Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Opini

Penyebab dan Solusi Penanganan Banjir di Indonesia

Tim Redaksi, newsreal.id
Selasa, 8 April 2025 10:30 WIB
Penyebab dan Solusi Penanganan Banjir di Indonesia
NEWSREAL.ID - Banjir sekitar 50 sentimeter terjadi di Jalan Pramuka Raya, Depok pada Jumat (7/10/2022) malam. Banjir terjadi usai hujan deras melanda wilayah tersebut sejak pukul 14.30 WIB. (KOMPAS.COM/ZINTAN PRIHATINI)

Oleh: [Edy Susilo]*

BAYANGKAN sejenak, Anda terbangun di tengah malam oleh suara gemuruh air yang deras. Dalam hitungan menit, rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung berubah menjadi genangan air yang menenggelamkan harapan. Barang-barang berharga hanyut, dan Anda serta keluarga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Sayangnya, ini bukan sekadar skenario. Ini nyata, dan terjadi berulang kali.

Dalam lima tahun terakhir, Indonesia terus dilanda banjir besar di berbagai wilayah. Pada April 2021, banjir bandang di Nusa Tenggara Timur menewaskan lebih dari 174 jiwa (Kompas.com, 2021). Februari 2023, banjir besar melanda Makassar dan memaksa ribuan warga mengungsi (Kompas.id, 2023). Januari 2024, tiga kabupaten di Kalimantan Barat mengalami banjir besar (Suarakalbar.co.id, 2024). Februari 2025, Kabupaten Demak kembali dilanda banjir hebat hingga memaksa ratusan warga bertahan di pengungsian (Kompas.com, 2025). Di waktu yang sama, Bima, NTB, juga dilanda banjir dan longsor yang menyebabkan kerusakan cukup parah (Detik.com, 2025).

Tak ketinggalan, wilayah Jabodetabek juga mengalami banjir besar pada awal tahun 2025. Hujan deras yang turun terus-menerus menyebabkan genangan di sejumlah titik. Ribuan warga terdampak, transportasi umum terganggu, dan sekolah-sekolah terpaksa diliburkan (Kompas.com, 2025).

Data BNPB menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2024 terjadi 5.593 kejadian bencana di Indonesia, dengan banjir dan tanah longsor mendominasi (Antaranews.com, 2025). Ini bukan lagi peristiwa acak, melainkan gejala sistemik yang perlu kita cermati bersama.

Mengurai Penyebab: Banjir Tak Sekadar Soal Hujan
Seringkali, hujan deras menjadi kambing hitam. Namun, penyebab banjir jauh lebih kompleks.

Pembangunan permukiman, industri, dan infrastruktur seringkali mengorbankan ruang terbuka hijau dan daerah tangkapan air. Akibatnya, air kehilangan tempat untuk meresap dan mengalir bebas ke permukaan, memicu genangan dan banjir.

Indonesia sebenarnya telah memiliki regulasi penataan ruang yang kuat, seperti Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 dan Peraturan Pemerintah No. 13 Tahun 2017. Dalam pasal 99 ayat (3) dari PP tersebut ditegaskan prinsip Zero Delta Q, yaitu pembangunan tidak boleh meningkatkan debit limpasan air hujan. Namun dalam praktik, banyak proyek pembangunan masih mengabaikan prinsip ini.

Selain itu, sistem drainase yang tersumbat akibat penumpukan sampah dan kurangnya pemeliharaan juga memperparah kondisi. Perubahan iklim global pun turut memicu intensitas hujan yang lebih ekstrem dan sulit diprediksi, membuat kawasan sangat rentan terhadap banjir.

Mencari Solusi: Air Jangan Dibuang, Tapi Ditampung dan Diresapkan
Mengatasi banjir bukan semata meninggikan tanggul atau memperbesar saluran air. Kita perlu mengubah cara pandang: air hujan bukan musuh, melainkan anugrah yang perlu dikelola.

Air hujan seharusnya tidak dibuang. Kolam retensi, embung, dan bendungan adalah cara efektif menampung air hujan. Selain itu, Rain Water Harvesting (RWH) juga bisa menjadi solusi, di mana air hujan yang ditampung dari atap dapat digunakan untuk keperluan rumah tangga. RWH dapat mengurangi ketergantungan terhadap air tanah dan mengurangi banjir.

Metoda selanjutnya adalah meresapkan air ke dalam tanah dengan sumur resapan (SR), lubang resapan biopori (LRB), atau pipa resapan horisontal (PRH). SR dan LRB sudah banyak dikenal masyarakat dan dipasang di berbagai daerah. PRH efektif untuk meresapkan air ke dalam tanah. PRH dibuat dari pipa PVC dipasang pada kedalaman maksimal 150cm. Peresapan oleh PRH bisa lebih dari 20 kali peresapan SR. PRH dapat direncanakan untuk menihilkan tambahan limpasan air akibat pembangunan (zero delta Q). Kelebihan PRH harga lebih murah, pemasangan dan pemeliharaan mudah. Pemasangannya di dalam/luar saluran atau disambungkan dengan talang. PRH yang ditemukan oleh Edy Susilo tahun 2020 telah dipasang di Semarang untuk mengurangi banjir dan mengatasi kekurangan air tanah.

Agar solusi ini berjalan optimal, dukungan kebijakan menjadi kunci. Pemerintah perlu mendorong pemanfaatan teknologi resapan melalui regulasi dan insentif. Masyarakat pun diharapkan mulai mengubah kebiasaan, dari membuang air hujan menjadi menyimpan atau meresapkannya ke dalam tanah.

Penutup: Saatnya Kita Menyatu dengan Alam
Air tak pernah salah. Ia hanya menagih kembali ruang yang dulu kita ambil darinya. Kini saatnya kita mulai mengelola air dengan bijak. Kita perlu membangun kota dan desa yang ramah air, dengan tata ruang yang memperhatikan lingkungan.

Banjir adalah konsekuensi dari pilihan kita dalam mengelola lingkungan. Namun, masa depan yang bebas banjir bukanlah mimpi, jika kita bersedia mengambil tindakan nyata, mulai dari diri kita sendiri.

*Dr. Ir. Edy Susilo, M.T .
Dosen Universitas Semarang, Praktisi Hidrologi
Pemerhati konservasi air berbasis masyarakat
email: 456edysusilo@gmail.com

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Kemacetan Tanjung Priok, Djoko Setijowarno : Benahi Tata Kelola Kawasan Pelabuhan

KEMACETAN panjang yang terjadi di sekitar Kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Kamis (17/4/2025). Diperkirakan adalah kemacetan lalu lintas yang terparah. Namun, kemacetan bukan hal...

Mengurai Kemacetan di Merak, Butuh Satu Komando

PERTANYAAN ini sering muncul dari para pemudik lintas Merak-Bakauheni karena setiap arus mudik Lebaran, seperti Lebaran 2024 terjadi kemacetan panjang sampai Km 97. Saking frustasinya...

Perlu Akses Transportasi Untuk Mewujudkan Program Pendidikan Gratis, Lumbung Pangan dan Pengetesan Kemiskinan

KEMISKINAN tidak akan beranjak selama akses transportasi tidak memadai. Apapun bentuk program yang diberikan kepada warga miskin. Jika memang serius mengentaskan kemiskinan, terlebih dahulu perbaiki...

Pengawasan Angkutan Logistik Belum Optimal, Pemerintah harus Turun Tangan

KECELAKAAN* angkutan logistik setiap hari terjadi di negeri ini, bahkan bisa mencapai tujuh kali kejadian dalam sehari. Armada truk menduduki peringkat kedua penyebab kecelakaan lalu...

Resolusi Usai Idul Fitri

KATA resolusi lebih sering diucapkan kebanyakan orang saat pergantian tahun baru. Jarang sekali diungkapkan saat memuliakan hari-hari besar keagamaan, seperti perayaan Idulfitri 1445 H. Padahal,...

Kondisi Jalan Rusak Berlubang Tanggungjawab Siapa ?

“Ketika musim hujan tiba, banyak ditemukan jalan rusak. Kondisi jalan rusak, jika dibiarkan tidak ditangani dengan baik akan berpotensi rawan menimbulkan kecelakaan lalu lintas dan...

Kerukunan Umat dan Optimisme Indonesia Emas

TAHUN 2023 telah berakhir. Kini, suka cita dan setumpuk harapan baru menyeruak di tiap benak individu anak bangsa. Di 2024, meski dinamika dan tantangan zaman...

Operasional Trans Metro Terlindungi Perda Angkutan Umum

TRANSPORTASI* merupakan salah satu tulang punggung perekonomian masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokok, selain kebutuhan hidup lainnya yang menunjang kebutuhan pokok selain sandang, pangan dan papan....

Visi Misi Capres-Cawapres Infrastruktur dan Transportasi, Ini Kata Pengamat Djoko Setijowarno

INDONESIA sedang mengalami krisis transportasi umum dan darurat keselamatan lalu lintas. Ketiga pasangan calon presiden dan wakil presiden yang bersaing di Pemilu 2024 telah menawarkan...

Ekstra Hati-hati Saat Mobilitas Jelang Akhir Tahun

HASIL Survei Online Pergerakan Masyarakat pada Masa Natal 2023 dan Tahun Baru 2024 yang dilakukan Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan tahun 2023, menghasilkan diperkirakan sebanyak...

Kereta Cepat Picu Kesenjangan Layanan Transportasi Umum

*Maluku Juga Butuh Transportasi Umum Nyaman “Beroperasinya kereta cepat WHOOSH Jakarta – Bandung, kian memperlebar kesenjangan pelayanan transportasi umum di Indonesia.“ PROVINSI Maluku merupakan wilayah...

Aksesibilitas dan Konektivitas Menentukan Pengguna LRT Jabodebek

SEJAK diresmikan operasi LRT Jabodebek oleh Presiden Joko Widodo pada 28 Agustus 2023, ada peningkatan penumpang yang cukup berarti. Terutama stasiun yang memiliki konektivitas dengan...

Leave a comment