Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Opini Mahasiswa

Sampah sebagai Instrumen Edukasi dalam Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan

Tim Redaksi, Newsreal.id
Sabtu, 10 Januari 2026 21:33 WIB
Sampah sebagai Instrumen Edukasi dalam Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan
NEWSREAL.ID - Dr Ir Bambang Wuragil Untung, MM, MSi. (Foto: Dok Pribadi)

PERSOALAN sampah merupakan fenomena yang hampir tidak terpisahkan dari perkembangan sektor pariwisata. Peningkatan intensitas kunjungan wisatawan umumnya berimplikasi langsung pada bertambahnya volume sampah, baik berupa plastik sekali pakai, sisa makanan, maupun limbah lain yang dihasilkan dari aktivitas rekreasi. Dalam banyak konteks, kondisi ini kerap dipandang sebagai konsekuensi yang tidak terelakkan dari pertumbuhan pariwisata.

Namun demikian, perspektif tersebut sesungguhnya dapat digeser. Dengan pendekatan pengelolaan yang terencana dan berbasis edukasi, sampah tidak hanya diposisikan sebagai persoalan lingkungan, melainkan juga sebagai sarana pembelajaran serta instrumen strategis dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan.

Fenomena tersebut dapat diamati di kawasan wisata edukatif Watu Gajah Park (WGP), Kabupaten Semarang. Pada akhir pekan dan musim liburan, lonjakan jumlah pengunjung berbanding lurus dengan peningkatan timbulan sampah. Apabila tidak dikelola secara memadai, kondisi ini berpotensi menurunkan kualitas lingkungan, mengganggu kenyamanan pengunjung, serta berdampak pada citra destinasi wisata secara keseluruhan.

Masalah sampah di kawasan wisata tidak semata-mata berkaitan dengan aspek kuantitatif, tetapi juga erat hubungannya dengan perilaku pengunjung dan kesiapan sistem pengelolaan. Praktik membuang sampah sembarangan, khususnya di ruang terbuka dan area wahana air, masih sering dijumpai.

Di sisi lain, keterbatasan sarana pemilahan dan pengolahan sampah menjadikan upaya pengelolaan kebersihan berjalan kurang optimal. Persoalan struktural semacam ini umum terjadi di berbagai destinasi wisata, baik di Jawa Tengah maupun wilayah lain di Indonesia.

Edukasi Lingkungan sebagai Pendekatan Pengelolaan

Dalam konteks tersebut, pengelolaan sampah di WGP menarik dicermati karena mengadopsi pendekatan berbasis edukasi lingkungan. Sampah tidak diperlakukan semata sebagai residu yang harus dibuang, melainkan diintegrasikan ke dalam konsep edu-ekowisata. Pendekatan ini menempatkan pengelolaan lingkungan sebagai bagian dari pengalaman berwisata yang memiliki nilai pembelajaran.

Praktik pengelolaan bertumpu pada prinsip 3R (reduce, reuse, recycle). Upaya pengurangan sampah dilakukan dengan mendorong pengunjung membawa botol minum pribadi serta membatasi penggunaan kemasan plastik sekali pakai. Strategi ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku konsumsi dapat dipengaruhi melalui intervensi sederhana yang diterapkan secara konsisten di ruang publik wisata.

Pada aspek penggunaan kembali, penyediaan fasilitas isi ulang air minum memiliki fungsi ganda, yakni menekan timbulan sampah plastik sekaligus memperkenalkan konsep fasilitas wisata ramah lingkungan. Sampah organik seperti daun dan ranting dimanfaatkan kembali sebagai bahan pendukung kegiatan lain, antara lain pakan ternak dan bahan kompos.

Pada tahap daur ulang, sisa makanan dari aktivitas pengunjung dan pengelolaan restoran dipilah untuk diolah menjadi pupuk kompos yang kemudian dimanfaatkan kembali di area taman dan ruang hijau. Sementara itu, sampah plastik yang terkumpul disalurkan ke bank sampah mitra sehingga tidak langsung berakhir di tempat pembuangan akhir dan tetap memiliki nilai ekonomi.

Pendekatan partisipatif diwujudkan melalui skema penukaran botol plastik sebagai bagian dari mekanisme akses masuk kawasan wisata. Program “Tiket Masuk Botol Plastik 7 Kg” menempatkan pengunjung sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah. Secara konseptual, skema ini menyampaikan pesan bahwa limbah plastik memiliki nilai apabila dikelola secara tepat, sekaligus berpotensi meningkatkan kesadaran lingkungan melalui pengalaman langsung.

Selain pengelolaan sampah padat, pengelolaan limbah cair dapur juga menjadi bagian dari praktik yang diterapkan. Air bekas cucian bahan makanan ditampung dan disaring secara sederhana untuk dimanfaatkan kembali dalam penyiraman tanaman. Praktik ini mencerminkan upaya efisiensi penggunaan sumber daya air, meskipun tetap memerlukan pengawasan agar tidak menimbulkan dampak lingkungan lanjutan.

Implikasi terhadap Keberlanjutan

Sejumlah dampak positif dari praktik tersebut dapat diidentifikasi, antara lain berkurangnya timbulan sampah plastik, pemanfaatan kompos untuk kebutuhan internal kawasan, serta penghematan penggunaan air bersih. Lebih jauh, pengunjung memperoleh pengalaman wisata yang tidak hanya bersifat rekreatif, tetapi juga informatif terkait pengelolaan lingkungan.

Dalam kerangka kebijakan, praktik ini sejalan dengan Roadmap Ekonomi Sirkular Indonesia 2021–2045 yang menempatkan sektor pariwisata sebagai ruang strategis untuk efisiensi sumber daya dan pengurangan limbah. Pola pengolahan sisa makanan, pemanfaatan kembali limbah cair, serta penyaluran plastik ke bank sampah mencerminkan pergeseran dari pola ekonomi linear menuju ekonomi sirkular. Dengan demikian, kawasan wisata dapat berfungsi sebagai laboratorium sosial untuk menguji implementasi konsep ekonomi sirkular di tingkat lokal.

Pendekatan tersebut juga relevan dengan kerangka regulasi nasional dan daerah, termasuk Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup serta Undang-Undang Kepariwisataan yang menekankan prinsip keberlanjutan. Praktik di tingkat kawasan wisata menunjukkan bahwa kebijakan tersebut memiliki peluang untuk diimplementasikan secara operasional, bukan sekadar normatif.

Pengalaman pengelolaan sampah di Watu Gajah Park menunjukkan bahwa pendekatan reaktif terhadap persoalan sampah tidak lagi memadai. Melalui inovasi pengelolaan dan pelibatan pengunjung, sampah dapat difungsikan sebagai media pembelajaran ekologis. Model ini relevan untuk dikaji lebih lanjut dan, dengan penyesuaian konteks, berpotensi direplikasi di destinasi wisata lain.

Pada akhirnya, keberlanjutan pariwisata tidak hanya diukur dari jumlah kunjungan, tetapi juga dari jejak ekologis yang ditinggalkan. Ketika sampah dikelola secara sistematis dan edukatif, kawasan wisata tidak sekadar menjadi ruang hiburan, melainkan juga wahana pembentukan kesadaran lingkungan dan praktik keberlanjutan. (*)

Dr Ir Bambang Wuragil Untung, MM, MSi, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Soegijapranata Catholic University (SCU) Semarang, Ketua DPD Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jawa Tengah 2025-2030.

Share:

Berita Terbaru