Bersih Sendang Mbah Meyek, Digelar Sederhana Pada Masa Pandemi Covid-19

mbah-meyek-gilingan
BERDOA : Warga Kampung Bibis Kulon RT 005 RW 007, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari Berdoa bersama di kawasan Sendang Mbah Meyek.

*Kisah Pelarian Putri Keraton yang Terdampar

SOLO,newsreal.id – Tradisi tahunan membersihkan desa dan wayangan di Sendang Mbah Meyek harus diganti dengan bancakan sederhana. Pandemi Covid-19 yang memaksa perubahan drastis event tahunan itu

Terletak di Kampung Bibis Kulon RT 005 RW 17, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Surakarta. Sendang Mbah Meyek menjadi situs yang terus dijaga generasi ke generasi, pun demikian tradisi, budaya yang menyertainya.

Sesepuh setempat Sugimin, menuturkan, mesk kegiatan yang biasanya digelar warga banyak yang berkurang karena dampak virus corona. Ada yang percaya, jika ritual adat tidak digelar maka keburukan akan muncul dan mengganggu warga di kampung. Bagaimana menurut Sugimin?

Dia menuturkan, ‘bersih desa’ dan wayangan memang menjadi agenda wajib tiap tahun. Namun, warga juga harus menyesuaikan kondisi dan situasi saat ini. Oleh karena itu, rangkaian peringatan Suro dilakukan dengan sederhana.

“Warga sekadar bersih-bersih di sendang. Yang penting itu niatnya walau tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya, makna upacara adat tetap bisa tercapai,” ujarnya.

Baginya, melestarikan tradisi leluhur bukan hanya melalui serangkaian acara besar saja. Secara sederhana pun, asal maksud dan tujuannya sama, tidak menjadi persoalan.

Dikutip dari Radar Solo Jawa Pos, cerita yang berkembang di masyarakat, keberadaan Sendang Mbah Meyek bermula dari kisah seorang putri dari Kerajaan Pajang bernama Dyah Sri Widyawatiningrum.

Putri tersebut terusir dari istana karena dituduh serong. Sang putri akhirnya meninggalkan kerajaan bersama ibunya. Rute pelariannya menggunakan sebuah getek (perahu dari bambu) untuk melintasi Kali Pepe.

Pelarian itu tidaklah mulus. Mereka dikepung prajurit kerajaan. Hingga akhirnya keduanya diselamatkan oleh sambaran petir yang menghancurkan getek sekaligus menghalau pasukan.

Getek itu pun rusak. Dalam istilah Jawa biasanya disebut meyek atau meyek-meyek. Dari sanalah penamaaan Mbah Meyek muncul. Ibu dan anak itu akhirnya menetap di sebuah kampung yang dipercaya beberapa orang sebagai Kampung Meyek.

“Dari cerita orang tua dulu memang seperti itu. Masyarakat di sini masih memercayai cerita tersebut. Makanya situs ini terus dirawat,” kata Sugimin.

Tradisi lokal dan kebudayaan yang hidup ini membuat pemerintah setempat segera mematenkan situs tersebut sebagai cagar budaya. (red)

Tinggalkan Pesan