Nasional

Bikin Begidik ! 7 Ton Ikan Sapu-sapu Ditangkap Lalu Dikubur di Jakarta, Kenapa ?

Tim Redaksi, newsreal.id
Minggu, 19 April 2026 19:19 WIB
Bikin Begidik ! 7 Ton Ikan Sapu-sapu Ditangkap Lalu Dikubur di Jakarta, Kenapa ?
NEWSREAL.ID - Ikan sapu-sapu yang hidup di perairan tercemar (merdeka.com/Arie Basuki)

JAKARTA,newsreal.id – Merinding bila mendengar atau melihat langsung, ikan sekitar 6,98 ton jenis ikan sapu-sapu ditangkap di berbagai lokasi di Jakarta. Lalu dikumpulkan hampir secara bersama-sama dan dimusnakan serentak juga dengan cara dibelah dan dikubur.

Tentu saja informasi ini membuat merinding. Tetapi, langkah ini mutlak diambil pihak yang berkepentingan setelah per Jumat (17/4/2026) lewat operasi penangkapan serentak itu, sekitar 68.880 ekor ikan sapu-sapu dikumpulkan.

“Setelah ditangkap, ikan sapu-sapu akan dimusnahkan dengan cara dibelah dua dan dikubur di lokasi yang sudah kami tetapkan,” kata Kepala Seksi Perikanan Sudin Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta Selatan Arief Prakoso kepada wartawan di Jakarta, Kamis (16/4), dilansir detikNews.

Terpisah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Hasudungan A Sidabalok menjelaskan penguburan ini salah satunya untuk memastikan agar tidak ada penyelewengan ikan sapu-sapu hasil tangkapan. Misalnya seperti penjualan hasil tangkapan secara sepihak ke pedagang.

“Tidak ada penyalahgunaan karena semuanya langsung dikubur dan diawasi oleh tim DKPKP wilayah,” kata Hasudungan pada detikNews, Minggu (19/4/2026).

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, operasi penangkapan dan penguburan ikan sapu-sapu di perairan Jakarta lantaran mengandung logam berat sehingga tak layak konsumsi. Hal ini beda soal jika ikan sapu-sapu dibudidayakan, tidak hidup di sungai dan perairan yang tercemar.

Jika ikan sapu-sapu berkualitas diolah, maka hasilnya bisa berupa tepung ikan untuk makanan ternak maupun ikan hias.

“Itu pun mereka masih belum berani dilakukan secara massal karena kandungan logamnya (tinggi). Di negara-negara yang airnya lebih bersih pun itu sudah cukup tinggi. Di Jakarta, kita sudah menemukan rata-rata sudah di atas 0,3 dan itu berbahaya,” ungkap Pramono di kawasan Jakarta Utara, dilansir Antara.

Selaras, Direktur Jenderal (Dirjen) Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Haeru Rahayu mengatakan hasil olahan ikan sapu-sapu dengan kandungan residu tinggi membuatnya tidak aman dikonsumsi sekalipun oleh hewan.

“Kalau dijadikan tepung ikan, kemudian dimakan oleh ikan, ikannya dimakan oleh manusia, maka punya potensi untuk masuk ke manusia,” kata Haeru pada kesempatan yang sama.

Pramono sebelumnya mengatakan operasi penangkapan ikan ini merupakan bagian dari pengelolaan populasinya agar tidak lagi mengganggu ekosistem perairan. Diketahui, ikan hias asal Amerika Selatan ini dapat bertahan hidup di kondisi tercemar, hidup 10-15 tahun, tumbuh hingga sekitar 50 cm, dan mengancam kelangsungan ikan lokal seperti wader.

Sementara itu untuk jangka panjang, Hasudungan mengatakan pihaknya akan melibatkan akademisi untuk mengendalikan ikan sapu-sapu.

“(Tahapan) jangka panjang akan melibatkan akademisi untuk mencari teknologi yang tepat untuk mengendalikan ikan sapu-sapu,” ucapnya.

Bahaya Ikan Sapu-sapu Global
Ikan sapu-sapu semula merupakan ikan hias yang digemari. Di samping bermotif dan berwujud unik, ia juga dapat ‘membersihkan akuarium’ dengan memakan alga atau lumut di kaca atau elemen dekorasi bawah air.

Namun, kendala pengendalian populasi ikan sapu-sapu membuat ikan ini masuk kategori invasif secara global. Di Iran, ikan sapu-sapu yang cepat berkembang biak dan tumbuh besar serta berumur panjang justru memonopoli sumber makanan.

Secara fisik, ikan ini juga menghambat organisme di perairannya. Alhasil, ikan asli setempat kesulitan mempertahankan habitat, sehingga populasinya rentan hilang, seperti dilaporkan peneliti Alireza Radkhah dan Soheil Eagderi dalam Journal of Ornamental Aquatics (2020), diakses dari laman Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO).

Kasus serupa juga ditemukan di Bangladesh, salah satunya lantaran pemilik ikan-sapu-sapu yang melepasliarkannya dari akuarium tanpa tahu akibatnya. Kemampuan ikan sapu-sapu bertahan hidup di perairan minim oksigen, serta bisa makan tumbuhan air, telur dan ikan kecil lain, membuat kualitas air menurun dan populasi ikan lain terancam.

Peneliti Koushih Chakraborty dan rekan-rekan dalam jurnal Asian Fisheries Science (2026) menjelaskan, pada akhirnya, ikan sapu-sapu juga berdampak pada keanekaragaman ikan. Pehobi mancing, pekerja sektor wisata, dan warga lokal juga jadi terdampak. (Bun, dtk,ant)

Berita Terbaru

64 Pesawat dan 54.394 Personel Dikerahkan Tangani Karhutla

JAKARTA,NEWSREAL.ID – Pemerintah terus mengerahkan seluruh kekuatan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia. Melalui operasi darat hingga udara, upaya penanganan...

Pemerintah Gencarkan Gerakan Indonesia ASRI, Bedah Rumah Masyarakat TLDH

BOGOR,NEWSREAL.ID – Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian khusus bagi masyarakat yang tidak mempunyai rumah layak huni. Dalam rapat terbatas bersama sejumlah menteri di Hambalang, Kabupaten...

1.000 Perwira TNI-Polri Dikerahkan Atasi Karhutla Sumatera

JAKARTA,NEWSREAL.ID – Sebanyak 1.000 perwira TNI dan Polri untuk diturunkan bersama jajaran di daerah untuk memperkuat langkah pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi...

Kemenkes Kirim 314 Nakes-logistik ke Respons Dampak Karhutla

JAKARTA,NEWSREAL.ID-Sebanyak 314 tenaga medis/tenaga kesehatan dan ratusan ribu logistik kesehatan ke tujuh provinsi terdampak kebakaran hutan dan lahan. Pengiriman ini dilakukan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk...

Presiden Prabowo Masuk Hutan Cek Lokasi Kebakaran di Limbung Kalbar

PONTIANAK,NEWSREAL.ID – Selepas melaksanakan rapat singkat di Posko Karhutla Pontianak, Presiden Prabowo Subianto bergegas melanjutkan agenda untuk mengecek langsung lokasi kebakaran hutan dan lahan di...

Presiden Prabowo Terbang ke Kalimantan Pimpin Langsung Penanganan Karhutla

JAKARTA,NEWSREAL.ID – Presiden Prabowo Subianto bertolak menuju Kalimantan pada Sabtu pagi, 22 Agustus 2026. Kepala Negara akan meninjau lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sekaligus...

Kapolda NTT dan Ketua Bhayangkari Hadirkan Kepedulian di Tengah Pengungsi Gempa di Gelora Samador Maumere

MAUMERE,NEWSREAL.ID — Kepedulian terhadap masyarakat terdampak gempa bumi Flores terus ditunjukkan jajaran Polda NTT. Kapolda NTT Irjen Pol. Dr. Rudi Darmoko, S.I.K., M.Si., bersama Ketua...

100 Penyandang Disabilitas Semringah Masuk Istana Agung, Foto Bareng Tamu Penting dan Lihat Museum

YOGYAKARTA,Newsreal.id-Sebanyak 100-an siswa beserta pendamping dari sekolah luar biasa (SLB) di wilayah Yogyakarta tak melewatkan kesempatan langka masuk Istana Kepresidenan Yogyakarta atau Gedung Agung, Rabu...

Dukung MBG, Kadin Apresiasi Kepemimpinan Presiden Prabowo yang Visioner

JAKARAT,NEWSREAL.id – Kalangan dunia usaha mengapresiasi agenda transformasi yang dijalankan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Luar Negeri Kamar Dagang dan Industri...

Menag Usulkan Strategis terkait MBG, Ini Masukannya

JAKARTA,NEWSREAL.id- Kementerian Agama memberikan sejumlah usulan terkait pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar menyampaikan tiga usulan strategis dalam rangka peningkatan...

Diah Warih: Sudaryono Jadi Dirigen Handal untuk BGN

Jakarta,NEWSREAL.com-Diah Warih Anjari, pendiri Diwa Foundatioan, beri apresiasi atas pelantikan Dr. Sudaryono, B.Eng.,M., MBA menjadi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Dewan Pembina Nasional (DPN) Tani...

Kebijakan Prabowo: Indonesia Terbuka bagi Investor Dunia, Kepentingan Nasional Tetap Prioritas

JAKARTA,TAPALBATAS.co-Presiden Prabowo Subianto menegaskan arah kebijakan luar negeri Indonesia yang tetap terbuka terhadap seluruh negara untuk menjalin kerja sama. Namun, ia menekankan setiap kemitraan harus...

Leave a comment