
NEWSREAL.ID, JAKARTA- Sektor kehutanan yang pernah menjadi tulang punggung ekonomi nasional kini dinilai tengah menghadapi masa suram. Para ekonom dan pakar kehutanan menegaskan, tanpa reformasi regulasi dan dorongan investasi, industri ini akan semakin terpuruk dan kehilangan perannya sebagai pengungkit ekonomi.
Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menyebut sektor kehutanan kini sudah masuk kategori sunset industry. Kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) merosot tajam dari 0,7 persen menjadi hanya 0,36 persen.
“Kontribusi investasi domestik hanya sekitar 1 persen, sedangkan investasi asing bahkan cuma 0,02 persen. Padahal kalau dikelola optimal, sektor kayu bisa jadi pengungkit ekonomi,” ujarnya dalam diskusi bertajuk Ketelusuran Industri Kayu Indonesia: Tantangan dan Solusi, Selasa (16/9).
Menurut Huda, meski produksi kayu masih tumbuh, industri pengolahan justru melemah. Sektor gergajian hingga kayu lapis mengalami penurunan, sementara ekspor kayu Indonesia dalam empat tahun terakhir terus melemah, meski sempat melonjak pada dekade sebelumnya.
Pakar kehutanan IPB, Prof. Sudarsono Sudomo, menilai regulasi yang berlaku justru membebani pelaku usaha. Ia mencontohkan penerapan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) yang tidak memberi manfaat nyata bagi petani maupun pengusaha kecil.
“Setiap aturan pasti ada cost. Kalau manfaat lebih besar, itu wajar. Tapi kenyataannya, aturan seringkali lebih mahal daripada manfaatnya. Banyak petani bahkan tidak tahu sertifikat SVLK-nya di mana,” ungkapnya.
Menurun Drastis
Data menunjukkan, sejak 1990 hingga 2023, jumlah perusahaan kehutanan menurun drastis. Dari sekitar 600 unit usaha di hutan alam, kini hanya sekitar 250 yang masih aktif. Menurut Sudarsono, tren ini menandakan bahwa industri kehutanan kehilangan daya tarik dan kalah bersaing dengan sektor lain seperti perkebunan dan perikanan.
Pengamat kehutanan Petrus Gunarso menambahkan, hambatan terbesar investasi di sektor kehutanan adalah regulasi yang rumit dan minimnya jaminan keamanan. “Saat ini dari 34 juta hektare hutan produksi, sebagian besar sudah habis, hanya lahannya yang tersisa. Kementerian Kehutanan lebih fokus memanen kayu ketimbang menanam hutan produksi,” jelasnya.
Sebagai solusi, Petrus mendorong pengembangan hutan desa melalui pemberdayaan masyarakat setempat. Menurutnya, kerja sama lintas kementerian, khususnya antara Kementerian Kehutanan dan Kementerian Desa, perlu diperkuat untuk mendukung program social forestry.
“Kalau mau ada investasi, harus ada penanaman. Dalam 20 tahun, industri kehutanan bisa bangkit kembali kalau kita konsisten menanam,” tegasnya. (ct)
Mendag: Larangan Impor Pakaian Bekas Demi Kesehatan dan UMKM
NEWSREAL.ID, JAKARTA– Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan larangan impor pakaian bekas dilakukan pemerintah untuk melindungi kesehatan masyarakat sekaligus menjaga keberlangsungan pelaku usaha mikro, kecil, dan...
BEI Tunjuk Jeffrey Hendrik sebagai Pjs Dirut
NEWSREAL.ID, JAKARTA– PT Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menunjuk Jeffrey Hendrik sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama. Penunjukan tersebut diputuskan melalui rapat direksi (radir) yang...
Inflasi Januari 2026 Naik Tajam, BPS Ungkap Efek Diskon Listrik
NEWSREAL.ID, JAKARTA- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year-on-year/yoy) pada Januari 2026 mencapai 3,55 persen. Kenaikan tersebut dipengaruhi fenomena low base effect akibat stimulus...
Mudik Lebaran 2026, Pemerintah Siapkan Diskon Tiket dan Tol
NEWSREAL.ID, JAKARTA– Kabar baik buat pemudik. Pemerintah menyiapkan program diskon tiket transportasi hingga tarif jalan tol untuk mendukung mobilitas masyarakat selama libur Ramadhan dan Lebaran...
Perputaran Uang Tambang Emas Ilegal Nyaris Rp1.000 Triliun
NEWSREAL.ID, JAKARTA- Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengungkap besarnya perputaran uang dari aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Indonesia. Dalam periode 2023-2025,...
Purbaya Siap Evaluasi Total Pajak dan Bea Cukai
NEWSREAL.ID, JAKARTA- Target penerimaan negara yang meleset menjadi alarm keras bagi Kementerian Keuangan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan tak akan memberi toleransi jika kinerja...
Oleh-Oleh Haji Kini Bisa Dibeli dari Tanah Air
NEWSREAL.ID, JAKARTA- Tradisi membawa oleh-oleh sepulang haji tak lagi harus bergantung pada belanja di Tanah Suci. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) tengah menyiapkan terobosan digital...
Masuk 2026, Properti Masih Ngebut: Gudang, Industri, hingga Hotel Jadi Andalan
NEWSREAL.ID, JAKARTA- Setelah melewati tahun 2025 yang penuh dinamika, sektor properti nasional tak kehilangan optimisme. Memasuki 2026, sejumlah subsektor diprediksi tetap tumbuh, dengan pergudangan dan...
Komisi VII DPR Puji Industri yang Pakai Bahan Lokal
NEWSREAL.ID, SEMARANG- Industri jamu nasional dinilai punya daya tahan kuat di tengah tantangan global. Komisi VII DPR RI memberikan apresiasi terhadap industri farmasi tradisional yang...
Freeport Siapkan Langkah Perpanjangan Izin di RI
NEWSREAL.ID JAKARTA- Operasi tambang raksasa Freeport di Papua belum mau berhenti dalam waktu dekat. Setelah proyek smelter hampir tuntas, Freeport-McMoRan Inc. mulai membuka bab baru:...
Pipa Bocor, RI Kehilangan 2 Juta Barel Minyak
NEWSREAL.ID, JAKARTA- Awal tahun 2026 diwarnai gangguan serius pada sektor energi nasional. Kebocoran pipa migas di wilayah Sumatra berdampak pada terhentinya aliran gas ke salah...
Menkeu Purbaya Siap Bersih-bersih Pajak
NEWSREAL.ID, JAKARTA- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan tidak ada toleransi bagi oknum internal Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang melakukan pelanggaran. Dengan dukungan penuh Presiden...

