1/2021).(newsreal.id/Merawati Sunantri)

*Bahaya, Flu Babi Afrika Sudah Membunuh Juataan Babi

KLATEN,newsreal.id – Sedikitnya sudah tiga kali terjadi pembuangan bangkai babi di sungai di Klaten, akhir-akhir ini. Menurut pakar peternakan UGM Yogyakarta, Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA yang juga Dekan Fakultas Peternakan UGM, hal itu sangat berbahaya karena flu babi afrika bisa menular ke manusia.

”Dikhawatirkan babi mati akibat terkena flue babi afrika (african swine fever = ASF) yang telah membunuh jutaan ekor babi di seluruh dunia,” kata Prof Ali Agus.

Dua tahun terakhir ini telah menyerang peternakan babi di Indonesia yang awalnya dari Medan. Saat ini sudah menyerang hampir menyeluruh di Indonesia. Peternakkan babi, sudah banyak yang bangkrut.

Seharusnya, bila ada babi yang mati akibat flu babi, maka bangkainya harus dibakar, dan peternakan babi yang masih ada harus di isolasi, dilakukan biosekuriti ketat, tidak boleh mengeluarkan atau menjual babi hidup atau mati ke luar kandang/farmnya.

”Apalagi sampai membuang bangkai babi mati ke sungai. Sangat merugikan masyarakat luas,” tegas Prof Ali Agus.

Sejak 2 tahun lalu, dia pernah mengingatkan pemerintah agar ada isolasi ketat setiap farm babi. Jangan ada mobilisasi babi dari dan ke luar daerah. Namun tidak ada tindakan apapun. 

Upaya mencegah penularan harus diisolasi. Bila masih ada babi hidup yang terkan ASF di peternakan tersebut, bisa saja kalau dimusnahkan. Tetapi biasanya alot karena terkait dengan aset. 

Makanya pada dijual murah atau obral dengan risiko babi keluar dari farm, keluar daerah dan menulari semua farm babi. Memang belum ada bukti nyata secara ilmiah ASF dapat menular pada manusia.

”Hanya sayang, informasi kasus ASF ini nampak ditutup- tutupi. Sebenarnya lebih baik transparan agar penanganan juga lebih baik,” kata dia.

Kasus ASF sudah melanda Indonesia sejak 2 tahun lalu. Awalnya penularan virus melalui sisa makanan dari catering pesawat (penerbangan dari China masuk ke Medan). Sisa katering tersebut digunakan untuk peternakan babi.

”Menurut saya solusi nya dilakukan isolasi farm agar tidak menyebar ke tempat lain. Jika ada yang mati di bakar di dalam komplek farm saja. Peternak babi bisa dilaporkan ke pihak berwajib karena membuang bangkai babi di sungai,” tegas Prof Ali Agus.
Sedikitnya sudah tiga kali ditemukan bangkai babi di sungai yang diduga mati karena flu babi afrika, yakni di Jatinom, di Kali Lunyu dan di Kali Woro. Hal ini menggugah hati aktifis peduli lingkungan di Klaten.

Kasus kedua ditangani polisi, namun pelakukan banyak kena tindak pidana ringan. Kepada polisi pelaku mengaku membuang babi ke sungai karena capek.

”Yang namanya usaha dan adanya pandemi (seperti ASF) merupakan bagian dari risiko bisnis. Seperti kasus flu burung juga pernah melanda peternakan ayam,” kata Prof Ali.(Merawati)

Tinggalkan Pesan