solo-macet
FOTO ILUSTRASI

Oleh : Tri Karjono*

KEPADATAN penduduk atau population density merupakan jumlah jiwa dalam satuan luas wilayah yang ditempati yang dihasilkan dari perbandingan antara jumlah penduduk dengan luas wilayah. Tingkat kepadatan penduduk aritmatik ditunjukkan dengan jumlah jiwa per kilometer persegi. Semakin besar angka yang ditunjukkan maka semakin tinggi tingkat kepadatannya.
Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2020 yang lalu, Kota Surakarta menempati urutan pertama sebagai kota terpadat di Provinsi Jawa Tengah. Kepadatan tertinggi ini tak lepas dari luas wilayah Surakarta yang relatif kecil dan hanya tersisa sedikit ruang terbuka yang ada. Jumlah penduduk Kota Surakarta pada tahun 2020 tercatat sebanyak 522.364 jiwa. Jumlah ini merupakan 1,43 persen dari jumlah seluruh penduduk di Jawa Tengah.

Alhasil dengan luas wilayah yang hanya 44,04 km2 maka kepadatan penduduk Surakarta sebesar 11.353 jiwa/km2. Praktis secara rata-rata setiap orang hanya menempati ruang seluas 88,1 m2.
Jika dibanding dengan rata-rata kepadatan penduduk di Jawa Tengah yang sebesar 1.113 jiwa per/km2, maka kepadatan di Surakarta lebih dari sepuluh kali lipatnya Jawa Tengah. Bahkan dengan Kota Semarang yang notabene merupakan ibukota provinsi dan kota terbesar di Jawa Tengah dengan tingkat kepadatan 4.424 jiwa/km2, tingkat kepadatan penduduk Surakarta lebih dari 2,5 kali lipatnya.

Walau dengan jumlah penduduk yang masih lebih rendah dibanding Jebres dan Banjarsari namun karena luas wilayah yang relatif lebih sempit dengan tingkat kepadatan 16.083 jiwa/km2 menjadi Kecamatan Pasar Kliwon merupakan yang terpadat diantara 5 kecamatan yang ada.
Dari total jumlah penduduk penduduk Surakarta tersebut, 257.043 jiwa diantaranya adalah laki-laki dan selebihnya atau 265.321 jiwa adalah perempuan. Dengan lebih banyaknya jumlah penduduk perempuan maka rasio jenis kelamin (dependency ratio) berada di bawah 100 atau lebih tepatnya 96,88. Artinya setiap 100 penduduk perempuan terdapat 96,88 penduduk laki-laki.

Jika didasarkan pada kelompok umur, 11 persen diantaranya merupakan kelompok usia post generasi Z (usia nol sampai dengan tujuh tahun), 25 persen merupakan kelompok usia generasi Z (usia 8-23 tahun). Kemudian 24 persen kelompok usia milenial (usia 24-39 tahun), 23 persen kelompok usia generasi X (usia 40-55 tahun), 15 persen kelompok usia babby boomer (56-74) dan 2 persen pre-boomer (usia di atas 75 tahun). Dari sini dapat terlihat bahwa usia produktif cukup mendominasi dibanding kelompok usia non produkstif.

Daya Tarik

Jauh sebelum lahirnya Provinsi Jawa Tengah dan terbentuknya wilayah kabupaten/kota di dalamnya, Surakarta telah menjadi salah satu pusat pemerintahan yaitu kerajaan Kasunanan Surakarta. Tepatnya sejak dilaksanakannya perjanjian Giyanti pada 1745, Surakarta menjadi sebuah kerajaan dimana wilayah administrasi Kota Surakarta saat ini sebagai ibukota kerajaan. Layaknya ibukota pemerintahan dimanapun menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dari segala penjuru untuk mencari penghidupan dan tinggal. Alhasil perlahan dan pasti semakin padatlah wilayah tersebut.

Apalagi eksistensi Surakarta sebagai kerajaan masih bertahan hingga kini dan seakan diperkokoh sebagai wilayah administrasi pemerintahan tersendiri setelah NKRI terbentuk. Segala fasilitas yang telah terbentuk dan berkembang sejak kerajaan berdiri hingga kini menjadi salah satu alasan masyarakat untuk tetap bertahan di wilayah ini.

Apalagi saat ini, kota Surakarta telah menjadi salah satu pusat perekonomian, destinasi wisata dan pendidikan. Terlebih didukung oleh akses mobilitas masyarakat ke dan dari Surakarta yang semakin mudah. Hal ini semakin mendorong hasrat masyarakat luar wilayah Surakarta untuk berkunjung bahkan tinggal baik sementara waktu maupun menetap di Surakarta. Laju pertumbuhan penduduk menujukkan bahwa terjadi peningkatan pada dekade terakhir dibanding dekade sebelumnya. Jika rata-rata pertumbuhan penduduk per tahun antara tahun 2000 hingga 2010 sebesar 0,08 persen, maka pada kurun waktu 2010 hingga 2020 mengalami peningkatan menjadi 0,44 persen.

Seperti diketahui bahwa konsep penduduk merupakan seseorang yang tinggal dan menetap minimal satu tahun dan atau tinggal kurang dari satu tahun tetapi berencana tinggal lebih dari dari satu tahun. Sehingga bagi masyarakat yang telah meninggalkan wilayah tersebut lebih dari satu tahun atau berniat meninggalkan wilayah ini lebih dari satu tahun tidak menjadi bagian dari penduduk suatu wilayah. Sehingga diluar kelahiran dan kematian, migrasi menjadi salah satu variabel laju pertumbuhan penduduk.

Faktor fisiografis juga menjadi salah satu pendorong padatnya penduduk suatu wilayah. Dimana bentuk permukaan bumi Kota Surakarta yang hampir seluruhnya flat serta kondisi cuaca wilayah yang nyaman juga menjadi alasan ketertarikan masyarakat untuk bertahan di sini. Beda halnya dengan wilayah lain yang bertopografi perbukitan, iklim dan cuaca yang tidak menentu, bayangan tingkat kerawanan bencana yang tinggi dan sebagainya.

Permasalahan

Kepadatan penduduk yang tinggi berpotensi menimbulkan beberapa permasalahan tersendiri. Diantaranya adalah munculnya kawasan-kawasan kumuh perkotaan dengan rumah-rumah yang tidak layak huni. Permasalahan lain adalah tingginya kompetisi di dunia kerja, turunnya kualitas lingkungan, dan terganggunya stabilitas keamanan.

Kawasan kumuh dengan rumah yang sempit, tak teratur, seadanya dan jauh dari kata layak bahkan untuk sekedar dipandang saja terlihat memprihatinkan sering kita jumpai di wilayah perkotaan dengan tingkat kepadatan yang tinggi. Kondisi ini memberi gambaran kepada pemerintah yang seakan tidak memperhatikan nasib penduduknya.

Tingginya kepadatan penduduk juga akan menjadi tuntutan bagi pemerintah daerah untuk menyediakan lapangan kerja. Pengangguran yang tinggi mengakibatkan rata-rata pendapatan perkapita akan rendah hingga tingkat kemiskinan meningkat.
Wilayah perkotaan biasanya terjadi kualitas lingkungan yang lebih buruk dibanding wilayah perdesaan. Wilayah perkotaan notabene tingkat kepadatan penduduknya lebih tinggi. Sungai-sungai tercemar akibat buangan rumah tangga, industri, sampah dan sebagainya. Kualitas udara menurun akibat mobilitas kendaraan yang tinggi dan asap pabrik. Kualitas tanah akibat membuang sampah sembarangan, tanaman tidak tumbuh maksimal akibat keterbatasan lahan dan sebagainya.

Akibatnya kepadatan penduduk yang berlebihan tentu tersebut akan mengganggu kenyamanan bersama. Sementara di tempat lain masih banyak wilayah dengan tingkat kepadatan penduduk yang rendah. Oleh karena itu sedini mungkin harus dipikirkan potensi penduduk yang semakin padat ini melalui beberapa kebijakan diantaranya adalah memindahkan penduduk ke wilayah dengan tingkat kepadatan yang masih rendah. Kebijakan lain adalah berusaha memeratakan pembangunan di wilayah sekitar.

Membangun sekolah, sarana dan prasarana penunjang kemudahan dalam mengakses kebutuhan hidup serta membangun pemukiman baru di wilayah lain. Namun demikian kebijakan tersebut harus melibatkan dan bersinergi dengan wilayah lain serta pemerintahan yang lebih tinnggi. Menumbuhkan wilayah-wilayah baru sebagai pusat perekonomian, kawasan industri seperti yang sekarang terjadi di sekitar wilayah Surakarta sangat membantu dalam menyerap dan mengalihkan penduduk melalui alasan kesempatan kerja dan berusaha.
Pembangunan rumah susun juga menjadi salah satu alternatif solusi tanpa harus melibatkan wilayah lain. Namun pengalaman menunjukkan bahwa memindahkan penduduk dari tempat tinggal lamanya tidak mudah. Jikapun bersedia tingggal di rumah susun, rumah lamapun akan tetap ditinggali atau dipertahankan dan tidak akan ditinggalkan begitu saja.

Berkah

Disisi lain investasi sumber daya manusia adalah kunci bagi suatu wilayah bila ingin meraih keuntungan dari jumlah penduduk yang berlimpah. Sumberdaya manusia akan menjadi sebuah keuntungan ketika memiliki kualitas pendidikan dan kesehatan serta mempunyai penghasilan yang cukup. Oleh karenanya tingginya jumlah penduduk harus dibarengi dengan membekalinya dengan pendidikan yang memadai, kesehatan yang baik dan penciptaan lapangan pekerjaan seluas-luasnya.

Sumber daya manusia yang banyak juga mampu meningkatkan kompetisi antar warga dan bersaing untuk menjadi yang lebih baik dan berkualitas. Ini dapat dimanfaatkan suatu wilayah untuk dapat lebih maju dibanding wilayah lain. Jiwa kompetisi dalam memperoleh penghidupan yang semakin baik juga akan menumbuhkan banyak wirausaha yang bermunculan.

Pada akhirnya status kota terpadat dan sepertinya akan semakin padat, bagi Surakarta apakah akan menjadi masalah ataupun berkah sangat dipengaruhi oleh ketepatan kebijakan pemangku kepentingan dalam mengelolanya. Semoga pemimpin baru memberi harapan baru semakin cerahnya kualitas hidup Kota Surakarta yang semakin sempit ruang gerak fisiknya.

*Statistisi Ahli BPS Prov Jateng

Tinggalkan Pesan