Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Nasional

Ekonom: Kasus Tom Lembong Bahaya buat Ekonomi

Tim Redaksi, Newsreal.id
Sabtu, 2 Agustus 2025 14:24 WIB
Ekonom: Kasus Tom Lembong Bahaya buat Ekonomi
NEWSREAL.ID - Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Didik J. Rachbini. (Foto: Ist)

NEWSREAL.ID, JAKARTA- Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance  (Indef), Didik J. Rachbini, yang menilai kasus Tom Lembong merupakan contoh nyata lemahnya kepastian hukum di Indonesia. Sebuah kondisi yang menurutnya sangat membahayakan iklim investasi dan perekonomian nasional.

Menurut Didik, praktik hukum yang dapat diintervensi kekuasaan, tidak adil, dan inkonsisten telah lama menjadi akar permasalahan dalam sistem ekonomi Indonesia. Ia mengingatkan bahwa hukum yang tidak berpihak pada keadilan justru menimbulkan biaya transaksi tinggi, membuat investasi tidak efisien, serta melemahkan daya saing bisnis.

“Biaya transaksi adalah biang kerok, bahkan bisa disebut sebagai ‘setan’ dalam dunia bisnis. Dan itu muncul dari sistem hukum yang buruk,” tegas Didik dalam keterangannya, Sabtu (2/8).

Ia menyatakan bahwa dunia usaha, baik dalam maupun luar negeri, sangat menggantungkan diri pada kepastian hukum. Sistem hukum yang tidak menjamin kontrak, rawan intervensi politik, dan lamban dalam menyelesaikan sengketa akan membuat investor enggan menanamkan modalnya.

Didik yang juga Rektor Universitas Paramadina ini secara terang menyebut bahwa kasus Lembong tidak bisa dilepaskan dari dugaan kriminalisasi yang bernuansa politik. Ia menilai intervensi kekuasaan dalam penegakan hukum, terutama terhadap tokoh-tokoh yang dianggap sebagai lawan politik, menjadi warisan dari pemerintahan sebelumnya.

“Praktik kriminalisasi semacam ini terjadi di semua rezim, tapi sangat vulgar di masa Presiden Jokowi. Dalam kasus Tom Lembong, ada indikasi kuat intervensi kekuasaan terhadap hukum,” katanya.

Prinsip Hukum

Ia pun menyesalkan bahwa prinsip paling mendasar dalam hukum, “lebih baik membebaskan orang bersalah daripada menghukum orang yang tidak bersalah” telah diabaikan oleh para pemimpin yang sejatinya terpilih secara demokratis.

Didik juga memperingatkan bahwa sistem hukum yang tidak kredibel dapat membawa ekonomi nasional ke dalam jebakan negara gagal (failed state) atau negara predatoris. Dalam situasi tersebut, ekonomi hanya menjadi alat penghisapan kekuasaan elite, bukan lagi instrumen kesejahteraan rakyat.

“Efisiensi ekonomi akan rusak total bila hukum hanya jadi alat politik. Negara-negara dengan sistem hukum lemah cenderung terjebak dalam krisis jangka panjang,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Didik menyerukan kepada pemerintah untuk mereformasi sistem hukum secara menyeluruh, terutama dalam menjamin independensi peradilan dan menjauhkan hukum dari tekanan politik.

“Hukum adalah jantung dari kepastian ekonomi. Jika jantungnya rusak, seluruh tubuh perekonomian akan ikut lumpuh,” pungkasnya. (tb)

Berita Terbaru

Menhub Pastikan Mudik-Balik Lancar

NEWSREAL.ID, JAKARTA- Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memastikan seluruh fasilitas transportasi selama arus mudik dan balik Lebaran 2026 berjalan aman, lancar, dan optimal. Pernyataan itu disampaikan saat...

Usai Lebaran, ASN WFH 1 Hari per Pekan, Pemerintah Klaim Hemat BBM hingga 20 Persen

NEWSREAL.ID, JAKARTA- Pemerintah akan menerapkan kebijakan work from home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) setelah Lebaran 2026. Skema ini dirancang sebagai langkah efisiensi energi...

Arus Balik Lebaran, KAI Siapkan 293 Ribu Kursi ke Jakarta

NEWSREAL.ID, JAKARTA- PT Kereta Api Indonesia (KAI) memastikan ketersediaan kursi kereta api untuk arus balik Lebaran 2026 masih aman. Tercatat, sebanyak 293.937 tempat duduk masih...

Arus Balik Lebaran, Polri Minta Pemudik Manfaatkan Diskon Tol 26-27 Maret

NEWSREAL.ID, JAKARTA- Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) mengimbau masyarakat memanfaatkan diskon tarif tol saat arus balik Lebaran pada 26–27 Maret 2026 guna mengurai kepadatan kendaraan....

Ini Daftar Wilayah RI Berpotensi Paling Panas di Kemarau 2026 Versi BMKG

NEWSREAL.ID, JAKARTA– BMKG memprediksi sejumlah wilayah di Indonesia berpotensi mengalami suhu lebih panas selama musim kemarau 2026, meski tidak seekstrem tahun 2024. Dalam laporan Climate...

Prabowo Buka Alasan RI Gabung BoP

NEWSREAL.ID, JAKARTA– Presiden Prabowo Subianto mengungkap alasan Indonesia bersama negara-negara mayoritas Muslim bergabung dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP). Keputusan itu disebut sebagai...

Bos Djarum Michael Bambang Hartono Wafat, Jejaknya dari Bisnis hingga Olahraga

NEWSREAL.ID, JAKARTA- Kabar duka datang dari dunia bisnis dan olahraga Indonesia. Pimpinan Grup Djarum, Michael Bambang Hartono, meninggal dunia pada Kamis (19/3/2026) pukul 13.15 waktu...

Resmi! Pemerintah Tetapkan Lebaran 2026 Jatuh 21 Maret

NEWSREAL.ID, JAKARTA- Pemerintah melalui Kementerian Agama resmi menetapkan Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Keputusan ini diumumkan langsung...

Diskon 30 Persen Diserbu, 280 Ribu Penumpang KA Berangkat dari Jakarta

NEWSREAL.ID, JAKARTA- Program diskon tarif 30 persen kereta api pada masa Angkutan Lebaran 2026 mendapat respons tinggi. PT KAI Daop 1 Jakarta mencatat sekitar 280...

Puncak Mudik Via Laut Tembus 28 Ribu Penumpang, Pelni Lampaui Target

NEWSREAL.ID, JAKARTA- Lonjakan pemudik via jalur laut mencapai puncaknya pada Rabu (18/3), dengan jumlah penumpang kapal PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) menembus lebih dari 28...

Diserbu Pemudik! 730 Ribu Tiket Kereta Lebaran 2026 Ludes Terjual

NEWSREAL.ID, JAKARTA- Minat masyarakat untuk mudik naik kereta api melonjak tajam. PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 1 Jakarta mencatat sebanyak 734.293 tiket KA jarak...

BGN Gandeng Kejagung Awasi Program MBG

NEWSREAL.ID, JAKARTA- Badan Gizi Nasional (BGN) resmi menggandeng Kejaksaan Agung (Kejagung) untuk memperkuat pengawasan penggunaan anggaran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang kini tersebar di...

Leave a comment