pernikahan-dini-sragen
DEKLARASI RAMAH ANAK: Bupati Kusdinar Untung Yuni menandatangani deklarasi desa, kelurahan dan kecamatan ramah anak, di di Ruang Sukowati Kompleks Sekretariat Daerah (Setda) Sragen, pada Senin (4/2/2021). (newsreal.id/Basumi Hariwoto)

SRAGEN,newsreal.id – Pernikahan dini yang semakin meningkat, menjadi salah satu kendala dari upaya Kabupaten Sragen meningkatkan status dari Kabupaten Layak Anak (KLA) dari tingkat Pratama menjadi KLA Madya.

Berdasarkan data dari Pengadilan Agama (PA) Sragen, peningkatan pernikahan usia dini pada 2018 lalu mencapai sekitar 30%. Bila selama 2017 terdapat 72 kasus pernikahan dini, sedangkan pada 2018 meningkat menjadi 95 kasus. Sementara hingga akhir Maret 2019, angka itu sudah mencapai 12 kasus.

Mereka yaang melakukan pernikahan usia dini mayoritas disebabkan karena hamil sebelum nikah. Ketua PA Sragen Suhardi tidak menepis pernikahan dini di Sragen memang mengalami peningkatan. Pihaknya mengaku kesulitan melakukan pencegahan lantaran tugasnya hanya menerima pengajuan disposisi pernikahan untuk usia pranikah.

”Mereka menikah ke KUA, tapi karena belum cukup umur harus ada disposisi dari kantor. Kami tidak punya kewenangan untuk membatasi, sebab perkara yang masuk menjadi kewajiban kami untuk mengadili bahwa itu diizinkan atau tidak, tergantung persidangan,” kata Suhardi.

Dia menjelaskan, selama ini kasus pernikahan dini biasanya di usia-usia anak sekolah tingkat SMP. Lantaran untuk perempuan batas usia pada umur dibawah 16 tahun.

Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati sendiri mengaku prihatin dengan peningkatan kasus pernikahan usia dini. Menurutnya, ada degradasi moral remaja yang perlu mendapat perhatian semua pihak dan itu menjadi tugas dari berbagai pihak. (Basuni Hariwoto)

Tinggalkan Pesan