Mahasiswa Muda Berhasil Raih Omzet Puluhan Juta dari Bisnis Peternakan

FOTO : Humas UNS

BERAWAL dari keresahan terhadap banyaknya produk madu murni palsu, mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta membuat brand madu murni sendiri bernama “Neebee”.

Neebee didirikan oleh Mochammad Nibraasuddiin Aley Z, mahasiswa asal Program Studi (Prodi) S-1 Informatika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNS dan ia berhasil meraup keuntungan puluhan juta di tahun pertamanya.

Nibras yang pernah mempersembahkan medali perunggu bagi Indonesia dan UNS di ajang Advanced Innovation Jam (AI-JAM) Japan 2019 membagikan pengalamannya ketika merintis bisnis madu murni.

Nibras mengungkapkan, Neebee didirikan tidak sekadar untuk kepentingan bisnis, tapi juga sebagai perwujudan niat mulia agar masyarakat secara mudah mendapatkan produk madu murni yang berkualitas tanpa khawatir tertipu.

“Madu sudah disebutkan di dalam Alquran Surah An-Nahl 69. Janji Allah akan hasil produksi lebah itu adalah obat dari segala penyakit, tapi malah banyak produk di pasaran hingga kelas produsen besar membuat ragu banyak orang,” ujar Nibras.

Nibras menceritakan, Neebee sudah didirikan sejak tanggal 1 Oktober 2020. Brand madunya berhasil berkembang sebab Nibras berhasil menggandeng sepasang suami-istri sebagai investor. 

Saat ditanya mengenai bagaimana cara Nibras mendapatkan investor, ia mengatakan hal ini bermula saat ia menjalankan ibadah umroh di Tanah Suci.

“Modal dapat dari investor, berkenalan dengan orang-orang baik yang bisa dipercaya. Ketemu waktu umroh dan kami sekamar, banyak ngobrol akhirnya klop. Di Malang ketemu lagi dan akhirnya akrab, habis itu baru cerita bisnis. Alhamdulillah ideku dilirik, akhirnya bisnisnya jalan,” terang Nibras.

Baca : Masuk Kawasan Tawangmangu, Wisatawan Bakalan Dimanjakan Lewat Aplikasi Krenova Utama

Investor yang menyuntikkan modal untuk bisnis madunya juga membantu Nibras dalam pemilihan nama brand.

Sebelum dipilih nama Neebee, investor sempat mengusulkan nama “Nibi”. Nama ini diambil dari nama depan “Nibras” dan “bi” yang merupakan pelafalan dari “bee”.

Tapi, seiring perjalanan waktu, ia merasa penamaan Neebee lebih cocok daripada Nibi. Dan, nama ini terus digunakan hingga sekarang.

“Berawal dari celetukan di mobil bersama investor. Awalnya, saya cerita tentang ketertarikan saya di dunia permaduan, karena banyaknya madu yang dipalsukan, sampai madu itu sendiri ‘terdiskriminasi’,” ucapnya.

Awal mula bisnis

Setelah perbincanganya dengan investor, Nibras lantas melakukan riset pada tanggal 9 September 2020 dan mendatangi salah satu peternak lebah yang disebutnya sudah berpengalaman selama puluhan tahun.

Baca : Solo Punya Cyber Security Hub, Gibran : Data Jangan Sampai Disalahgunakan

Ia juga meminta referensi dari beberapa orang dan menggali informasi melalui internet agar pengetahuan seputar bisnis madu terus bertambah.

Nibras menjelaskan, pasokan madu brand-nya turut disuplai oleh peternak lebah. Sedangkan, untuk desain kemasan, Nibras merancangnya sendiri.

Walau merintis Neebee tidaklah mudah, Nibras mengaku senang dan bersyukur. Baginya, menjalankan bisnis ini sama artinya dengan memberikan edukasi seputar manfaat madu di dalam Alquran kepada konsumen.

“Saya paling senang itu bertransaksi dengan Allah, dalam bentuk apa pun itu. Salah satu contohnya untuk mengedukasi masyarakat 4 produk keluaran lebah, seperti propolis, royal jelly, bee pollen, madu yang sudah tertera di dalam Alquran,” tambahnya.

Ia menyampaikan, edukasi yang diberikan kepada konsumen termasuk penjelasan seputar madu murni, madu mentah, dan membantu memberikan treatment.

“Dengan madu ini saya bisa banyak berbagi pada orang-orang tentang produk alami yang bermanfaat dan memberi solusi,” imbuhnya.

Baca : Riset AMRO Institute : Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati

Nibras menjelaskan, pemasaran Neebee dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari sistem door to door, WhatsApp, Instagram, Facebook, open mitra reseller, dan toko online.

Tidak hanya itu, ia juga menyediakan etalase di rumahnya untuk memfasilitasi konsumen yang ingin berkunjung.

Tantangan

Setiap bisnis tentu memiliki tantangannya masing-masing. Hal inilah yang juga dirasakan Nibras saat merintis Neebee.

Meski berhasil menggaet investor, ia mengungkapkan omzet pada tiga bulan pertama cukup rendah.

Baca : BLK Don Bosco Mendapatkan Kunjungan Viktor Laiskodat, Gubernur : Kegiatan Wirausaha harus Kita Dorong

Setelah itu, omzet Neebee mulai naik di bulan keempat dan tren positif ini terus berlanjut hingga penghujung tahun 2020 dan omzet yang didapat mencapai puluhan juta.

Dari omzet ini, Nibras memanfaatkannya untuk investasi aset, membeli perangkat elektronik, dan tabungan persiapan menikah.

Saat ditanya mengenai rencana ke depan, ia mengatakan akan membuka sejumlah program agar produk madunya bisa semakin dikenal masyarakat dan dirasakan khasiatnya.

“Alhamdulillah senang banget bisa bantu orang makin sehat, bugar, juga makin cantik dan tampan. Aku fitness juga sejak 3 bulan lalu. Karena rencana ke depan aku mau coaching banyak orang biar hidup sehat dan bisa mengeluarkan performa terbaik dalam hidupnya, terutama untuk ibadah,” pungkasnya.

Baca : Gus Yahya Nahkodai PBNU, Pengusaha Cantik Solo : NU Ormas Islam Disegani di Dunia

Tak hanya itu, saat ini Nibras tengah bekerja sama dengan salah satu produsen collagen untuk menambah produknya. Sebabnya, ia menemukan hal menarik jika dua hal ini dipadukan.

“Karena nyatanya setiap orang ingin sehat dan berpenampilan baik sampai tua. Madu ini menjadi katalisator dari produk collagen sehingga memberikan efek yang jauh lebih cepat dan signifikan,” ujarnya.

Setelah mengonsumsi madu dan collagen selama satu bulan, Nibras akan terus menjalani treatment dan latihan untuk menjaga stabilitas kesehatannya. (Red)

Artikel asli : https://uns.ac.id/id/uns-students/mahasiswa-uns-ini-raup-puluhan-juta-dari-bisnis-madu-kok-bisa.html


Tinggalkan Pesan