Domba Dorper Bisa Berbobot 100 Kg, Berikut Alasanya

Sekar-Mendho-Farm-wonogiri
MEMERIKSA DOMBA : Mulyoko (36) pemilik Sekar Mendho Farm memeriksa ternak domba dorper di peternakannya Dusun Pare RT2 RW3 Desa Pare, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Minggu (14/3/2021). (newsreal.id/Khalid Yogi)

WONOGIRI,newsreal.id – Mulyoko (36), peternak domba dari Kabupaten Wonogiri mendatangkan sejumlah domba unggulan dari beberapa negara. Domba-domba itu didatangkan untuk dikawinsilangkan dengan domba jenis lain supaya mendapatkan keturunan genetik yang lebih unggul.

Beberapa jenis domba impor yang didatangkan, antara lain domba dorper Afrika, awassi Suriah, texel Belanda, merino Australia, hingga sanen Swiss.

“Domba-domba itu saya beli untuk dikawinsilangkan dengan domba-domba lokal. Tujuannya memperbaiki genetik atau keturunan agar domba yang dihasilkan semakin berkualitas,” katanya, Minggu (14/3/2021).

Pemilik Sekar Mendho Farm Desa Pare RT2 RW3 Kecamatan Selogiri itu mencontohkan, domba dorper Afrika mempunyai beberapa jenis keunggulan. Yakni bobotnya bisa mencapai 100 kilogram per ekor. Karkasnya terbilang besar dibandingkan dengan domba jenis lain, mencapai lebih dari 55%.

“Berat daging dan tulangnya mencapai separuh lebih,” terangnya.

Karena keunggulan itulah domba dorper kini ngetrend di kalangan peternak Indonesia. Harga pejantan indukan domba dorper Afrika bisa mencapai Rp 25-27 juta per ekor. Setelah dikawinsilangkan dengan domba lokal, bobot keturunannya sedikit turun menjadi sekitar 80-90 kilogram per ekor. Harga keturunan domba dorper itu berkisar Rp 7 juta per ekor.

Adapun awassi Suriah merupakan domba dengan postur paling besar. Bobot maksimalnya bahkan bisa mencapai 145 kilogram per ekor. Harga domba awassi dari Suriah itu juga berkisar Rp 25-27 juta per ekor.

Sementara itu, domba texel Belanda sudah banyak dikembangkan peternak di Wonosobo. Domba texel juga mempunyai postur tinggi besar dengan bobot maksimal mencapai 80 kilogram per ekor. Harganya berkisar Rp 4-6 juta per ekor.

“Saya juga mendatangkan domba sanen Swiss yang merupakan domba perah. Kalau disilangkan dengan kambing Jawa Randu nanti hasilnya kambing Sanen Peranakan Etawa (Sapera). Di Indonesia sudah banyak. Harga domba sanen asli dari Swiss sekitar Rp 27 juta,” katanya.

Yoko juga membeli domba merino Australia. Namun, domba merino menurutnya tidak cocok untuk diambil dagingnya. Pasalnya, kandungan lemak atau gajihnya tinggi.

“Kambing merino ini lebih cocok untuk wisata atau hobi karena bentuknya menarik, wol atau bulunya tebal,” ujarnya.

Para peternak menurutnya perlu mengawinsilangkan ternaknya untuk meningkatkan kualitas genetik. Selama ini, peternak lokal banyak yang mengawinkan ternaknya secara inbreeding atau perkawinan sedarah.

“Contohnya, induk dikawinkan dengan anaknya. Nanti kualitas keturunannya bisa menurun,” terangnya. (Khalid Yogi)

Tinggalkan Pesan