Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ekonomi Bisnis

Volume Logistik Diprediksi Melonjak 30 Persen Selama Ramadan

Tim Redaksi, Newsreal.id
Rabu, 11 Maret 2026 19:06 WIB
Volume Logistik Diprediksi Melonjak 30 Persen Selama Ramadan
NEWSREAL.ID - ANTRE PENYEBRANGAN: Sejumlah truk pengangkut barang yang akan menyeberang ke Sumatera antre di Pelabuhan Merak, Banten, beberapa waktu lalu. (Foto: Ist)

NEWSREAL.ID, JAKARTA- Ramadhan tak hanya membuat pasar dan dapur lebih sibuk. Sektor logistik nasional juga ikut “ngebut”. Distribusi barang diperkirakan melonjak hingga 30 persen, dipicu meningkatnya konsumsi masyarakat serta lonjakan belanja daring selama bulan puasa.

Aktivitas logistik nasional selama Ramadhan diperkirakan mengalami lonjakan signifikan. Volume distribusi barang bahkan diprediksi meningkat hingga 30 persen dibandingkan periode normal. Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Rianto mengatakan peningkatan tersebut terjadi hampir di seluruh rantai pasok, mulai dari distribusi antarwilayah hingga pengiriman ke pusat-pusat konsumsi.

“Biasanya kenaikan volume dalam rantai pasok selama Ramadhan bisa mencapai sekitar 30 persen,” kata Mahendra di Jakarta, Rabu, (11/3/2026)/ Lonjakan distribusi ini juga sejalan dengan meningkatnya aktivitas perdagangan elektronik (e-commerce) yang diperkirakan tumbuh sekitar 15–20 persen selama Ramadan.

Menurut Mahendra, dalam sistem logistik modern, terutama pada sektor e-commerce, pengiriman barang biasanya dilakukan melalui mekanisme konsolidasi muatan. Artinya, pesanan yang masuk akan dikumpulkan terlebih dahulu hingga memenuhi kapasitas truk sebelum dikirim dari satu hub logistik ke hub lainnya.

“Order biasanya dikumpulkan dulu sampai menjadi satu muatan penuh truk, kemudian dikirim dari hub ke hub besar seperti **Semarang, Bandung, atau Surabaya sebelum diteruskan ke wilayah tujuan,” jelasnya. Dari hub utama tersebut, barang kemudian diteruskan ke hub regional hingga tahap last mile, yakni pengiriman langsung ke konsumen di dalam kota.

Kategori Barang

Mahendra menyebut ada beberapa kategori barang yang paling banyak mengalami lonjakan pengiriman selama Ramadhan. Di antaranya fast moving consumer goods (FMCG), produk fesyen, hingga produk kesehatan seperti obat-obatan dari jaringan ritel farmasi. “Yang paling dominan biasanya FMCG, fashion, dan juga produk medis seperti obat-obatan,” ujarnya.

Lonjakan distribusi sebenarnya sudah dipersiapkan jauh sebelum puncak permintaan. Untuk wilayah yang jauh seperti Sulawesi, Maluku, dan Papua, pengiriman biasanya sudah dimulai sekitar 30 hari sebelum Lebaran. Sementara itu, distribusi ke wilayah yang lebih dekat memiliki waktu tempuh lebih singkat, seperti Kalimantan sekitar 7-10 hari, dan Sumatera sekitar 5-6 hari melalui jalur darat.

Meski demikian, industri logistik tetap menghadapi berbagai tantangan. Salah satu yang terbesar adalah kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan serta keterbatasan sarana transportasi. Di jalur darat, perusahaan logistik sering menghadapi keterbatasan armada karena meningkatnya permintaan pengiriman secara bersamaan. Sementara di jalur laut, industri juga menghadapi kekurangan kontainer, yang berdampak pada kenaikan tarif pengangkutan.

Selain itu, ketimpangan distribusi antara wilayah barat dan timur Indonesia juga masih menjadi persoalan. Sebagian besar pusat produksi masih terkonsentrasi di wilayah barat, sehingga distribusi ke kawasan timur sering tidak diimbangi dengan muatan balik.

Akibatnya, banyak kapal atau kendaraan logistik yang kembali dalam kondisi kosong. “Sering kali dari timur ke barat tidak ada muatan balik yang cukup, sehingga kendaraan kembali tanpa muatan,” kata Mahendra. Kondisi tersebut membuat biaya distribusi menjadi lebih tinggi karena biaya operasional tetap harus ditanggung.

Untuk menghadapi lonjakan permintaan selama Ramadhan, pelaku industri logistik kini menerapkan strategi distribusi yang lebih adaptif, seperti penjadwalan pengiriman lebih awal serta optimalisasi sistem distribusi berbasis hub.

Mahendra juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi logistik, mulai dari pelacakan pengiriman secara real time, pengaturan rute distribusi yang lebih efisien, hingga integrasi data logistik. “Teknologi sangat membantu mengatur pergerakan barang dan kendaraan agar distribusi lebih efektif,” ujarnya.

Di sisi lain, sektor logistik juga memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan UMKM, terutama melalui pemanfaatan platform perdagangan elektronik. Menurut Mahendra, pelaku UMKM perlu meningkatkan pemahaman terhadap sistem logistik agar dapat memanfaatkan berbagai peluang efisiensi biaya distribusi.

Pengalaman selama pandemi COVID-19 juga menjadi pelajaran penting bagi industri logistik mengenai pentingnya kesiapan menghadapi ketidakpastian dalam rantai pasok global. “Dalam rantai pasok, yang pasti justru ketidakpastian. Karena itu perusahaan harus selalu punya rencana cadangan agar distribusi tetap berjalan,” kata Mahendra. (tb)

Berita Terbaru

ATM Mulai Sepi, Warga RI Pindah ke Mobile Banking

NEWSREAL.ID, JAKARTA- Mesin ATM di Indonesia perlahan mulai “ditinggalkan”. Bukan karena rusak, tapi karena masyarakat kini lebih nyaman bertransaksi lewat ponsel. Dari bayar tagihan sampai...

Menkeu: APBN Masih Tangguh Hadapi Badai Krisis Global

NEWSREAL.ID, JAKARTA- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi potensi krisis global, termasuk...

Timur Tengah Memanas, DPR Minta Pemerintah Percepat Kemandirian Energi

NEWSREAL.ID, JAKARTA- Ketegangan geopolitik global yang meningkat mendorong DPR RI mendesak pemerintah mempercepat program kemandirian energi nasional. Eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan...

Antisipasi Dampak Perang AS-Iran, Airlangga: Pasokan Energi RI Sudah Diamankan dari Luar Timur Tengah

NEWSREAL.ID, JAKARTA- Pemerintah Indonesia menyiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi gejolak pasokan energi akibat konflik global. Salah satunya dengan mengamankan sumber energi dari berbagai negara di...

Ombudsman Minta Pemerintah Kaji Ulang Rencana Impor 150 Ribu Mobil Niaga dari India

NEWSREAL.ID, JAKARTA- Rencana pemerintah mengimpor 150 ribu mobil niaga dari India untuk mendukung logistik Koperasi Desa menuai sorotan. Ombudsman RI menyarankan agar kebijakan tersebut dievaluasi...

Mudik Lebaran 2026, PT Pelni Beri Diskon Tiket 30 Persen

NEWSREAL.ID, JAKARTA- Kabar baik buat calon pemudik jalur laut. PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) memberikan diskon tiket kapal sebesar 30 persen selama periode mudik Lebaran...

Malaysia Dukung RI Pimpin D-8, Titip Pesan: Jangan Lupa UMKM!

NEWSREAL.ID, JAKARTA- Malaysia resmi kasih “lampu hijau plus dukungan penuh” buat Indonesia yang lagi pegang tongkat komando organisasi Developing Eight (D-8). Tapi ada satu catatan...

Airlangga Ingatkan Dampak Perang AS-Iran: Harga BBM Bisa Ikut Terkerek

NEWSREAL.ID, JAKARTA- Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran tak hanya berdampak pada geopolitik global, tetapi juga berpotensi memengaruhi harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. Menteri...

Soal Moratorium Ritel Modern, Menkop: Itu Kewenangan Pemda, Bukan Pemerintah Pusat

NEWSREAL.ID, JAKARTA- Menteri Koperasi Ferry Juliantono menegaskan kebijakan moratorium atau penghentian sementara izin pembangunan ritel modern sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah daerah (pemda), bukan ranah Kementerian...

Kemenaker Pastikan Bonus Hari Raya Ojol Tetap Ada, Maksimal H-7 Lebaran

NEWSREAL.ID, JAKARTA- Ramadan sudah berjalan sepekan, dan pertanyaan klasik menjelang Lebaran kembali muncul: kapan THR cair? Bagi pengemudi ojek online (ojol), kabar baiknya Bonus Hari...

APKLI Desak Penataan Ulang Ritel Modern

NEWSREAL.ID, JAKARTA- Keberadaan warung kelontong kian terdesak. Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) mencatat jumlah warung kelontong di Indonesia terus menyusut dalam hampir dua dekade...

103 Ribu Kursi Kereta Mudik Lebaran 2026 Masih Tersedia

NEWSREAL.ID, JAKARTA– Buat kamu yang belum pegang tiket mudik Lebaran 2026, tenang dulu. Masih ada sekitar 103 ribu kursi kereta untuk periode pra-Lebaran 11-20 Maret...