kaur-sragen
NIKMATI PENSIUN-Kepala Urusan Umum Kelurahan Jirapan Kecamatan Masaran Joko Sutopo (kiri), persiapan menikmati pensiun di hari terakhir masuk kerja.(newsreal.id/Anindito AN)

PENAMPILAN Kepala Urusan Umum (Kaur Umum) Pemerintah Desa Jirapan Joko Sutopo (65), terbilang sederhana. Namun sosok kelahiran Sragen 13 Maret 1956 itu sangat dihormati dan disegani rekan-rekannya di Kantor Kelurahan Jirapan, Kecamatan Masaran, Sragen.

Betapa tidak? Lelaki penyuka Sayur Lodeh itu selama 45 tahun mengabdi sebagai perangkat desa memiliki reputasi yang baik.

”Pak Joko Sutopo juga dikenal rajin, kalau ngantor sebelum Pukul 07.30 WIB. Padahal jam buka kantor kelurahan Pukul 08.00,” tutur Kades Jirapan Sindu Praptomo didampingi Joko Sutopo saat ditemui. Padahal rekan perangkat desa kalau ngantor Pukul 08.30 – 09.00 WIB.
Sindu Praptomo mengatakan akan mengapresiasi dedikasi dan loyalitas anak buahnya itu, saat upacara perpisahan di Balai Desa Jirapan, Sabtu (13/3/2021).

”Semua lembaga desa dan perangkat desa akan saya undang untuk melepas Pak Joko Sutopo yang memasuki pensiun,” tuturnya.

Sekdes Jirapan Suwarnin mengaku belum pernah menemukan orang yang rajin dan memiliki kedisiplinan kerja seperti Joko Sutopo.

Joko mengaku saat bekerja awalnya hanya sebagai Petugas Teknis Desa (PTD) Tahun 1976 – 1980. Selanjutnya diberi tanggungjawab sebagai Ulu-ulu atau petugas pengatur irigasi pertanian Tahun 1981 – 1984. KemudiaN Tahun 1984 diangkat sebagai Kaur Umum hingga pensiun. Pernah menjabat PJs Kades Jirapan 2014-2016.

Dimarahi Sahabat

Kesan paling membekas saat dia dimarahi Sabardi, sahabat dekatnya yang Ketua RT Jirapan. Joko menceriterakan kala itu saat menjabat Pjs Kades Jirapan Tahun 2014 ada orang mampir ke Kantor Kelurahan untuk minta surat pengantar ijin usaha. Sesuai ketentuan, lanjut Joko bagi warga yang minta surat keterangan ke kantor kelurahan harus minta surat pengantar terlebih dulu dari Ketua RT tempat domisili.

Melihat orang yang akan minta surat keterangan nampak tergesa-gesa, Joko pun memberi kebijaksanaan tetap membuatkan surat pengantar dengan pesan setelah menerima surat harus menghadap Ketua RT Sabardi. Pesan itu pun dipatuhi. Setelah dibuatkan surat keterangan, orang itu menemui Ketua RT Sabardi.

”Maksud saya hanya untuk memudahkan pelayanan saja, biar orang itu tidak wira-wiri (bolak-balik),” tuturnya.

Sungguh diluar dugaan, Joko Sutopo malah dimarahi oleh Ketua RT yang juga sahabatnya itu. Dikatakan sebaik apa pun perangkat desa dalam bekerja, namun jika melakukan kesalahan sekecil apa pun juga akan dicerca dan dimarahi warganya. Selama 45 tahun mengabdi, Joko mengaku tidak mampu membeli sebidang tanah pekarangan atau sawah. Begitu juga dengan rumah yang ditempati, pembeliannya banyak disokong dana dari istrinya.(Anindito AN)

Tinggalkan Pesan