pembelajaran-tatap-muka
FOTO ILUSTRASI

JAKARTA, Tak terasa sudah tahun ke-2 pandemi telah berdampak pada proses pembelajaran di sebagian besar sekolah di Indonesia. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI memberlakukan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sebagai upaya untuk melangsungkan pembelajaran dengan menekan resiko penyebaran virus Covid-19.

Dalam pelaksanaan kebijakan PJJ, sekolah-sekolah di Indonesia mengalami berbagai macam tantangan dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM). Seiring dengan akan dimulainya tahun ajaran baru, pelaksanaan PJJ masih menghadapi tantangan serupa.

Wacana untuk membuka kembali sekolah dan melakukan pembelajaran secara offline menjadi sulit, seiring dengan meningkatnya jumlah kasus Covid-19. Dalam episode podcast ke-27 bertajuk Hardiknas: Yuk Bahas PJJ dan Learning Loss!”, Idekonomi mengundang Ulfah Alifia dan Arjuni Rahmi Barasa, Peneliti dari lembaga penelitian The SMERU Research Institute untuk membahas studi SMERU terkait dengan praktik PJJ dan perkembangan pendidikan di Indonesia selama pandemi. 

Lembaga penelitian SMERU pada awal masa pandemi telah melakukan studi di tiga bulan pertama penerapan PJJ. Secara umum, studi ini menemukan pelaksanaan PJJ tidak mencapai standar yang ideal. Ulfah menyampaikan bahwa secara umum anak belajar sangat sedikit.

“Hal ini dikarenakan ada kendala dan ketimpangan dari segi akses. Terdapat kesenjangan dari segi akses internet dan akses gawai yang dimiliki oleh murid. Kesenjangan ini tidak hanya ada di lintas provinsi, tapi urban-rural dan antara sekolah swasta dan sekolah negeri.”, menurut Ulfah. Di sisi lain, terdapat kendala dari sisi guru.

“Ternyata (guru) masih memiliki kapabilitas yang rendah untuk penguasaan teknologi ketika mereka mau melakukan pembelajaran secara daring. Dari sini, Kemendikbud mengeluarkan berbagai macam kebijakan untuk memfasilitasi anak-anak untuk belajar. Namun, perlu diingat bahwa tidak semua daerah mengalami kondisi yang sama di waktu yang sama sedangkan kebijakan berlaku secara nasional. Sehingga tidak semua daerah siap dalam menyambut praktik pembelajaran”, tambah Ulfah.

Rahmi menambahkan aspek lain yang menghambat idealnya pelaksanaan PJJ ada dari faktor orang tua. Selama ini PJJ menuntut orang tua untuk membimbing anak belajar dari rumah. Namun, studi SMERU menemukan bahwa orang tua belum memiliki pengetahuan untuk mendampingi anaknya belajar di rumah.

“Beberapa tantangan orang tua adalah kemampuan orang tua dalam memahami materi belajar anak dan sulitnya orang tua dalam membagi waktu”, menurut Rahmi. 

Studi World Bank mengestimasi penutupan sekolah selama pandemi dapat berpotensi menghilangkan waktu sekolah selama 6 bulan. Hal ini menimbulkan adanya potensi “learning loss” atau kondisi kehilangan capaian pembelajaran siswa Indonesia.

“Sebelum pandemi, capaian pembelajaran siswa di Indonesia cenderung turun. Bagaimana setelah pandemi? Ketika anak belajar dari rumah ada kemungkinan bahwa anak tidak meluangkan waktu belajar sebanyak ketika ia di sekolah”, menurut Ulfah. Lebih lanjut, kesenjangan dari segi kapasitas orang tua dan kesediaan infrastruktur dapat memberikan ancaman learning loss yang berbeda antar murid.

“Kalau kita berbicara mengenai learning loss, semua murid bisa mengalami hal tersebut. Namun, studi-studi sebelumnya menunjukkan bahwa yang paling berisiko mengalami learning loss terbesar adalah anak di kelas 1-3 SD. Dalam jenjang kelas ini, siswa sedang dalam tahap mempelajari membaca dan menghitung. Jika tidak ada intervensi, dampaknya akan jangka panjang.” tambah Rahmi.

Pemerintah dapat mendorong sekolah untuk melakukan langkah mitigasi dalam mengurangi learning loss. “Sekolah dapat didorong untuk melakukan assessment diagnostic untuk mengidentifikasi siswa berdasarkan tingkat learning loss yang dialami saat sekolah tutup atau pembelajaran dilakukan secara daring.

Selanjutnya, sekolah dapat mengelompokkan siswa berdasarkan tingkat kemampuan murid membaca atau berhitung dan guru akan melakukan pengajaran berdasarkan level kemampuan masing-masing kelompok. Lalu, agar learning loss tidak berdampak secara permanen, asesmen serupa dilakukan secara rutin untuk melihat perkembangan anak.” tutup Ulfah.(rls)

Tinggalkan Pesan