NEWSREAL.ID, TANGERANG- Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengimbau para orang tua untuk mempererat komunikasi dengan anak sebagai langkah utama mencegah perundungan di sekolah maupun lingkungan pergaulan.
Pesan itu disampaikan Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini, di tengah meningkatnya kasus dugaan kekerasan terhadap anak di sejumlah daerah. Diyah menegaskan bahwa orang tua tidak cukup hanya berperan sebagai pengasuh, tetapi juga harus menjadi sahabat bagi anak-sosok yang mampu menjadi tempat bercerita tanpa rasa takut ataupun dihakimi.
“Orang tua sejatinya bisa berperan sebagai sahabat. Komunikasi harus memiliki kedekatan dan dilakukan dengan cara yang bijak, bukan investigatif,” ujarnya di Tangerang, Rabu (19/11).
Menurutnya, kedekatan emosional antara orang tua dan anak menjadi faktor penting agar anak merasa aman ketika ingin menyampaikan masalah, termasuk pengalaman buruk di sekolah. Banyak kasus perundungan tidak terdeteksi sejak dini karena anak merasa takut atau enggan bercerita.
Perubahan Perilaku
Karena itu, KPAI meminta orang tua lebih peka memantau perubahan perilaku anak yang mengarah pada masalah psikologis. Sikap bertanya yang menghakimi, kata Diyah, justru membuat anak semakin menutup diri.
“Kalau orang tua bertanya dengan cara menghakimi, anak akan semakin takut. Tapi kalau menjadi tempat yang nyaman, anak akan terbuka,” tegasnya. KPAI juga mendesak sekolah dan pemerintah daerah memperkuat sistem deteksi dini perundungan, memastikan layanan konseling berjalan efektif, dan memberikan respons cepat terhadap setiap laporan siswa.
“Sekolah harus punya respons yang bagus untuk setiap bentuk laporan,” ujarnya. Pernyataan KPAI ini muncul setelah sejumlah kasus perundungan kembali mencuat, termasuk ledakan di SMAN 72 Jakarta, kematian anak usia 13 tahun di sebuah sekolah internasional di Tangerang, serta kasus dugaan perundungan di SMPN 19 Tangerang Selatan yang menewaskan seorang siswa pada 16 November lalu.
Aparat kepolisian saat ini masih mendalami dugaan kekerasan dalam kasus-kasus tersebut. “Ini momentum bagi semua pihak memastikan lingkungan sekolah aman bagi anak-anak. Jangan sampai ada lagi korban berikutnya,” tutup Diyah. (ct)


