reboisasi-wonogiri
MELAKUKAN DIALOG : Sejumlah kepala dusun di Desa Tubokarto, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri melakukan dialog dengan aparat Perhutani di hutan Petak 49D desa setempat, Senin (15/2). (newsreal.id/Khalid Yogi)

WONOGIRI,newsreal.id – Sejumlah warga Desa Tubokarto, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri meminta Perhutani untuk menghentikan aktivitas penebangan di hutan petak 49D desa setempat. Jumlah pohon yang akan ditebang sekitar 1.000 batang.

Mereka khawatir penebangan pohon itu akan memperbesar potensi terjadinya banjir. Pasalnya, banjir pernah terjadi di desa tersebut tahun 2015, 2016, dan 2017 lalu.

Bambang, kepala Dusun Sladi, Desa Tubokarto mengungkapkan, paling tidak ada tiga dusun yang akan merasakan dampak penebangan hutan itu. Yakni Dusun Sladi, Salak, dan Jeruk. Selain itu, beberapa wilayah desa sekitar juga berpotensi dilanda banjir.

Dia menerangkan, aliran air di dusunnya bersumber dari hutan tersebut. “Jumlah rumah yang pernah terdampak banjir di Dusun Sladi saja ada 23 rumah. Banjirnya bisa setinggi perut dengan air yang deras,” imbuhnya.

Adapun dampak yang dirasakan warga Dusun Jeruk akibat penebangan hutan itu adalah rusaknya sumber air.

Mulyono (60) warga Dusun Sladi RT3 menambahkan, rumahnya pernah dilanda banjir beberapa tahun lalu. Banjir memasuki rumahnya dengan tinggi sekitar perut orang dewasa.

Oleh karenanya, warga meminta Perhutani untuk menghentikan aktivitas penebangan pohon. Penebangan pohon seharusnya dilakukan setelah pohon penggantinya sudah cukup besar. “Kalau ditebang dulu baru direboisasi, akan butuh waktu bertahun-tahun untuk pulih. Selama itu kami khawatir akan terancam banjir,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Asisten Perhutani Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Baturetno Budi Rusmanto didampingi Danru Polmob Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Surakarta Siswo menerangkan, luas hutan lindung di daerah itu mencapai lebih dari 200 hektare. Sebanyak 32 hektare merupakan hutan produksi. Adapun program penebangan pohon hanya dilakukan pada lahan seluas 10 hektare.

Rencananya, Perhutani akan menebang lebih dari 1.000 batang pohon di Petak 49D. Sampai saat ini baru 109 pohon yang sudah ditebang. Pohon yang ditebang didominasi jenis pinus, mahoni dan sonokeling. Pihaknya harus menyelesaikan penebangan pohon karena Surat Perintah Kerja (SPK) sudah turun.

Menurutnya, kekhawatiran warga terlalu berlebihan karena setelah pohon ditebang, bibit reboisasi langsung ditanam. Selain itu, area penebangan pohon hanya 10 hektare dari hutan seluas 200 hektare lebih.

Penebangan pohon juga tidak bisa menunggu hingga pohon penggantinya tumbuh besar. (Khalid Yogi)

Tinggalkan Pesan