NEWSREAL.ID, JAKARTA- Ketua DPR RI, Puan Maharani mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum untuk segera mengusut tuntas kasus dugaan peredaran beras oplosan di pasaran.
Puan mengatakan, praktik curang tersebut berpotensi merugikan rakyat dan mencoreng program ketahanan pangan nasional. “Kupas dan selidiki secara menyeluruh terkait beras oplosan. Jangan sampai rakyat dirugikan oleh praktik seperti ini,” ujar Puan di Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa (15/7).
Puan juga meminta agar para produsen nakal yang terbukti menurunkan mutu beras dan melakukan pengemasan tidak sesuai takaran, diproses secara hukum. DPR, kata dia, akan mengawal kasus ini melalui komisi-komisi terkait agar tidak berhenti pada penindakan sementara.
Senada, Ketua Komisi IV DPR Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto menyatakan keprihatinannya. Ia menyebut praktik tersebut sangat disayangkan, apalagi dilakukan oleh perusahaan besar di tengah program swasembada pangan yang sedang digalakkan pemerintah.
“Zaman sekarang masih ada perusahaan besar yang nekat mengoplos beras. Harus ditindak supaya ada efek jera,” kata Titiek di Gedung DPR, Senin (14/7). Meskipun Komisi IV belum melakukan inspeksi mendadak (sidak), Titiek menyebut kasus ini akan menjadi perhatian dalam rapat bersama Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. “Setiap hari kami rapat dengan Mentan, pasti nanti ditanyakan,” ucapnya.
Periksa Saksi
Sementara itu, Satgas Pangan Polri mengungkap telah memeriksa 22 orang saksi dalam penyelidikan kasus dugaan pengoplosan beras. Mereka berasal dari enam perusahaan dan delapan pemilik merek beras kemasan lima kilogram. Namun, nama-nama pihak yang terlibat belum dibuka ke publik karena proses masih berjalan.
“Kami sudah periksa 22 saksi,” ungkap Brigjen Pol. Helfi Assegaf, Ketua Satgas Pangan sekaligus Dirtipideksus Bareskrim Polri, Selasa (15/7). Pemeriksaan ini merupakan bagian dari investigasi bersama antara Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional (Bapanas), Satgas Pangan, Kepolisian, dan Kejaksaan, menyusul temuan anomali distribusi beras di pasaran.
Investigasi dilakukan meski produksi padi nasional diklaim tertinggi dalam 57 tahun terakhir, dengan stok mencapai 4,2 juta ton. Berdasarkan hasil pengujian terhadap 136 sampel beras premium, sebanyak 85,56 persen tidak memenuhi standar mutu, 59,78 persen melanggar harga eceran tertinggi (HET), dan 21,66 persen tidak sesuai berat kemasan.
Untuk kategori beras medium, dari 76 merek yang diuji, 88,24 persen tidak sesuai mutu, 95,12 persen melebihi HET, dan 9,38 persen tidak sesuai takaran. Total pelanggaran ditemukan pada 212 merek.
DPR menilai temuan ini sebagai sinyal kuat perlunya reformasi sistem pengawasan pangan. Pemerintah diminta menindak tegas pelaku kecurangan agar kepercayaan publik terhadap distribusi pangan nasional tidak runtuh. (tb)
Dalam Sejarah Dugaan Penyadapan Terungkap, Ketum G-Nesia: Jangan Korbankan Kepercayaan Publik Terhadap Polri
JAKARTA,NEWSREAL.ID – Ketua Umum Gen Emas Indonesia (G-Nesia), Diah Warih Anjari atau yang akrab disapa Diwa, menilai pengungkapan kasus dugaan penyadapan ilegal yang menyeret sejumlah...
Diusulkan, TGPF soal penggeledahan Ponpes Sukoharjo
JAKARTA,NEWSREAL.ID– Anggota Komisi III DPR RI Abdullah mengusulkan pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) independen untuk mencari titik terang terkait penggeledahan di Pondok Pesantren (Ponpes)...
Komnas HAM Desak Pemulihan Psikologis Santriwati Pesantren Sukoharjo
JAKARTA,NEWSREAL.ID – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) meminta pemulihan psikologis bagi santriwati, ustazah, dan balita yang diduga mengalami trauma akibat penggeledahan aparat di...
243 Orang dan 13 Korporasi jadi Tersangka Karhutla, Ini Penjelasan Kapolri
JAKARTA,NEWSREAL.ID– Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Pol Suyudi Ario Seto mengungkapkan sebanyak 243 orang dan 13 korporasi menjadi tersangka dalam kasus kebakaran hutan...
Heboh Temuan Ombusmand RI di Lapas Cibinong, Diah Warih: Keadilan Tak Boleh Mengenal Kasta di Balik Jeruji
JAKARTA,NEWSREAL.ID — Keadilan tidak boleh mengenal kasta, termasuk di balik jeruji besi. Prinsip itulah yang ditegaskan Founder Diwa Foundation Diah Warih Anjari dalam menyoroti hasil...
Temuan Ombudsman dan Kementerian Imipas di Lapas Cibinong Berbeda, Komisi XIII : Harus Diusut Tuntas
JAKARTA,NEWSREAL.ID — Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Sugiat Santoso meminta perbedaan hasil pemeriksaan Ombudsman RI dan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) di Lapas Kelas...
Terkait Proyek Dinas PUTR, KPK Gelar OTT Bupati Bolaang Mongondow Utara
JAKARTA,NEWSREAL.ID– Bupati Bolaang Mongondow Utara Sirajudin Lasena menjadi bupati yang ditarget Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam operasi tangkap tangan (OTT) terkini. Sirajudin terkait dugaan korupsi...
Tersangka Kasus Pedagang Cermin Tewas di Pejompongan Ditetapkan, Diwa: Isu Anggota GRIB Terlibat Hoaks
JAKARTA,NEWSREAL.ID — Misteri kasus meninggalnya pedagang cermin di kawasan Pejompongan memasuki babak baru. Kepolisian telah menetapkan tersangka dalam perkara tersebut. Perkembangan ini sekaligus menjadi penegasan...
Polisi Tetapkan 3 Tersangka Kasus Tewasnya Pedagang Cermin di Pejompongan
JAKARTA,NEWSREAL.ID — Polisi menetapkan tiga orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan kekerasan yang menyebabkan tewasnya pedagang cermin Bambang Setiawan (59) di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat....
Polri Ungkap 72 Tersangka Karhutla, Ditangani Sembilan Polda
JAKARTA,NEWSREAL.ID — Jajaran Polri telah menerbitkan 89 laporan polisi terkait dugaan tindak pidana karhutla di sembilan Polda, yakni Polda Riau, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Jambi,...
Tangis Pilu Anak Terduga Pencuri Ayam yang Tewas Dikeroyok Massa di Tabanan
TABANAN, NEWSREAL.com-Suara tangis seorang bocah perempuan yang terus memanggil ayahnya menjadi potret paling memilukan dari peristiwa pengeroyokan yang menewaskan pria berinisial KD di Banjar Dinas...
DPR Desak Pengusutan Tuntas Dugaan Penyekapan oleh Oknum Polisi di Jateng
JAKARTA, NEWSREAL.id – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI soroti kasus dugaan penyekapan dan penyiksaan terhadap seorang perempuan berinisial M (30), warga Cirebon, Jawa Barat (Jabar)....
