vaksin-corona
FOTO/kompas

Oleh : Kenza Viorel Deavisca*

TAHUN 2020 dipenuhi serangkaian peristiwa yang menggemparkan jagat raya. Peristiwa yang sangat langkah. Peristiwa yang akan menjadi bagian dari sejarah dunia. Peristiwa yang merenggut banyak nyawa. Peristiwa di mana banyak orang kehilangan orang tersayang. Rintihan tangis terdengar di mana-mana. Segala perjuangan dan pengorbanan menjadi saksi bisu penderitaan umat manusia.

Namun di sisi lain rintihan tangis itu tidak semuanya adalah perpisahan. Rintihan tangis bahagia juga menyelimuti sebagian orang. Banyak nyawa yang hadir mengisi raga mungil yang lahir dari rahim seorang wanita. Raga mungil yang bersih dan suci. Raga mungil itu tentu belum memiliki label apapun. Label yang dimaksud adalah identitas. Identitas tersebut berupa nama yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya. Nama yang disematkan kepada seorang anak tentu memiliki maksud, tujuan maupun harapan-harapan yang terkandung di dalam nama seorang anak.

Sebuah nama yang disematkan memiliki arti atau makna tersendiri bagi sebagian orang tua. Contohnya orang tua yang memberi nama anaknya “Sholeh” (dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti taat, suci, beriman, dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah) pasti memiliki harapan supaya anaknya tumbuh menjadi anak yang taat akan agama, baik budi pekertinya dan selalu berjalan di jalan yang benar. Namun seiring berkembangnya zaman nama yang disematkan pada seorang anak semakin beragam bahkan tergolong unik.

Tercatat tahun 2020, sejumlah orang tua yang memberikan nama unik untuk anaknya semakin meningkat. Ternyata banyak orang tua menyukai nama anak yang mudah diingat, apalagi jika nama tersebut diambil dari suatu peristiwa yang sedang terjadi, seperti peristiwa Covid-19 sekarang ini. Contohnya bayi X memiliki nama “Tita Karantina” dan hampir dipastikan nama itu akan diberikan kepada seorang bayi perempuan. Sedangkan bayi Y memiliki nama “Dino Karantino” dan juga hampir dipastikan nama itu akan diberikan kepada seorang bayi laki-laki.

Penamaan tersebut hanya merubah fonem “a” menjadi fonem “o”. Sebuah nama ternyata juga memiliki keterikatan dengan fonem atau struktur tertentu, seperti halnya mengungkapkan kemungkinan fonem dan struktur tertentu yang akan diberikan kepada anak laki-laki dan anak perempuan. Padahal yang kita tahu asal nama tersebut terinspirasi dari kata “Karantina” (menurut etimologi kata “Karantina” berasal dari quarantena yang berarti “empat puluh hari, sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya upaya untuk memisahkan dan membatasi pergerakan dan interaksi orang sehat yang mungkin terpapar penyakit menular).

Penamaan nama unik seperti di atas mulai lazim terjadi di Indonesia. Biasanya orang tua memberikan nama unik tersebut dengan alasan karena kelahiran mereka bersamaan dengan peristiwa besar yang terjadi. Bahkan sebagian orang tuan beralasan ingin anaknya kelak dapat diingat sebagai pahlawan yang berjuang mengalahkan Covid-19 di masa pandemi. Jika dicari mungkin masih banyak lagi nama-nama yang terinspirasi dari peristiwa Covid-19 saat ini.

Penamaan-penamaan tersebut menunjukkan bahwa sebuah nama memiliki arti atau makna tersendiri, tergantung pada perspektif setiap individu. Hal tersebut berhubungan erat dengan ilmu semantik yaitu, nama yang diberikan orang tua kepada anaknya merupakan tanda dari suatu peristiwa. Lebih sederhananya adalah sebuah nama dapat dikatakan tanda dari sebuah peristiwa.

*Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang

Tinggalkan Pesan