
Setiap langkahnya adalah pelajaran, setiap kata-katanya adalah pengingat. Prof Hardhono Susanto, Guru Besar Anatomi Undip memilih menutup masa tugasnya dengan meninggalkan pesan yang membumi: kesehatan adalah soal bergerak, pengabdian adalah soal konsistensi. Bagi mahasiswa dan kolega, ia bukan sekadar dosen, melainkan teladan yang jejaknya akan terus hidup.
DI aula megah Gedung Prof. Soedarto, SH, Universitas Diponegoro (Undip), suasana penuh haru menyelimuti Sidang Terbuka Senat Akademik bertajuk Purna Adi Cendekia, Selasa (26/8). Tiga guru besar resmi dilepas menuju masa purnabakti, salah satunya Prof Dr dr Hardhono Susanto, PAK, sosok pakar anatomi yang lebih dari empat dekade mengabdikan hidupnya untuk ilmu, mahasiswa, dan masyarakat.
Bagi banyak orang, purna tugas identik dengan berhenti. Namun bagi Prof Hardhono, pensiun justru ibarat babak baru. “Movement is medicine, bergerak adalah kehidupan. Jangan berhenti, karena hidup sehat dan bermakna adalah soal gerak, soal bergerak,” ucapnya tegas dalam orasi ilmiah yang disambut tepuk tangan panjang hadirin.
Lahir di Semarang, 11 Mei 1955, Prof Hardhono menapaki jalan panjang ilmu kedokteran sejak menimba gelar dokter di Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 1979. Ia lalu meraih Brevet Anatomi di Undip, sebelum kembali ke UGM untuk menyelesaikan doktoralnya pada 1998. Sejak 1981, ia resmi menjadi dosen muda Undip hingga akhirnya dikukuhkan sebagai guru besar pada 2008.
Sebagai pakar anatomi, ia dikenal piawai menuntun mahasiswa memahami tubuh manusia, “jantungnya” ilmu kedokteran. Namun, kiprahnya tak berhenti di ruang kuliah. Ia aktif di Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (PAAI), hingga menjadi Dewan Pakar KONI Jawa Tengah. Bahkan di panggung budaya, ia tak segan tampil dalam pentas ketoprak dan wayang orang bersama sivitas akademika.
“Ilmu dan seni itu dua wajah kebijaksanaan yang sama,” ujarnya suatu kali. Kalimat itu seakan merangkum kepribadiannya: seorang cendekia yang tak hanya meneliti, tetapi juga menghidupkan ilmu dengan cara yang manusiawi.
Dalam orasi purnabaktinya, Prof Hardhono menyoroti ancaman sitting disease atau penyakit akibat terlalu lama duduk. Menurutnya, gaya hidup modern telah melahirkan “pandemi senyap” yang memicu obesitas, diabetes, hingga penyakit jantung.
“Kesehatan bukan sekadar warisan genetik, melainkan hasil pilihan sehari-hari. Mulailah dengan berjalan setiap 20 menit, pilih tangga ketimbang lift, dan jangan biarkan tubuh terlalu lama pasif. Gerak adalah obat,” pesan Prof Hardhono.
Pesan itu terasa sederhana, tetapi kuat: bahwa menjaga kesehatan sejatinya adalah soal disiplin dan kesadaran diri.
Kini, memasuki masa purna tugas, Prof. Hardhono tak berniat duduk diam. Ia justru bertekad mengisi hari-harinya dengan hobi menjelajah alam, baik di dalam negeri maupun mancanegara.
“Alam bumi pertiwi begitu indah, tetapi belum banyak digali optimal untuk industri pariwisata. Sayang kalau tidak dinikmati,” tuturnya.
Awal Agustus lalu, ia baru saja menuntaskan perjalanan 12 hari ke Pulau Timor: dari Kupang menuju So’e, Maubesi, Atambua hingga melintasi Bumi Lorosae (Timor Leste), lalu menyeberang ke Alor dan Rote. Di Rote Ndao, ia bahkan sempat menginjakkan kaki di Pulau Ndana, pulau paling selatan Indonesia.
Selain menjelajah alam, ia juga ingin berkiprah dalam pelestarian budaya, khususnya konservasi rumah bersejarah. Saat ini, ia tengah merawat Roemah Oei dan Omah Idjo di Lasem, kota yang dikenal sebagai simbol toleransi.
“Wisata dan budaya itu dua hal yang tak terpisahkan. Menikmati alam sama artinya dengan merawatnya, begitu pula dengan heritage—ia harus dijaga agar tetap hidup,” katanya penuh keyakinan.
Meski lama aktif di dunia olahraga, Prof Hardhono mulai mengurangi aktivitasnya di lapangan. “Praktis saya sudah meninggalkan dunia olahraga lapangan. Terakhir, selain masih sebagai Dewan Pakar dan Ketua PPKORI, saya juga terlibat di IADO (Indonesia Anti-Doping Organization),” ungkapnya.
Keputusan ini bukan berarti berhenti total, melainkan memberi ruang lebih besar bagi dirinya untuk fokus pada wisata, budaya, dan keluarga.
Penghormatan Tinggi
Rektor Undip, Prof Dr Suharnomo, SE, MSi, memberikan penghormatan tinggi kepada Prof Hardhono dan dua guru besar lain yang turut purna tugas. “Setiap orang ada zamannya, dan setiap zaman ada sosoknya. Guru besar boleh menepi, tetapi teladannya tak pernah hilang. Undip berdiri tegak karena fondasi yang mereka bangun,” ungkap suami dari drg Grace Widjaya Susanto ini.
Menurutnya, Purna Adi Cendekia bukanlah akhir, melainkan tonggak sejarah pengabdian. Ilmu dan pengaruh para akademisi senior akan terus menjadi cahaya bagi perjalanan Undip menuju World Class University.
Empat dekade pengabdiannya membentang melewati delapan rektor dan sepuluh dekan. Ia membimbing 18 doktor, menulis buku, meneliti, hingga menyalurkan semangat hidup sehat kepada masyarakat. Namun, di tengah segala prestasi, ia memilih semboyan sederhana: tetap bergas dan tetap bernas.
Bagi Prof Hardhono, guru besar sejati tidak pernah benar-benar pensiun. Ilmunya, keteladanannya, dan semangatnya akan terus hidup dalam diri generasi penerus. “Purna tugas hanyalah status administratif. Mengabdi itu jalan panjang, dan jalan panjang itu tidak pernah berakhir,” tutur penggemar dansa ini.
Upacara ditutup dengan prosesi penyerahan plakat penghormatan, disertai lantunan lagu Bagimu Negeri. Di wajah para hadirin, haru dan bangga berpadu: melepas seorang cendekia yang jejaknya tak akan pernah purna. (Dian Chandra)
Kemdiktisaintek Genjot Hilirisasi Sepanjang 2025
NEWSREAL.ID, JAKARTA– Pemerintah terus mendorong agar hasil riset tidak berhenti di laporan atau jurnal. Sepanjang tahun anggaran 2025, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek)...
Mutu Riset Jadi Kunci Kampus Indonesia Tembus Peringkat Dunia
NEWSREAL.ID, JAKARTA- Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan bahwa kualitas serta dampak penelitian perguruan tinggi di Indonesia menjadi faktor kunci dalam...
Undip Gandeng King’s College London dan Puskesmas Rowosari Kuatkan Psikoedukasi Pasien Diabetes
NEWSREAL.ID, SEMARANG- Pendekatan pengelolaan diabetes kini tak lagi hanya berfokus pada aspek medis semata. Dukungan psikologis dan kemampuan merawat diri menjadi kunci penting dalam meningkatkan...
Kemenag Buka Beasiswa S2 Gelar Ganda Indonesia-Australia
NEWSREAL.ID, JAKARTA- Kesempatan studi lanjut ke luar negeri kembali dibuka bagi insan pendidikan keagamaan. Kementerian Agama resmi meluncurkan pendaftaran Beasiswa S2 Double Degree yang menggabungkan...
Gandeng Kampus Top Inggris, RI Siap Bangun Universitas STEM dan Kedokteran
NEWSREAL.ID, LONDON- Presiden RI Prabowo Subianto menjajaki penguatan kerja sama pendidikan dengan universitas-universitas terkemuka di Inggris Raya. Salah satu rencana besarnya adalah pembangunan kampus kedokteran...
Istana Ungkap Isi Diskusi Prabowo dengan 1.200 Akademisi
NEWSREAL.ID, JAKARTA- Istana Kepresidenan mengungkap sejumlah topik strategis yang dibahas Presiden Prabowo Subianto bersama sekitar 1.200 akademisi dalam forum diskusi di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis...
Undip Lepas 2.102 Mahasiswa KKN
NEWSREAL.ID, SEMARANG- Universitas Diponegoro (Undip)kembali mengirim ribuan mahasiswanya ke tengah masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Program pengabdian ini menjadi wadah aktualisasi ilmu sekaligus...
Ratusan Rektor Teken Kontrak Kinerja, Dorong Kampus Lebih Berdampak
NEWSREAL.ID, JAKARTA- Ratusan pimpinan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) menandatangani Kontrak Kinerja Perguruan Tinggi Berdampak 2026, sebagai upaya menyelaraskan pengelolaan kampus...
Kemendikti Terbitkan Permen Baru soal Dosen, Status Tetap dan Tidak Tetap Diperjelas
NEWSREAL.ID, JAKARTA- Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) resmi menerbitkan Peraturan Menteri Nomor 52 Tahun 2025 yang mengatur ketentuan baru terkait dosen di perguruan...
FK Unnes Gelar Layanan Kesehatan Gratis Warga Bener Meriah
NEWSREAL.ID, BENER MERIAH– Tim medis Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Semarang (FK Unnes) bekerja sama dengan Puskesmas Lampahan, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, menggelar...
Riset Ekspedisi Patriot Jadi Rujukan Kebijakan Kementerian Transmigrasi
NEWSREAL.ID, YOGYAKARTA- Kementerian Transmigrasi menegaskan komitmennya menjadikan hasil riset Tim Ekspedisi Patriot (TEP) sebagai rekomendasi utama dalam penyusunan kebijakan dan program transmigrasi ke depan, khususnya...
FK Unnes Kirim Bantuan Logistik dan Tim Medis ke Lokasi Terparah Banjir Aceh
NEWSREAL.ID, BENER MERIAH- Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Semarang (FK Unnes) menurunkan tim medis dan menyalurkan bantuan logistik ke wilayah paling terdampak banjir dan longsor di...

